Kemurnian. Tidak perlu dijelaskan bahwa kaul ini melarang segala sesuatu yang dilarang oleh perintah keenam dan kesembilan: perbuatan, pikiran, perkataan, perasaan…. Aku memahami bahwa kaul meriah berbeda dengan kaul biasa. … aku memahami ini dengan segala aplikasinya.
Sementara merenungkan kaul kemurnian, aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, Engkau adalah mempelai-Ku untuk selama-lamanya. Kemurnianmu hendaknya melebihi kemurnian para malaikat karena tidak satu malaikat pun Aku panggil untuk menjalin kemesraan seperti yang Aku jalin denganmu. Tindakan yang paling kecil pun dari mempelai-Ku memiliki makna yang tiada tara. Jiwa yang murni memiliki kekuatan yang tak terperikan di hadapan Allah. • BHF 534
“Engkau adalah mempelai-Ku untuk selama-lamanya.” Betapa indah dan menggetarkan hati. Yesus berbicara kepada Faustina sebagai mempelai-Nya yang dikasihi-Nya. Seorang mempelai menjaga kesetiaannya karena ia mencintai mempelainya. Demikian pula kemurnian yang sejati. Kemurnian bukan sekadar tidak melakukan yang salah, hal-hal lahiriah, fisik semata, bukan sekadar kemurnian badani, melainkan terutama menjaga hati agar tetap utuh bagi Kristus.
Aku tertegun ketika Yesus berkata kepada Faustina : “Kemurnianmu hendaknya melebihi kemurnian para malaikat karena tidak satu malaikat pun Aku panggil untuk menjalin kemesraan seperti yang Aku jalin denganmu.” Aku semakin paham, sekaligus bersyukur bahwa betapa besar martabat sebuah panggilan menjadi mempelai Kristus. Para malaikat memang murni, tetapi mereka tidak dipanggil menjadi mempelai Kristus. Malaikat melayani dan memuji Allah, sedangkan seorang jiwa yang dibaktikan dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih yang ssngat mendalam dan sangat pribadi dengan-Nya.
Kemurnian itu anugerah untuk memiliki Kristus secara lebih mendalam. Kemurnian terutama tentang hati. Hati yang murni, yang sederhana. Hati yang tidak mendua. Hati yang taat. Hati yang mempercayakan hidupnya, sepenuhnya kepada mempelainya. Hati yang selalu percaya dan mengandalkan-Nya. Hati yang murni adalah hati yang menempatkan Kristus sebagai segala-galanya dan sukacita terbesar.
Maka setiap pengorbanan dan pembaktian diri, bukanlah beban atau hal yang menyedihkan, tetapi sebuah persembahan hati yang di dalamnya jiwa menemukan sukacita sejati. Saat jiwa merasa sesuatu itu sebagai beban berat, hatinya terkontaminasi dengan berbagai kepentingan diri. Jiwa mesti selalu bersemangat dan berjuang untuk memurnikannya.
Yesus sendirilah satu-satunya harta yang paling berharga, sahabat hati, dan mempelai jiwa. Meski aku sadar, bagaimana sikap hidupku sebagai seorang mempelai di hadapan-Nya yang maha tahu. Aku lebih percaya pada kelimpahan kasih karunia dan kerahiman-Nya bagiku. Aku mengimani kesetian-Nya yang menjadi sumber kekuatanku selamanya. Sebab dari diriku sendiri, hampa dan ketiadaan belaka. Semua adalah kasih karunia. Demikian juga dengan kemurnian..
Hari ini, aku merasa begitu rindu mendengar bisikan Yesus itu seperti kepada Faustina. “Engkau adalah mempelai-Ku untuk selama-lamanya.”
Dari kedalaman hati, aku ingin menjawab: “Tuhan, Engkaulah sukacitaku. Jagalah hatiku tetap murni bagi-Mu. Jangan biarkan apa pun mengambil tempat yang menjadi milik-Mu saja. Jadikanlah aku mempelai yang setia, yang mencintai-Mu dengan hati yang utuh, sederhana, dan tak terbagi.” Aku mencintai-Mu.Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mencintai-Mu. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments