SELASA, PEKAN BIASA, PERINGATAN WAJIB ST. SKOLASTIKA, PERAWAN
BcE 1Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13
Hari ini kita memperingati St. Skolastika, Perawan, saudari St. Benediktus. Ia dikenal sebagai seorang perempuan yang sederhana, penuh kasih, dan tekun dalam doa. Tradisi menceritakan bahwa doa Skolastika yang tulus bahkan mampu menggerakkan hati Allah sehingga hujan turun untuk memperpanjang pertemuannya dengan saudaranya. Bacaan hari ini menuntun kita untuk memahami bahwa doa yang murni dan hati yang tulus lebih berharga daripada ritual yang kosong.
Pada hari pentahbisan bait Allah, Salomo manadahkan tangan ke langit. Ia sungguh menyadari bahwa Allah yang Mahaagung mengatasi segala sesuatu. Salomo sungguh menyadari bahwa kenisah yang didirikannya bukanlah apa-apa jika Allah tidak berkenan hadir di dalamnya. Perkenanan Allah menjadi daya bagi kenisah yang didirikan.
Berhadapan dengan kaum Farisi dan ahli Taurat yang berpegang teguh pada adat-istiadat nenek moyang, Yesus menyadarkan mereka akan sikap dasar yang harus dimiliki. Ketaatan yang tehug pada hukum, tata aturan tanpa sikap dasar, yaitu sebagai tanggapan terhadap kasih karunia Allah, maka hanya akan menjadi tata lahiriah belaka saja. Sebab, sikap dasar akan memampukan setiap orang untuk terbuka secara dinamis pada kehadiran Allah yang menyelamatkan.
St. Skolastika adalah adik dari St. Benediktus pendiri Ordo Benediktin dan Abas termasyur biara Monte Kasino. Sejak mudanya, Skolastika bercita-cita menjadi seorang biarawati agar lebih total menyerahkan diri kepada Allah dalam doa dan tapa. Setelah menjadi seorang biarawati mengikuti jejak kakaknya, ia mendirikan biara tersendiri berdekatan dengan biara Monte kasino. Banyak pengikutnya yang tinggal di biara itu. Kedua kakak beradik itu selalu saling meneguhkan dalam kehidupan membiara. Skolastika meninggal di hadapan kakaknya sendiri pada tahun 543. Menyaksikan kesedihan para biarawan dan biarawati, benediktus berkata: “Janganla menangis dan sedih! Yesus telah memanggil Skolastika dari tengah-tengah kita supaya ia menjadi pembantu dan pelindung bagi kita yang masih mengembara di dunia ini”. Skolastika dikuburkan di biara Monte Kasino.
Apakah aku sungguh meyadari dan meyakini bahwa Allah hadir di dalam diriku? Bagaimana kehadiran Allah di dalam diriku itu telah menjadi daya yang menyelamatkan diriku dan sesamaku? Apa wujud nyata yang telah aku usahakan? Bagaimana aku telah merefleksikan dan menanggapi penderitaan yang aku hadapi? Apa aku sudah mendoakan dan membantu saudara-saudariku yang menderita? Apa wujud usahaku untuk itu?
Peringatan St. Skolastika mengingatkan kita bahwa doa yang murni dan hati yang tulus adalah kekuatan sejati. Mari kita belajar berdoa dengan kasih, seperti Skolastika, sehingga hidup kita menjadi kesaksian iman yang nyata.
“Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak. 5:16). Mari sungguh meyadari dan meyakini bahwa Allah hadir di dalam diri kita. Mari berdoa dengan hati yang murni dan tulus, menjadikan diri kita daya kehadiran Allah yang meringankan dan menyelamatkan sesama kita yang menderita.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments