SABTU, PEKAN BIASA XVIII
Ul. 6:4-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Mat. 17:14-20

Isarael bersiap-siap untuk masuk ke tanah yang dijanjikan oleh Allah. Kepada umat Israel, Musa mengingatkan mereka untuk tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan oleh Allah bagi mereka dalam pembebasan dari Mesir. Pembebasan Israel oleh Allah dari perbudakan di Mesir telah menempa suatu perjanjian yang tidak boleh diberatkan oleh penyembahan berhala kepada dewa-dewi, seperti yang dilakukan oleh bangsa lain. Musa mengingatkan umat Israel akan kesimpulan gegabah bahwa kesuburan tanah adalah buah hasil ibadat kepada dewa-dewi. Israel tidak boleh membagi ketaatannya kepada Allah sebagai dasar bagi kehidupan iman umat. Landasan kehidupan umat adalah hubungan kasih dengan Allah dalam ketaatan hanya kepada Allah. Bagi umat Israel, landasan ini harus menjadi keyakinan dalam pengakuan iman yang harus diperjuangkan dengan penuh kesetiaan. Sebab, Allah adalah yang penuh kasih, maka manusia harus mengasihi dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan.

Yesus didatangi oleh seorang bapak. Ia menyembah dan meminta supaya Yesus menyembuhkan anaknya yang sakit ayan dan sangat menderita. Permintaan itu ditujukan kepada Yesus karena ternyata para murid tidak dapat menyembuhkan anak itu. Kegagalan para murid untuk menyembuhkan anak itu terjadi karena mereka kurang percaya. Yesus menegur dan mengeritik para murid secara amat keras. “Hai kalian, angkatan yang tidak percaya dan sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kalian? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kalian?”. Kurangnya iman para murid tersebut menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar mengenai iman sebesar biji sesawi. Biji sesawi itu sangat kecil, namun iman sebesar itu saja pun memiliki efek yang sangat dramatis. Melalui kenyataan kegagalan para murid untuk menyembuhkan anak yang sakit ayan serta pengajaran tentang iman sebesar biji sesawi, para murid disadarkan agar mereka tidak berkarya hanya dengan mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri, tetapi harus sungguh menampilkan kekuatan Allah yang berkarya di dalam diri dan kehidupan mereka. Sebab, hanya dengan cara demikian, para murid mampu membangun kehidupan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.

Sebesar apakah iman kepercayaanku kepada Allah yang aku miliki? Apakah aku selalu mengembangkan keyakinan imanku itu dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatanku? Apakah aku selalu mengandalkan dan menampilkan kekuatan Allah di dalam diri dan kehidupanku?
Mari selalu mengembangkan keyakinan iman kita dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatan kita. Mari selalu mengandalkan dan menampilkan kekuatan Allah di dalam diri dan kehidupan kita.
Tuhan memberkati. *RD AMT