SENIN, PEKAN BIASA XI
1Raj 21:1-16; Mzm 5:2-3.5-6.7; Mat 5:38-42.
Liturgi hari ini menyingkapkan kontras antara kejahatan yang lahir dari keserakahan dan kasih radikal yang diajarkan Yesus. Kisah Ahab dan Izebel menunjukkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan melahirkan ketidakadilan. Sebaliknya, Injil menegaskan panggilan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, bahkan dengan sikap yang melampaui logika manusia.
Kisah Ahab sang Raja dan Nabot petani kecil sangat menarik untuk direnungkan. Sebab kisah yang amat klasik ini selalu terulang dalam setiap zaman. Ahab adalah raja yang kaya dan berkuasa. Ia seharusnya menjadi pelindung dan penjamin bagi Nabot rakyatnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Ahab melalui Izebel istrinya merampas kebun anggur milik warisan leluhur Nabot. Kekuasaan dan kekayaan telah menjadi berhala bagi Ahab sang raja itu.
Perjanjian Lama mengatur hukum pembalasan. Hal ini ditetapkan untuk membatasi balas dendam dan kekerasan. Namun Yesus menuntut setiap pengikutnya untuk mengatasi lingkaran pembalasan tersebut. Para murid tidak boleh menerapkan hukum pembalasan dengan cara mengambil alih sikap dan tindakan para musuhnya. Para murid harus mewujudkan hukum cinta kasih, sebab cinta kasih itu mengikat, mempersatukan dan memperbaharui hubungan yang telah gagal. Namun cinta kasih selalu menuntut pengorbanan.
Apa saja yang telah menjadi berhala-berhala bagiku saat ini? Sejauh mana pengorbananku untuk mewujudkan cinta kasih di dalam lingkaran balas dendam yang ada?
Hari ini kita diajak untuk menolak keserakahan dan ketidakadilan, percaya pada Allah yang membela orang benar, dan menghidupi kasih radikal yang diajarkan Yesus. Dengan demikian, kita menjadi saksi nyata bahwa kebaikan lebih kuat daripada kejahatan.
Mari mewujudkan cinta kasih di dalam setiap peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments