MINGGU PRAPASKAH IV
1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41
Minggu Prapaskah keempat disebut juga MINGGU LAETARE atau MINGGU SUKACITA. Sukacita karena penghiburan dari Allah. Oleh karena itu pertobatan yang kita bangun bukan menjadi beban melain sukacita karena kita boleh melihat dan mengalami kasih Allah dalam diri Kristus yang adalah TERANG DUNIA. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita melihat bagaimana Allah memanggil kita keluar dari kegelapan menuju terang, dari kebutaan menuju penglihatan, dari penampilan luar menuju hati yang murni.
Kitab pertama Samuel mengisahkan bahwa setelah Saul ditolak, Allah menyuruh Samuel untuk pergi ke Betlehem, ke rumah Isai untuk mengurapi salah seorang putera Isai menjadi raja. Ketika melihat putera-putera Isai, Samuel menjadi terpesona karena ia memakai ukuran duniawi bagi raja yang akan diurapinya. Keterpesonaan Samuel dengan ukuran-ukuran duniawi itu ditolak oleh Allah. Untuk itu, Samuel membutuhkan ketajaman mata batin supaya dapat melihat seperti yang dilihat dan dikehendaki oleh Allah. Namun demikian, Samuel tidak segera mendapatkan kemampuan itu. Berkat tuntunan Allah, kesadaran batin Samuel berkembang. Samuel mendapat kemampuan dari Allah untuk melihat seperti yang dilihat oleh Allah, yakni yang lebih dalam sesuai dengan dan rencana kehendak Allah dalam diri Daud, anak bungsu Isai. Ketajaman mata batin Samuel untuk melihat seperti yang dilihat oleh Allah amat menentukan bagi perwujudan rencana dan kehendak Allah. Sejak diurapi, Roh Tuhan berkuasa atas Daud, raja pilihan Allah itu. Roh itu menggerakkan dan membimbing Daud untuk melaksanakan tugas dalam rencana dan kehendak Allah sebagai raja dengan penuh tanggung jawab. Ketajaman mata batin untuk melihat dalam rencana dan kehendak Allah inilah yang harus menjadi sikap dasar yang harus dikembangkan setiap orang pilihan Allah.
Kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir yang dikisahkan oleh Yohanes sangat menarik untuk kita renungkan. Sangat menarik bahwa orang buta itu tidak meminta atau dipintakan oleh orang lain agar ia bisa melihat. Yesus sendirilah yang melakukannya untuk si buta itu. Tindakan Yesus membuat orang yang buta sejak lahirnya itu dapat melihat merupakan pemenuhan dari apa yang dikatakan-Nya: “Akulah terang dunia”. Penyembuhan orang buta ini terjadi lewat tindakan Yesus meramu lumpur dengan ludah dan persyaratan mandi di sebuah kolam. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabat. Penegasan dan tindakan Yesus ini mengingatkan orang akan terang yang diciptakan Allah pada awal karya penciptaan (Kej 1:3-5). Terang yang diciptakan oleh Allah pada awal karya penciptaan itu menjadi dasar bagi hari-hari penciptaan selanjutnya. Pada hari keenam manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:27-31), artinya menjadi sempurna. Penciptaan dan pemberkatan manusia ditampilkan sebagai karya penciptaan yang paling besar dan paling akhir. Karena itu, pada hari ketujuh Pencipta beristirahat. Dengan menegaskan diri Yesus sebagai “terang”, Yohanes bermaksud menampilkan Yesus sebagai awal karya penciptaan yang melandasi kejadian selanjutnya sampai ke penciptaan manusia yang utuh. Dalam diri orang yang buta sejak lahir itu karya penciptaan juga menjadi nyata: kegelapan, kebutaan sejak awal, digantikan dengan terang penglihatan dalam perjumpaan dengan Sabda Ilahi itu sendiri, yakni Yesus Kristus sang Terang Dunia. Berkat perjumpaan dengan Yesus Kristus, sang Terang Dunia, orang yang buta sejak lahirnya itu memperoleh penglihatannya dan menjadi manusia yang layak, bukan lagi si buta peminta-minta.
Paulus mengingatkan jemaat Efesus bahwa sebelum percaya kepada Kristus, mereka adalah anak-anak kegelapan. Karena itu mereka hidup dalam kegelapan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan membinasakan. Berkat kepercayaan mereka kepada Kristus, mereka disebut sebagai anak-anak Terang. Sebagai anak-anak Terang, Paulus menasehati mereka untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka yang baru dan menghasilkan buah kebaikan, keadlian, dan kebenaran.
Apakah hidup dan imanku telah menjadi sebuah sukacita besar? Sejauh mana Kristus telah menjadi terang bagi hidupku, dan hidupku telah menjadi terang bagi sesamaku di dunia ini? Bagaimana keterbukaan hatiku untuk mendapat kemampuan dari Allah, melihat seperti yang dilihat oleh Allah dalam mewujudkan segala rencana dan kehendak-Nya? Apakah hidupku sebagai orang Katolik sudah menghasilkan buah kebaikan, keadlian, dan kebenaran?
Bacaan-bacaan Minggu Prapaskah IV mengingatkan kita: Allah memilih Daud karena hatinya, Yesus menyembuhkan orang buta karena imannya, dan Paulus menegaskan kita adalah anak-anak terang. Mari kita keluar dari kebutaan rohani dan berjalan dalam terang Kristus, sehingga hidup kita menjadi kesaksian nyata: “Sekali aku buta, tetapi sekarang aku dapat melihat.”
Mari MEWUJUDKAN PERTOBATAN UNTUK HIDUP DALAM SUKACITA ALLAH, TERANG HIDUP KITA, MENGHASILKAN BUAH KEBAIKAN, KEADLIAN, DAN KEBENARAN.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments