Melihat pengurbanan dan usaha-usaha Pastor Sopoćko untuk karya ini, aku kagum akan kesabaran dan kerendahan hatinya. Ini menuntut banyak pengurbanan dari dia, bukan hanya dalam wujud kerja keras dan aneka gangguan, tetapi juga uang; biarpun demikian, Pastor Sopoćko menanggung semua pengeluaran. Aku dapat melihat bahwa Penyelenggaraan ilahi telah mempersiapkan dia untuk melaksanakan karya kerahiman ini sebelum aku memintanya dari Allah. Oh, betapa mengherankan jalan-jalan-Mu, ya Allah! Dan betapa bahagianya jiwa-jiwa yang mengikuti panggilan rahmat ilahi! (BHF 422)

Merenungkan kisah hari ini, aku sungguh terkesan oleh kekaguman Faustina akan Penyelenggaraan Ilahi yang bekerja nyata dalam seluruh Karya Kerahiman Ilahi. Faustina menulis dengan sangat jujur dan rendah hati: “Aku dapat melihat bahwa Penyelenggaraan ilahi telah mempersiapkan dia untuk melaksanakan karya kerahiman ini sebelum aku memintanya dari Allah.” Kalimat ini begitu menyentuh hatiku. Faustina melihat dengan jelas bahwa Allah sendiri yang lebih dahulu bekerja, mempersiapkan orang-orang-Nya, membuka jalan, dan menuntun prosesnya.

Dalam diri Pastor Sopoćko, Faustina menyaksikan kesabaran, kerendahan hati, pengorbanan, bahkan penderitaan yang nyata—bukan hanya tenaga dan waktu, tetapi juga materi. Namun semua itu dijalani dengan setia. Faustina pun sadar: ia tidak sendirian. Sejak awal, ini bukan karyanya, melainkan karya Allah sendiri. Allah yang memulai, Allah yang mempersiapkan, Allah yang menyelenggarakan. Faustina dan Pastor Sopoćko hanyalah abdi-abdi kecil yang mau mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya.

Seruan Faustina ini menjadi doa hatiku hari ini: “Oh, betapa mengherankan jalan-jalan-Mu, ya Allah! Dan betapa bahagianya jiwa-jiwa yang mengikuti panggilan rahmat ilahi.” Merenungkan semua ini, aku merasa diteguhkan. Bukankah demikian juga cara Allah bekerja dalam hidupku dan hidup kita semua? Allah selalu lebih dahulu berinisiatif. Ia menyiapkan orang-orang, peristiwa, dan sarana, sering kali jauh sebelum aku menyadarinya. Tugasku hanyalah membuka hati: mendengarkan, berdoa, meminta, dan bersedia ikut ambil bagian—sesuai porsiku. Saat menoleh ke belakang untuk sejenak melihat perjalanan hidupku, aku melihat begitu banyak hal yang tampak mustahil secara manusiawi, tetapi semuanya terjadi seturut kehendak Allah. Hari ini, kisah Faustina mengajariku untuk semakin bersyukur, menyadari karya agung Penyelenggaraan Ilahi yang terus bekerja, bahkan melalui hal-hal kecil dan sederhana yang dipercayakan kepadaku demi jiwa-jiwa.

Aku juga disadarkan bahwa Allah tidak hanya menghadirkan orang-orang untuk menolongku, tetapi pada saat-saat tertentu, aku pun dipakai Allah sebagai alat-Nya bagi orang lain. Betapa indahnya rancangan-Nya. Aku terharu menyadari saat ini, bagaimana mungkin kita dapat berjalan bersama dalam SKR ini , sampai sejauh ini, sampai hari ini —saling belajar, saling diteguhkan—tanpa saling mengenal sebelumnya, jika bukan karena karya rahmat Allah? Aku semakin yakin bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang baik, bahkan agung, bagi kita semua. Dan pasti setiap kita pun sedang merasakannya. Sungguh indah dan ajaib penyelenggaraan Ilahi bagi kita.

Aku meminjam ungkapan Faustina yang hari ini begitu hidup bagiku sebagai sebuah doa:“Oh, betapa mengherankan jalan-jalan-Mu, ya Allah, dan betapa bahagianya jiwa-jiwa yang mengikuti panggilan rahmat Ilahi.” Jiwaku hanya tinggal bersyukur dan belajar membuka diri, agar sekecil apa pun gerak rahmat-Nya, dapat kutangkap dan kujalani seturut kehendak-Nya. Sebab pasti Allah sedang melakukan karya-Nya.Semua ini terjadi semata-mata karena kerahiman dan kebaikan-Nya. Aku bersyukur dan terus bersyukur. Yesus, Engkau andalanku.