(Renungan – Markus 6:45–52)

Ketika membaca Injil Markus 6 : 45 – 52), saya merasa sangat dikuatkan oleh satu hal sederhana: Yesus melihat murid-murid-Nya dari kejauhan.
Ia tidak berada di dalam perahu bersama mereka,tetapi Ia melihat mereka kepayahan menghadapi angin sakal.

Saya merenung, betapa sering dalam hidup saya merasa seperti para murid itu. Berjuang sendiri, melawan keadaan, sementara Tuhan terasa jauh dan diam. Namun Injil hari ini dengan lembut mengingatkan saya: Tuhan tidak pernah berhenti melihat. Yesus melihat dari kejauhan, tetapi Ia tidak tinggal diam. Ketika malam semakin larut dan angin semakin keras, Yesus datang menghampiri mereka, menembus gelap dan gelombang.Yang semakin meneguhkan hati saya adalah ini: Tuhan tidak hanya datang untuk menemani, tetapi datang untuk menolong. Ketika Yesus naik ke dalam perahu, angin pun reda. Situasi yang tadinya tak terkendali perlahan menjadi tenang.

Saya belajar bahwa kehadiran Tuhan bukan sekadar penghiburan batin. Kehadiran-Nya membawa ketertiban, arah, dan penyelesaian.
Masalah memang tidak selalu hilang seketika, tetapi ketika Tuhan hadir, hidup tidak lagi dikuasai oleh kekacauan. Yesus tidak menunggu badai berhenti untuk datang menghampiri. Ia datang di tengah badai, dan justru karena kehadiran-Nya, badai kehilangan kuasanya. Ketika Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut,” saya menyadari bahwa yang paling saya butuhkan bukan jaminan hidup tanpa masalah, melainkan kepastian bahwa Tuhan hadir dan memegang kendali.

Renungan ini meneguhkan saya hari ini: apa pun angin sakal yang sedang saya hadapi, Tuhan melihatnya.
Dan ketika Ia datang, hidup saya berada di tangan yang aman.*hm