Mei 1935. Saat Khusus.
Ketika aku menyadari rencana-rencana besar Allah bagiku, aku merasa takut akan keagungan rencana-rencana itu dan merasa sangat tidak mampu untuk memenuhinya. Maka aku mulai menghindari percakapan batin dengan Dia, sambil mengisi waktu dengan doa vokal. Aku melakukan ini terdorong oleh kerendahan hati yang sejati, tetapi lebih merupakan godaan besar dari setan.

Pada suatu kesempatan, sebagai ganti doa batin, aku mulai membaca sebuah buku rohani. Ketika itu aku mendengar kata-kata ini diucapkan secara jelas dan tegas di dalam jiwaku, Engkau akan menyiapkan dunia untuk kedatangan-Ku yang terakhir.

Kata-kata ini sangat menyentuh hatiku, dan meskipun aku berpura-pura tidak mendengarnya, aku sungguh memahaminya dan tidak mempunyai keragu-raguan nengenai hal itu. Pernah, karena keletihan akibat pergulatan kasih dengan Allah ini, dan karena terus-menerus mencari dalih dengan alasan bahwa aku tidak mampu melaksanakan tugas ini, aku ingin meninggalkan kapel. Tetapi suatu kekuatan menarik aku kembali dan aku merasa tidak berdaya.

Kemudian aku mendengar kata-kata ini, Engkau bermaksud meninggalkan kapel, tetapi tidak akan mampu meninggalkan Aku karena Aku ada di mana-mana. Dari dirimu sendiri engkau tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi bersama-Ku engkau dapat mengerjakan segala sesuatu. BHF 429

Ketika Faustina menyadari rencana-rencana besar Allah baginya, reaksi pertamanya bukanlah kegembiraan, melainkan takut. Ia merasa kecil, tidak mampu, dan gentar menghadapi keagungan rencana Allah itu. Perasaan ini begitu manusiawi. Bukan penolakan terhadap Allah, tetapi kegentaran karena merasa diri tidak sepadan.

Yang menarik bagiku, Faustina menyadari bahwa sikap menghindar yang ia lakukan—menjauh dari doa batin dan menggantinya dengan doa vokal—tampak seperti kerendahan hati, tetapi ternyata menjadi celah bagi godaan. Ia merasa tidak mampu, dan dari perasaan itu muncul keinginan untuk menghindar. Di sinilah aku merasa sangat dekat dengan pengalaman Faustina.

Bukankah pengalaman seperti ini juga sering kita alami? Ketika Tuhan seolah hendak mempercayakan sesuatu—sebuah tugas, tanggung jawab, atau perutusan—ada dua reaksi yang bisa muncul. Kadang kita mau karena merasa mampu, percaya diri, dan merasa cocok. Tetapi ada juga saat ketika kita justru ingin mundur karena merasa “ini bukan kemampuanku”. Dalam situasi seperti ini, ada garis yang sangat halus, tipis antara kerendahan hati sejati dan penolakan halus karena takut. Faustina akhirnya menyadari bahwa rasa “tidak mampu” itu bisa menjadi tempat belajar mengandalkan Allah, tetapi juga bisa berubah menjadi alasan untuk menolak. Di sinilah pergumulan kebebasan batin terjadi.

Jika Tuhan sungguh menghendaki sesuatu, cepat atau lambat kehendak-Nya akan terlaksana. Yang sering dibutuhkan hanyalah waktu dan proses, sampai hati benar-benar siap untuk berserah dan menerima kehendak Allah. Bagiku, kisah ini mengingatkan bahwa usaha menghindar, dalih, dan alasan-alasan manusiawi tidak banyak berarti di hadapan Allah. Seperti Faustina, aku pun belajar bahwa jalan yang paling jujur adalah berjuang dalam doa, lalu datang menyerahkan diri sepenuhnya. Aku teringat pergumulan Yesus di Taman Getsemani—ada ketakutan, ada pergulatan, tetapi akhirnya ada penyerahan.

Pengalaman Faustina ini terasa sangat nyata dan dekat. Ia dicatat bukan untuk mengajar dan mengingatkanku yg ssdang belajar berjuang melaksanakan kehendak Allah dalam keterbatasan. Jika Tuhan memilih, Dia juga yang akan melengkapi—dengan cara dan waktu-Nya sendiri. Seperti yang dialami Faustina, ada suatu kekuatan yang membuatnya tidak mampu menolak.

Hari ini aku belajar: merasa tidak mampu bukan akhir segalanya. Bisa jadi, justru di sanalah awal ruang bagi Allah untuk berkarya. Tetap terus mengandalkan Allah meski harus bergulat. Pada akhirnya, kehndak Allah harus dimenangkan dan Allah akan memenangkan hati kita untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Yesus, Engkau andalanku.