Ketika membaca Injil tentang Yesus yang berkeliling di Galilea dari Matisu 4 : 23 – 25) saya semakin tersentuh oleh cara Yesus menjalankan perutusan-Nya. Ia mengajar, mewartakan, dan menyembuhkan, bukan dengan cara yang rumit atau penuh kemegahan, melainkan dengan kesederhanaan dan kesahajaan hidup. Sangat kelihatan bahwa Yesus tidak menunggu tempat yang sempurna. Ia tidak memilih panggung besar.Ia berkeliling dari tempat ke tempat, hadir apa adanya, berjalan bersama orang-orang biasa. Di situlah ajaran-Nya lahir, pewartaan-Nya didengarkan, dan penyembuhan-Nya dialami.
Saya merenung bahwa kesederhanaan Yesus adalah kekuatan-Nya. Ia mengajar tanpa menggurui, mewartakan tanpa memaksa, dan menyembuhkan tanpa mempertontonkan kuasa. Segalanya mengalir dari hati yang penuh belas kasih. Sungguh sangat luar biasa. Dalam kesahajaan itu, kata-kata Yesus menjadi dekat. Dalam kesederhanaan itu, orang merasa aman untuk datang. Dan justru karena tidak berjarak, banyak orang mengalami pemulihan—bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hati.
Saya belajar bahwa ketiga hal ini—mengajar, mewartakan, dan menyembuhkan— menjadi utuh justru karena dijalani dengan rendah hati dan sederhana. Tanpa kesederhanaan, ajaran bisa terasa jauh. Tanpa kesahajaan, pewartaan bisa kehilangan sentuhan manusiawi. Tanpa kerendahan hati, penyembuhan bisa berubah menjadi pamer kuasa. Yesus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah tidak selalu hadir dalam hal-hal besar, melainkan dalam kehadiran yang setia, kata yang meneguhkan, dan tindakan kasih yang sederhana.
Injil hari ini mengajak saya dan mengajak kita semua untuk meneladan cara Yesus ini. Bukan dengan melakukan banyak hal besar, tetapi dengan hadir secara sederhana, berjalan bersama, dan berbuat baik. Bisa jadi justru di situlah pewartaan menjadi nyata: ketika hidup kita, dengan segala kesahajaannya, menjadi ruang di mana orang lain merasakan sentuhan kasih Tuhan. Tidak selalu mudah, namun dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita dapat melakukannya. Tuhan berkenan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Gerakan kesederhanaan dalam hidup mesti menjadi suatu tanda gerakan kasih yang sejati. Niscaya hidup kita pun berdampak bagi orang lain.*hm
Recent Comments