Syering Injil Yohanes 20 : 11 – 18. Kisah Maria Magdalena

Saya sangat tertarik dengan kutipan Injil Yohanes   20 : 15. Kata Yesus kepadanya: ”Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: ”Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Bagiku kisah  Maria magdalena ini sangat  indah, menarik dan simpatik. Bagaimana Maria Magdalena bergegas di pagi-pagi buta, saat alam masih menyimpan senyap  dalam diam. Mungkin Maria Magdalena telah melewatkan malam tanpa mata terpejam dan hati  terkurung dalam ruang rindu yang tak tertahan. Tuhan yang dicintainya telah wafat dan dimakamkan. Masih adakah harapan untuk berjumpa dan menatap-Nya? Saat – saat akhir yang tragis di bukit Golgota, masih melekat erat dalam benak. Hati hancur berkeping-keping  tanpa tersisa apa-apa lagi. Lelah, lelah, lunglai, tanpa daya dan habis. Masihkah ada yang tersisa untuk ditatap dan diratapi?  Hanya cinta yang dapat mengerti dan mendefenisikan dengan jelas tanpa perlu bantahan dan sanggahan.

Rindu itu begitu berat  dan memaksakan kakinya untuk tetap melangkah keluar  dalam kegelapan menuju makam. Cinta mengenyahkan ketakutan namun tidak dapat menyingkirkan duka saat waktu belum tiba untuk menyembuhkan luka. Tidak peduli apa pun yang terjadi, keberanian  berjalan sendirian seperti sebuah persembahan indah untuk yang sangat dicintai. Harapan  nyaris pupus saat mata memandang dari kejauhan, segalanya sudah berubah, tidak seperti kemarin. Makam kosong. Raut wajah panik tak dapat membendung rasa sedih yang  mencuat membungkam ingatan akan  Firman di masa silam. Semua lenyap dalam sekejap, dirampok kesedihan yang mendukakan jiwa. Hanya air mata yang mengalir deras, mengiringi  terbitnya fajar. “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Dia diletakkan (ay 13b).” Sebuah jawaban singkat, nyaris sebagai kesimpulan akhir dari hilangnya yang dicari. “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Siapa  dapat membantu memberi jawaban kepada seseorang yang telah memiliki kesimpulan sendiri  yang merupakan akumulasi dari dugaan karena luka?  Luka karena cinta yang hilang?

Cinta tak pernah membiarkan terlalu lama duka berdiam dalam jiwa. Sebab cinta tak sanggup menahan segalanya untuk yang dicintai.  Menyapa dengan nama ” Maria” telah melenyapkan semuanya dalam waktu secepat kilat. Suara itu, suara Sang cinta. Yang telah terus menggema dalam jiwa dan tidak pernah akan hilang. Aku di sini, di mana kamu mencarinya?

Aku rindu berkisah dalam nuansa romantika perjumpaan, karena bagiku ini  menarik. Magdalena mencari Tuhannya yang hilang dalam  kedukaan yang mendalam. Mencari sampai menemukannya. Hatiku tersentuh dalam keharuan. Apakah hari ini, aku masih bersama Tuhan? Kapan Dia “hilang” dari pandanganku, dari saat-saat berharga dalam keseharianku? Apakah sepanjang waktu aku masih selalu merasakan kehadiran-Nya? Jiwaku pasti tahu pasti jika  semua masih baik-baik saja. Dia hadir. Tetapi, benarkah aku juga ada ketika Dia hadir? Ya…Tuhanku, pribadi yang hidup dan nyata. Namun, aku abaikan dan terlantarkan tanpa merasa bersalah. Aku terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk sekadar menyapa-Nya? Manusia manakah yang akan tetapi menantimu, saat kehadirannya diabaikan dalam waktu yang lama? Aku pun dapat lari terbirit-birit, saat hadirku tak diperhitungkan dan keberadaanku tak diterima.

Seorang Maria Magdalena, tidak pernah ingin kehilangan Tuhannya, sebab dia tahu benar, sangat menyakitkan dan merana sebuah kehilangan. Ini bukan tentang kehilangan sesuatu, benda atau materi atau seseorang yang biasa-biasa, tapi TUHAN. Maria mencari, melampaui batas-batas kekelaman  saat aneka makluk masih nyenyak dan alam diam membisu. Meski harapnya nyaris pupus, tapi cintanya berkobar – kobar. Tuhan mengetahui semua itu, melihat dan  memandang, menyapa dan menatapnya. Sukacita cinta membungkah , tertumpah keluar seiring hadirnya sang fajar yang menandai hari dan hidup baru. Berjumpa  bukan untuk berasyik-asyik dengan curahan kisah untuk didengar Sang Cinta. Menyentuh sedikit saja pun, tidak diperkenankan. Berjumpa untuk diutus berkisah dan bersaksi tentang cinta yang setia menunggu dan menampakkan diri kepada mereka yang dengan sungguh-sungguh mencari. “Aku telah melihat Tuhan”. Dan kamu pun akan melihat TUhan, jika berani menerobos kegelapan dosa dan kepekatan cinta diri, keluar dan menemui Sang Cinta yang menanti.

Pesan cinta untuk diriku : “Jika aku mencari, pasti akan menemukan. JIka aku merasa sendirian dan sepi, pasti aku telah kehilangan Dia. Sebab sukacitaku hanya ada jika DIA  ada dan hadir. Aku harus mencari-Nya, harus berani mencari Dia. Dia ada dan dekat, tidak jauh di sana. Dia tidak pernah bisa dicuri orang lain dan diletakkan di  tempat yang tak terjangkau. Dia ada di sini, di hati. Tapi aku harus mencari-NYa tiap-tiap  hari. Agar perjumpaanku abadi dan Dia tinggal dalam aku dan aku tinggal dalam Dia. Sebab di luar Dia, aku tak dapat berbuat apa-apa.*hm