Tidak akan ada perbedaan antara para suster, tidak ada muder, tidak ada yang terhormat, tidak ada yang mulia, tetapi semua akan setara meskipun barangkali ada perbedaan besar dalam asal usul.

Kita tahu siapa Yesus; kita tahu juga betapa Ia merendahkan diri dan dengan siapa Ia bergaul. Pakaian para suster seperti pakaian yang dikenakan Yesus selama sengsara-Nya. Namun, bukan jubah sederhana saja yang akan mereka kenakan, melainkan mereka juga harus menandai diri dengan tanda yang disandang Yesus, yaitu penderitaan dan cemooh.

Setiap suster harus berusaha sungguh-sungguh menyangkal diri sendiri dan mencintai kerendahan hati; dan orang yang paling unggul dalam keutamaan terakhir ini akan menjadi orang yang mampu memimpin suster-suster yang lain. BHF 538

“Kita tahu siapa Yesus; kita tahu juga betapa Ia merendahkan diri dan dengan siapa Ia bergaul.” Wah, kalimat ini sungguh luar biasa bagiku. Sekali lagi Faustina mengisahkan bagaimana ia menatap Yesus dan belajar hidup dari apa yang dilihatnya pada diri-Nya. Tampak bahwa Faustina semakin takjub melihat cara hidup-Nya. Yesus tidak mencari kehormatan bagi diri-Nya sendiri.Ia tidak memilih tempat yang tinggi. Ia tidak mengelilingi diri-Nya dengan orang-orang penting. Ia merendahkan diri dan tahu dengan siapa Ia bergaul: dengan orang-orang sederhana, dengan para nelayan, para pendosa, mereka yang kecil dan sering diabaikan.

Faustina melihat semuanya itu. Ia mengaguminya, dan menjadikannya pelajaran hidup, model bagi hidupnya dan hidup para suster di biara. “Tidak akan ada perbedaan antar para suster, tidak ada muder,tidak ada yang terhormat, tidak ada yang mulia, tetapi semua akan setara meskipun barangkali ada perbedaan besar dalam hal asal usul.”

Semakin ia mengenal siapa Yesus, semakin ia memahami bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada kedudukan, jabatan, atau penghormatan, melainkan pada kerendahan hati. Mungkin karena itulah ia menulis bahwa di antara para suster tidak boleh ada yang merasa lebih terhormat atau lebih mulia daripada yang lain. Kesetaraan, penyangkalan diri, salib, kerendahan hati hendaknya menjadi identitas dirinya bukan pada jubah dan asesoris lainnya yang dikenakan.

Ketika seseorang sungguh menatap Yesus, ia akan sadar bahwa tidak ada alasan untuk meninggikan diri.Jika Putra Allah sendiri memilih jalan kerendahan hati, lalu siapakah aku sehingga masih mencari tempat bagi diriku sendiri? Rasanya BHF 538 ini, khusus tertuju padaku. Aku diingatkan akan undangan Yesus kepada Faustina:”Tataplah Aku dan hiduplah menurut apa yang engkau lihat.” ( BHF 526). Faustina konsisten untuk selalu menatap Yesus, menjadikan seluruh hidup Yesus model bagi hidupnya. Yesus, Engkau andalanku