Hampir setiap pesta Gereja memperdalam pengetahuanku tentang Allah dan memberikan rahmat istimewa kepadaku. Oleh karena itu, untuk setiap pesta, aku selalu mempersiapkan diri sungguh-sungguh dan menyatukan diri erat-erat dengan roh Gereja. O betapa aku mengasihi Gereja kudus dan semua anggotanya! Aku memandang mereka sebagai anggota yang hidup dari Kristus yang adalah Kepalanya. Hatiku bernyala-nyala karena kasih akan mereka yang mengamalkan kasih. Aku menderita bersama mereka yang menderita. Tenagaku habis terserap duka ketika menyaksikan mereka yang dingin dan tak tulus terima kasih. Dan, kemudian aku berusaha mendapatkan kasih dari Allah sedemikian rupa sehingga akan mengubah hati mereka yang tidak mengasihi Dia, mereka yang secara amat menyedihkan menghujani Juru Selamat mereka dengan sikap tak tahu terima kasih . BHF 481
“Aku berusaha mendapatkan kasih dari Allah sedemikian rupa sehingga akan mengubah hati mereka yang tidak mengasihi Dia…”
Kalimat ini sungguh menarik hatiku. Faustina tidak berhenti pada rasa prihatin melihat jiwa-jiwa yang dingin dan tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan, tetapi justru memilih jalan yang lebih dalam yakni ia mencari kasih dari Allah, agar kasih itu sendiri yang bekerja dan mengubah hati mereka.
Sungguh betapa dalamnya cinta Faustina kepada Gereja. Ia tidak melihat Gereja hanya sebagai sebuah persekutuan lahiriah, apalagi sebagai gedung yang megah, tetapi terutama sebagai Tubuh Kristus yang hidup. Setiap jiwa adalah anggota Gereja yang dikasihi. Maka ketika ada yang mengasihi Tuhan, hatinya bernyala-nyala. Tetapi ketika ada yang dingin, tidak tulus, bahkan melukai Tuhan dengan ketidakpedulian, Faustina ikut merasakan luka itu. Cinta seperti ini bukan cinta yang biasa. Ini adalah cinta yang membuat hati menjadi satu dengan hati Kristus. Cinta yang tidak memilih siapa yang layak dikasihi, tetapi justru semakin menyala ketika melihat yang lemah, yang jauh, yang tidak tahu membalas kasih. Bolehlah aku dapat katakan cinta khas Kerahiman Ilahi.
Aku merenung diri, apakah aku memiliki hati seperti ini? Jujur, masih jauh dari yang seharusnya dan penuh perjuangan. Aku bahkan juga malu sendiri ketika membaca SKR hari ini bagaimana Faustina menaggapi setiap Pesta Gereja yang dirayakan. Tidak sekedar merayakan tapi terutama hatinya yang bersatu dengan Gereja sebagai persekutuan. Sementara rasanya aku merayakan berbagai pesta Gereja entah dalam bentuk Hari Raya, pesta, peringatan atau peringatan fakuktatif dalam liturgi Gereja, biasa-biasa saja. Hanya beberapa HR atau pesta tertentu. Itu pun kalau ada ujud dan pelindung tertentu. Saya belum sampai pada penghayatan yang membutuhkan persiapan batin, karena kasih akan Gereja, dan menghayati persekutuan kasih.
Hari ini Faustina mengajarkanku bahwa mencintai Gereja berarti mencintai semua anggotanya, terutama Gereja yang sedang berjuang di dunia ini, jiwa-jiwa dalam keadaan apa pun. Bukan hanya yang baik, tetapi juga yang rapuh dan jauh dari Tuhan. ( Saya sedikit ingat kalau tidak keliru tentang : gereja yang bahagia itu para kudus di surga, dan Gereja yang malang, jiwa-jiwa di api penyucian). Tampak Faustina mencintai semuanya. Yang sudah berbahagia dijadikan teladan, yang malang didoakan, yang sedang berjuang diupayakannya memperoleh kasih Allah bagi mereka.
Bagiku, ini misi Kerahiman Ilahi seperti yang terungkap dalam karya kerahiman Ilahi jasmani dan terutama yang rohani. Faustina melangkah masuk ke dalam misinya membawa semua jiwa dalam pelukan Gereja kepada Allah. Ia berusaha mendapatkan kasih dari Allah, supaya kasih itu mengalir dan menjangkau jiwa-jiwa yang tidak mengasihi. Ia sadar bahwa mengubah hati bukanlah kuasanya, tetapi kuasa rahmat Allah. Ini menyentuhku hatiku bahwa tugasku bukan mengubah orang lain dengan kekuatan sendiri, tetapi menjadi saluran kasih Allah bagi mereka. Membiarkan hati dipenuhi kasih-Nya, lalu menghadirkannya bagi sesama.
Aku merenung, sering aku ingin melihat perubahan secara cepat pada orang lain. Aku ingin mereka mengerti, berubah, menjadi lebih baik. Tetapi hari ini aku belajar dari Faustina bahwa jalan Tuhan berbeda. Ia mengajak untuk terlebih dahulu mencari kasih-Nya, tinggal di dalam kasih itu, dan dari sanalah kasih itu bekerja, bahkan dalam cara yang tidak terlihat.
Mengasihi Gereja, berarti berani ikut merasakan., berempati, Ikut menderita bersama yang menderita. Ikut membawa dalam doa mereka yang jauh. Dan dengan setia, dalam cara-cara sederhana, menghadirkan kasih Allah bagi siapa pun yang ditemui. Aku mau terus belajar seperti Faustina. Tidak tinggal dalam penilaian, apalagi menghakimi tetapi masuk dalam perutusan. Tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi bersandar pada rahmat Allah. Sebab hanya kasih dari Allah yang mampu menjamah dan mengubah hati manusia. Faustina, doakan aku, supaya hatiku tetap menyala oleh kasih sehingga boleh mencintai Gereja dengan tulus, supaya aku setia mengambil bagian dalam misi KI.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments