MINGGU BIASA XXIII, HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL
Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33

Melalui doa Salomo, setiap orang disadarkan untuk senantiasa memohon kebijaksanaan dari Allah. Mengapa demikian? Betapapun hebatnya manusia, tidak ada yang dapat mengenali rencana Allah dan memikirkan apa yang dikehendaki Allah secara sempurna: “Manusia manakah yang dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Allah?”. Walaupun manusia dapat memikirkan dan merencanakan segala sesuatu, namun ia harus menyadari bahwa pikirannya sering kali menjadi hina dan pertimbangannya tidak tetap. Sebab manusia dibebani oleh berbagai macam persoalan dan beban hidup. Manusia bahkan sukar untuk menerka apa yang ada di bumi dan dengan susah payah menemukan apa yang ada di tangan. Oleh karena itu, manusia hanya mampu mengenali rencana dan kehendak Allah kalau kepadanya dianugerahkan kebijaksanaan dan Roh Kudus dicurahkan dari Allah. Daya Roh Kebijaksanaan Allah meluruskan lorong manusia di bumi, mengajarkan manusia apa yang berkenan kepada Allah. Maka, oleh Roh Kebijaksanaan Allah manusia diselamatkan.

Banyak orang berduyun-duyun dan sangat antusias untuk mengikuti Yesus. Kepada mereka, Yesus menandaskan tuntutan yang amat tegas tentang panggilan hidup untuk mengikuti Dia. Yesus menandaskan: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Tuntutan Yesus tersebut dipertegas dalam dua perumpamaan atau perbandingan tentang orang yang mau membangun menara dan raja yang mau berperang. Dengan itu, Yesus menuntut bahwa panggilan untuk mengikuti-Nya tidak dapat ditanggapi setengah-setengah. Sikap seperti itu merupakan salah perhitungan yang berakibat tragis. Sebab, menjadi murid adalah panggilan yang menuntut segala-galanya. Hal ini hanya dapat diwujudkan dengan kematangan kebebasan dalam daya Roh Kebijaksanaan Allah. Sebab, tanpa daya Roh Kebijaksanaan Allah manusia tidak akan mampu menanggapi tuntutan Yesus itu untuk mengikuti-Nya secara setia dan utuh.

Paulus sudah menjadi makin tua dan berada di dalam penjara. Di dalam penjara Paulus dilayani oleh Onesimus, seorang budak yang telah mencuri dan melarikan diri dari tuannya yaitu Filemon. Filemon adalah sahabat Paulus yang telah dibaptisnya dan bertahun-tahun membantu Paulus. Paulus telah membaptis Onesimus, maka melalui surat yang ditujukan kepada Filemon, Paulus meminta Filemon untuk menerima kembali Onesimus bukan lagi sebagai budak, melainkan sebagai seorang saudara yang terkasih berkat baptisan yang telah diterima. Baptisan mengubah relasi antara Filemon dan Onesimus sebagai saudara terkasih, jadi mempunyai kedudukan yang setara.

Sejauh mana aku telah membuka diriku seutuhnya bagi daya Roh Kebijaksanaan Allah untuk mengenali rencana dan kehendak Allah bagi diri dan hidupku? Apakah aku telah menanggapi panggilan untuk mengikuti Yesus secara setia dan utuh? Apakah aku selalu berani dan setia untuk memikul salib dan mengikuti Yesus? Apakah aku berani meneladani Filemon, menyangkali diri dan membuka diri seutuhnya bagi rencana dan kehendak Allah?
Mari membuka diriku seutuhnya bagi daya Roh Kebijaksanaan Allah untuk mengenali rencana dan kehendak Allah bagi diri dan hidup kita, sehingga kita berani memikul salib dan mengikuti Yesus secara setia dan utuh.
Tuhan memberkati.*RD AMT