Oh, betapa manisnya bekerja keras untuk Allah dan untuk jiwa-jiwa! Dalam pergulatan ini, aku tidak akan beristirahat, tetapi aku akan berjuang sampai napas terakhir demi kemuliaan Rajaku dan Tuhanku. Aku tidak akan meletakkan pedangku sampai Ia memanggil aku menghadap takhta-Nya; aku tidak takut akan pukulan sebab Allah adalah perisaiku. Justru musuhlah yang harus takut akan kami, dan bukan kami takut akan dia.
Setan hanya mengalahkan orang yang sombong dan pengecut sebab orang yang rendah hati itu kuat. Tidak ada sesuatu pun yang akan mengacaukan atau menggentarkan jiwa yang rendah hati. ku telah mengarahkan perjuanganku tepat ke pusat panasnya matahari dan tidak ada suatu pun yang dapat menghambat lajunya. Kasih tidak akan membiarkan diri terbelenggu; ia bebas laksana seorang ratu. Kasih pasti mencapai Allah. ( BHF 450b)
“Betapa manisnya bekerja keras untuk Allah dan jiwa-jiwa.” Kalimat yang bagus, indah, dan inspiratif. Membaca dan merenung kisah Faustina ini menyentuh relung hatiku terdalam. Ya… sungguh, panggilan hidupku ini seperti itu: bekerja keras untuk Allah, membawa jiwa-jiwa kepada Allah agar beroleh keselamatan. Saya merenung, sungguhkah saya bekerja keras? Seperti apa saya menamai bekerja keras? Sudahkah dengan segenap kemampuanku, tenaga, bakat, dan kemampuanku yang kugunakan secara maksimal? Kalau sungguh sudah bekerja keras, saya merenung: benarkah semua usaha dan kerja kerasku adalah untuk Allah dan jiwa-jiwa? Apa tanda atau buktinya?
Aku merasa dicerca dengan aneka pertanyaan reflektif yang mau tidak mau membuat saya harus masuk dalam diriku, memeriksa batin dan menelusuri perjalanan hidupku. Bolehlah aku dengan percaya diri berkata: iya… aku bekerja untuk Allah dan jiwa-jiwa. Aku mempersembahkan diriku pada-Nya. Aku rela pergi ke tempat jauh, melakukan sesuatu yang sulit. Aku rela belajar banyak supaya memberi banyak dan lebih banyak melayani untuk banyak orang.
Sungguhkah semua itu untuk Allah? Apa tandanya?
Bukankah ketika pekerjaanku kurang dihargai atau tidak mendapat ucapan terima kasih, aku merasa kecut hati? Bukankah saat aku dengan sangat bersemangat namun tidak mendapat respon baik dari orang yang kulayani, lalu aku kecewa, menyerah, dan tidak mau lagi? Bukankah saat ditolak aku menjadi marah atau sedih? Kadang kalau terlalu sulit untuk ukuranku atau tidak sesuai dengan keinginanku, aku menghindar? Ah… banyak sekali yang berseliweran dalam hatiku saat pertanyaan itu masuk dalam kedalaman batinku. Sungguhkah sudah bekerja untuk Tuhan?
Ya… aku melihat semuanya dan merasakan semuanya. Dan aku berani berkata, Tuhan… aku telah melakukan semuanya, tetapi tidaklah murni. Semuanya seperti selalu ada cacat. Jadi… untuk siapa aku lakukan semuanya itu? Barangkali lebih banyak untuk melayani kesenangan diriku, kepentingan diriku, dan kebahagiaanku.
Sungguhkah Engkau dimuliakan dalam dan melalui kerja kerasku? Tuhan… Engkau mengetahuinya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi-Mu. Ampunilah aku, orang berdosa ini, yang selalu mencuri kemuliaan-Mu dan selalu saja menyisihkan, menyembunyikan sedikit-sedikit untuk kehormatan dan keselamatan diriku. Tuhan… Tuhan…Hari ini Faustina mengajakku masuk dalam diriku. Bukan menghitung upaya dan kerja kerasku yang barangkali tidak kalah dari orang lain. Aku diajak untuk melihat motivasi dasar segala hal yang kulakukan dan tujuannya.
Aku ingat madah kasih dalam Korintus 13, salah satunya berbunyi : sekalipun aku menyerahkan tubuhku untuk dibakar, jika tanpa cinta kasih, semuanya tidak berguna. Aku menangkap seluruh isi kisah Faustina hari ini untukku. Memang sungguh masih boleh bekerja keras untuk Allah dan jiwa-jiwa, asalkan landasannya adalah cinta. Cinta akan Allah dan jiwa-jiwa.
Jika bukan karena cinta, aku pengecut, pecundang, penipu. Aku menipu diriku sendiri. Merasa sudah melakukan segalanya untuk Tuhan dan jiwa-jiwa, tetapi ternyata jika diselidiki batin dan hatiku, semuanya jelas di mata Tuhan. Tetapi siapakah aku ini? Yang meski sedemikian hina dan model seperti ini, masih menikmati hidup, masih memiliki segalanya, diperkenankan melakukan segala sesuatu. Bagaimana mungkin? Ya… sungguh mungkin karena KASIH KERAHIMAN ALLAHKU yang memapah, mengukuhkan, menyokong, dan melingkupi aku sepenuhnya, seutuhnya. Kalau selama ini aku bisa melakukan sesuatu, apalagi dikatakan bekerja keras untuk Tuhan dan jiwa-jiwa, sungguh bukan karena aku, tetapi tangan Tuhan yang melakukannya.
Semua kisah ini membuat aku mengerti sekali lagi dan mengakui: benar adanya, cinta sejati, cinta ilahi tidak bertumbuh tanpa kerendahan hati. Jika tidak rendah hati, semua yang kulakukan—apa pun nama dan bentuknya—semuanya tidak ada nilainya. Kasih itu bagaikan ratu, kata Faustina, dan pasti mencapai Allah. Rendah hati itu ibu dari segala keutamaan. Kesombongan itu akar segala dosa dan penghalang utama untuk memuliakan Allah.
Sampai di sini aku hanya dapat terdiam dan merenung. Sudah sejauh ini pun aku tetap dikasihi dengan kasih yang tak dapat kumengerti.
Kalau aku bisa mempersembahkan waktuku, hidupku, dan semua yang ada padaku—yang besar, kecil, mudah atau sukar—kepada Tuhan, sungguh bukanlah suatu pencapaian apalagi suatu kesuksesan. Bukan. Ini hanya sekadar ungkapan syukur atas semua rahmat dan cinta kasih kerahiman yang istimewa dari Tuhan yang selalu dianugerahkan kepadaku dengan cuma-cuma. Tuhanku dan Allahku… aku tidak tahu mengukur segala daya upaya dan kerjaku. Engkau tahu isi hatiku dan aku tahu aku dicintai. Itu sudah cukup.
Andaikan berkenan pada-Mu, terpujilah nama-Mu selamanya. Jika tidak, ampuni aku, sembuhkan.aku sebab aku telah berdosa terhadap Engkau.
Sebab Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments