Ketika membaca Injil hari Markus 1 : 14 – 20, saya semakin menyadari bahwa panggilan Yesus selalu sederhana, namun sangat menentukan. Yesus tidak datang dengan penjelasan panjang. Ia tidak memberi daftar tugas. Ia hanya berkata, “Ikutlah Aku.” Sebuah ajakan relasi, bukan sekadar perintah. Saya merenung, mengikuti Yesus berarti lebih dahulu berjalan bersama Dia, bukan sekadar melakukan sesuatu untuk-Nya. Panggilan ini menyentuh hati saya, karena iman ternyata bukan pertama-tama soal karya, melainkan soal kedekatan dan kepercayaan.

Yang juga sangat kuat dalam Injil ini adalah sikap para murid. Mereka meninggalkan jala—sesuatu yang sangat nyata, yang memberi rasa aman dan penghidupan. Mengikuti Yesus ternyata mengandaikan keberanian untuk melepaskan. Bukan karena yang lama itu buruk, tetapi karena ada sesuatu yang lebih penting yang sedang dipilih. Saya melihat bahwa para murid tidak banyak bertanya. Tidak ada dialog panjang. Tidak ada penundaan. Injil hanya mencatat satu hal: mereka segera mengikuti Yesus. Respons yang sederhana, namun penuh kepercayaan.

Renungan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri apa “jala” yang masih sering saya pegang erat? Apa yang membuat saya ragu untuk melangkah penuh bersama Tuhan? Injil hari ini mengajak saya untuk kembali pada sikap dasar iman: mendengarkan panggilan, berani meninggalkan yang lama,
dan melangkah tanpa terlalu banyak kata.Saya belajar bahwa iman yang hidup tidak selalu ditandai oleh banyak penjelasan, tetapi oleh kesediaan untuk melangkah. Ketika saya berani mengikuti Yesus dengan sederhana, saya percaya Ia sendiri yang akan menuntun langkah-langkah selanjutnya.*hm