SELASA PASKAH II “Dilahirkan Kembali, Hidup dalam Kesatuan”
Kis 4:32-37; Mzm 93:1ab.1c-2.5; Yoh 3:7-15.

Bacaan pertama hari ini menampilkan gambaran indah tentang jemaat perdana: “Segala sesuatu adalah kepunyaan bersama, dan tidak seorang pun berkekurangan.” Mereka hidup dalam kesatuan, berbagi rezeki, dan saling menopang. Kesatuan itu bukan hasil usaha manusia semata, melainkan buah dari Roh Kudus yang bekerja dalam hati mereka. Roh yang sama juga memanggil kita untuk hidup dalam solidaritas, saling menanggung beban, dan menjadi tanda kasih Allah di dunia. Hidup dalam sikap dasar “sehati sejiwa” merupakan ciri kahs Jemaat Perdana. Sikap dasar ini hanya bisa diwujudkan atas dasar iman. Iman memampukan mereka untuk hidup berbagi, sehingga tidak ada yang berkekurangan.

Mazmur menegaskan bahwa Tuhan adalah Raja yang berkuasa, teguh tak tergoyahkan. Kesetiaan-Nya menjadi dasar bagi hidup kita. Ketika kita menaruh iman pada-Nya, kita menemukan kekuatan untuk membangun komunitas yang kokoh, meski dunia di sekitar kita penuh tantangan.
Nikodemus sangat heran akan tuntutan Yesus untuk dilahirkan kembali. Hal itu terjadi karena Nikodemus masih terkungkung oleh cara pikir dan perhitungan manusia. Ia tidak masuk dalam rencana Allah, yaitu “lahir dari dan dalam Roh”. Kepadanya Yesus menjelaskan dan memberikan kesadaran baru tentang iman. Iman dalam kekuatan Roh Kudus memampukan setiap orang untuk memahami dan menjadikannya manusia yang semata-mata hidup demi cinta kasih sebagaimana Yesus itu sendiri.

Bagaimana aku telah mewujudkan diri sebagai manusia baru, yang lahir dari Roh Kudus? Hidup sehati sejiwa adalah anugerah Roh Kudus, bagaimana anugerah itu telah aku wujudkan dalam tindakan hidup berbagi dengan sesamaku, terutama mereka yang sangat berkurangan? Apa wujudnyatanya?
Di tengah masyarakat yang sering terpecah oleh kepentingan, persaingan, dan egoisme, bacaan hari ini mengingatkan bahwa iman sejati harus tampak dalam kesatuan dan solidaritas. Dilahirkan kembali dalam Roh berarti meninggalkan cara hidup lama yang egois, lalu membangun hidup baru yang berpusat pada kasih dan kebersamaan. Dunia membutuhkan kesaksian nyata bahwa Kristus yang bangkit sungguh hidup dalam komunitas kita.
Selasa Paskah II mengajak kita untuk sungguh dilahirkan kembali dalam Roh Kudus, agar hidup kita menjadi tanda kasih Allah yang nyata. Mari kita membangun kesatuan, berbagi berkat, dan menjadi saksi bahwa Kristus yang bangkit hadir di tengah dunia melalui komunitas kita.
Mari mewujudkan diri sebagai manusia baru yang lahir dari dan di dalam Roh Kudus. Mari membangun sikap hidup berbagi sebagai wujud diri yang adalah manusia baru.
Tuhan memberkati.*RD AMT