Aku akan bersyukur kepada Tuhan Yesus atas setiap penghinaan dan akan berdoa khususnya bagi orang yang telah memberiku kesempatan untuk direndahkan. Aku akan mengurbankan diriku sendiri demi kebaikan jiwa-jiwa. Aku tidak akan nemperhitungkan setiap pengurbanan. Aku akan menempatkan diriku di bawah kaki para suster, ibarat suatu karpet yang tidak hanya dapat mereka injak, tetapi juga dapat membersihkan debu kaki mereka. Tempatku adalah di bawah kaki para suster. Tanpa diperhatikan oleh orang-orang lain, aku akan melakukan setiap usaha untuk memperoleh tempat itu. Cukuplah kalau hanya Tuhan yang melihatnya. (BHF 243)

Aku akan mengurbankan diriku sendiri demi kebaikan jiwa-jiwa. Tema yang indah, sangat menarik dan selalu aktual. Yang saya tahu sejak masuk biara, inilah yang selalu didengung-dengungkan dan harus diperjuangkan bahkan jadi ukuran “kelayakan” seorang yang mau ikut Yesus dengan jalan ini “mengejar kesempurnaan kasih” demi kebaikan bersama dan keselamatan jiwa-jiwa.
Demi kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa ini, bahkan menjadi doa-doa harian di biara. Juga upaya-upaya perwujudan hukum kasih. Dan ini sangat tidak mudah, sebab di atas segalanya kita mengutamakan kebaikan dan keselamatan orang lain(jiwa-jiwa) dari pada diri sendiri. Karena kita telah berjanji mengikuti Kristus yang mengurbankan diri-Nya demi keselamatan kita (dunia). Secara naluri, kita ingin diri kita sendiri baik, nyaman, aman, selamat, bahagia, setelah itu baru untuk orang lain.Namun, tidaklah demikian bagi yang mau mau mengikuti Kristus secara total. Ia harus menyangkal diri, memikul salib, mengikuti Kristus setiap hari demi kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa.

Dalam perjalanan berjuang selama ini, jujur tidak mudah. Ada saat tertentu, dengan orang tertentu, dalam suasana tertentu, tampak mudah. Di saat lain, bisa sangat sulit dan tidak mampu. Kalau tidak.merendahkan diri serendah-rendahnya ( …menempatkan diri di bawah kaki.para suster,…), tidak mungkin diri ini akan melakukan sesuatu demi kebaikan jiwa-jiwa. Sebab, terjadi peperangan hebat dalam diri, antara mendahulukan kepentingan diri dengan harus menanggalkan dan mengosongkan diri.

Ada banyak tindakan baik yang dilakukan belum tentu alasan dan tujuannya demi kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa. Bisa jadi perbuatan baik yang dilakukan memang mudah dilakukan, jadi sudah terbiasa. Bisa jadi ada muatan keinginan yang tersembunyi, demi reputasi diri. Bisa jadi sebuah pencintraan. Bukankah semua itu tertuju pada diri sendiri bukan demi kebaikan orang lain? Tidak terlalu sulit membedakannya yang dapat dilihat dari buah perbuatan baik kita. Jika sungguh dimotivasi dan terarah karena kasih semata-mata demi kebaikan jiwa-jiwa, seseorang tidak akan mudah tersinggung jika tidak mendapatkan ucapan terima kasih, tidak dipuji,  tidak dihargai. Perbuatan baiknya lahir murni dari hati yang tulus ikhlas demi kebaikan jiwa-jiwa tidak tergantung pada sikap atau reaksi orang lain.

Kasih tulus demi kebaikan jiwa-jiwa ini, memang menuntut pengurbanan besar, kerendahan hati dan pengosongan diri. Mesti ada keberanian untuk menanggalkan ego. Ini latihan rohani seumur hidup, yang ujiannya tiap saat karena tiap saat kita berhadapan dengan orang lain dan juga diri sendiri. Tanpa rahmat Tuhan, tidak mungkin. Tanpa renungan dan refleksi serta doa-doa yang intens dan mendalam, kita bisa merasa semuanya sudah baik-baik saja dan seolah-olah semuanya sudah untuk.kebaikan jiwa-jiwa.

Memprioritas kebaikan orang lain dan keselamatan jiwa-jiwa, akan berhadapan dengan banyak tantangan. Kita  harus siap jadi orang bodoh, hamba yang hina dina. Sebab tidak semua orang mengerti dan memahami ini, barangkali hanya yang dikaruniai saja. Dipersalahkan, salah paham, pikiran negatif tentang kita, difitnah, direndahkan,  tidak enak untuk dialami. Namun, bagaimana pun harus menanggung semua itu, demi kebaikan bersama dan keselamatan jiwa-jiwa.

Belajar menanggung semuanya bersama Yesus. Mencari kekuatan dan peneguhan dari sengsara Yesus. Benar, kata Faustina, setiap derita yang diterima selalu bergandengan dengan rahmat khusus Tuhan. Rahmat kekuatan, keberanian, cinta, pengampunan dan sukacita. Tidak berani menderita atau mengindarinya, sama dengan menolak rahmat yang tersedia di balik derita itu. Iman dan cinta makin kuat berakar dan bertumbuh mana kala, berani menerima penderitaan demi kebaikan jiwa-jiwa. Tidak pernah sekali jadi.  Berkali-kali jatuh bangun, sampai akhirnya suatu saat *berdamai dengan situasi, berdamai dengan diri sendiri, damai dengan penderitaan, damai dengan orang lain yang melahirkan kedamaian bagi dunia sekitar. Jika terlatih dan terbiasa, pada akhirnya seperti Faustina. Kita akan mampu bersyukur karena boleh alami berbagai penderitaan demi kebaikan jiwa-jiwa. Tahu-tahu, diri kita pun sudah berubah karena ada pertumbuhan. Dengan berjuang mengupayakan kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa, kita sendiri pun jadi baik dan selamat. Yesus Kau andalanku.*hm