SELASA, OKTAF PASKAH
Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5,18-19,20,22; Yoh 20:11-18.
Kita masih berada dalam sukacita Paskah. Hari ini, bacaan suci membawa kita pada pengalaman yang sangat personal: bagaimana kebangkitan Kristus menyentuh hati manusia secara personal dan mendalam.
Hari ini kita mendengar kisah Maria Magdalena yang menangis di depan kubur Yesus. Ia merasa kehilangan, penuh duka, dan tidak tahu harus ke mana. Namun dalam tangisan itu, Yesus yang bangkit menampakkan diri dan memanggil namanya: “Maria!” Seketika matanya terbuka, hatinya dipenuhi sukacita, dan ia menjadi saksi pertama kebangkitan. Dari air mata lahirlah pengharapan, dari kehilangan lahir perutusan. Kepada para murid Yesus, Maria Magdalena pergi dan memberi kesaksian penuh sukacita: “Aku telah melihat Tuhan”. Tentu saja ini bukalah pengalaman melihat hanya dengan mata fisik. Amat menarik bahwa Maria dapat melihat Yesus setelah ia dikenali dan disapa secara pribadi, dengan namanya. Pengalaman melihat dan berjumpa dengan Yesus itu lalu mengubah dan meninggalkan keyakinan yang tidak dapat dihapus oleh waktu, tidak digoyangkan oleh pertentangan. Semua orang yang melihat dan berjumpa dengan Yesus secara personal bahkan berani mengorbankan hidupnya untuk memberi kesaksian tentang kebenaran itu.
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menegaskan bahwa kebangkitan Yesus adalah karya Allah yang nyata. Petrus berkata: “Allah telah menjadikan Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Mendengar pewartaan itu, banyak orang bertobat. Kepada orang-orang yang mendengarkannya dan bertanya kepadanya Petrus secara amat tegas menandaskan: “Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu; maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Jalan keselamatan adalah tobat, percaya akan nama Yesus! Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa, melainkan panggilan untuk hidup baru.
Mazmur hari ini menggemakan keyakinan itu: “Tuhan menjaga orang yang takut akan Dia, yang berharap akan kasih setia-Nya.” Allah hadir di tengah kesesakan, memberi harapan, dan menuntun kita kepada hidup yang penuh sukacita.
Apakah aku telah melihat Tuhan? Apakah aku telah mengalami disapa oleh Tuhan secara pribadi? Apa dan bagaimana daya sapaan Tuhan itu bagi kehidupan imanku?
Kisah Maria Magdalena adalah cermin bagi kita. Kita pun sering menangis di “kubur” kehidupan: kehilangan orang yang kita kasihi, menghadapi kegagalan, atau merasa putus asa. Namun kebangkitan Kristus mengingatkan bahwa tangisan bukanlah akhir. Allah memanggil kita dengan nama, memberi penghiburan, dan menuntun kita kepada hidup baru. Seperti Maria, kita dipanggil untuk bangkit dari kesedihan dan menjadi saksi sukacita kebangkitan. Bacaan hari ini mengingatkan: iman bukan sekadar tradisi, melainkan relasi pribadi dengan Kristus yang hidup. Ia memanggil kita dengan nama, Ia mengetuk hati kita, Ia mengubah air mata menjadi sukacita.
Mari membuka diri dan mata batin kita untuk melihat kehadiran Tuhan di dalam setiap peristiwa hidup kita. Mari membiarkan diri kita dibarui oleh Tuhan dalam jalan pertobatan yang membangun iman kita.
“Kristus yang bangkit memanggil kita secara pribadi, mengubah air mata menjadi sukacita, dan menggerakkan hati untuk hidup baru dalam kebenaran”.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments