Bersyukur kepada Allah
Ketika aku masuk ke kapel sejenak pada petang untuk bersyukur kepada Allah karena segala rahmat yang telah Ia berikan kepadaku di rumah ini (di kota Vilnius), tiba-tiba kehadiran Allah melingkupi aku. Aku merasa seperti seorang anak dalam pelukan bapak yang paling baik, dan aku mendengar kata-kata ini, “Jangan takut akan suatu pun. Aku senantiasa menyertaimu.” Kasih-Nya meresapi seluruh diriku. Aku merasa bahwa aku sedang menjalin kesatuan yang sedemikian mesra dengan Dia sehingga aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk mengungkapkannya. (BHF 629)
Saya sangat tertarik dengan pengalaman Faustina yang ketika masuk ke kapel sejenak pada petang untuk bersyukur kepada Allah karena segala rahmat yang telah Ia berikan,…Suatu sikap dan tata laku saleh, masuk ke kapel sejenak untuk bersyukur dengan iman, bahwa Tuhan hadir di kapel ( bersemayam dalam tabernakel). Kisah ini mengingatkan saya, akan suatu kebiasaan atau tradisi suci di biara di mana para biarawan atau biarawati yang kalau mau pergi keluar atau pulang kembali ke biara, “pergi ke kapel sekedar berpamitan dengan Tuhan Yesus dna setelah pulang, semacam melapor dan bersyukur.
Awal mula hidup membiara, saya cukup tertib berpamitan dan bersyukur kepada Tuhan di kapel sejenak, karena memang kami tinggal seatap dengan Tuhan Yesus, ( kapel dan biara yang menyatu). Entah sejak kapan sudah cukup lama, saya sudah abaikan tradisi yang bagus ini. Sudah lama keluar masuk biara, bepergian dekat atau jauh, lama atau cepat, jarang sekali berpamitan dan bersyukur. Membaca BHF 629, saya merasa sungguh diingatkan dan disapa secara sangat halus melalui kisah Faustina. Bahkan ketika masih kecil, dulu di kampung, oleh pastor misionaris SVD, sebagai anak-anak kami diajar kalau berjalan lewat atau melintas depan gereja, harus tunduk kepala atau berhenti sejenak untuk doa dalam hati. Saya lupa doanya sudah berpuluh tahun lalu, bahkan kalau sedang berada dalam kendaraan , lewat di depan Gereja ,dalam hati menyapa Tuhan dan berkata “terima kasih Tuhan. Entah, setelah sekian puluh tahun, hari ini semua kisah itu terlintas dalam benakku. Bagiku, ini sebuah undangan yang menyapa aku untuk kembali mempraktekkan sebuah sikap syukur.
Ada berbagai macam cara dan bentuk ungkapan syukur pada Tuhan. Ada yang melalui seruan syukur secara verbal yang dapat didengar.”Puji Tuhan”, “terima kasih, Tuhan”,dll. Ada yang mengungkapkan syukur melalui nyanyian pujian dan syukur. Ada yang melalui intensi dan ujud dalam Ekaristi. Ada yang mengundang orang lain merayakan syukur dalam doa atau pesta. Ada yang melalui karya amal bakti sesaat atau berkelanjutan. Semuanya baik adanya dan menyenangkan Tuhan.
Tetapi hari ini, saya diingatkan untuk bersyukur dengan suatu sikap batin dan tata gerak yang “sejenak menyapa Tuhan, masuk dalam kediaman-Nya, memandang-Nya dan mengucap syukur. Suatu tindakan sederhana namun bisa menjadi suatu olah kesalehan hidup yang tercermin dari sebuah sikap. Sikap batin tak terlihat, namun dapat terjelma dalam sikap lahiriah, sikap tubuh, sikap hormat, bakti. Suatu sikap yang khusuk.
Faustina mengalami kehadiran Allah melingkupinya dan merasakan kasih Allah sebagai Bapa, saat masuk sejenak ke kapel untuk bersyukur.
Saya merenung, kadang doa-doa dan perayaan liturgi yang dirayakan hambar, hampa. Bisa jadi karena sya terjebak dalam rutinitas yang sudah terpola sekian waktu. Minimnya sikap hormat bakti lahiriah yang mencerminkan sikap hati. Barangkali Saya kurang sesuatu yang personal yang menjadi kekhasan diriku dalam membangun relasi dengan Allah Antara lain , sikap-sikap doa, tata gerak dan tingkah lakuku yang terlalu biasa, kurang intens dan menyentuh rasa. Sikap seorang hamba di hadapan Tuannya yang kurang berkembang atau telah kuabaikan.
Sungguh saya sangat bersyukur, hari ini Tuhan menjamah perasaan dan hatiku untuk kembali menata sikap hati, sikap lahiriah yang lebih pantas dan intens dengan Tuhan, sebagai suatu ungkapan syukur yang tidak kalah pentingnya dengan ungkapan-ungkapan lainnya.
Terima kasih Faustina atas teladan dan sapaanmu hari ini. Mulai hari ini, ingatkan aku untuk selalu datang pada Tuhan sejenak untuk bersyukur dalam keadaan apa pun..semoga juga pengalaman baik di masa lalu hidup kembali dalam diriku dan menjadi bagian dari ungkapan syukurku atas kasih karunia dan kerahiman Allah bagiku.
Yesus, Kau andalanku. *hm
Recent Comments