Ketika sejumlah penderitaan menimpa aku, penderitaan itu tidak lagi mendatangkan kepedihan apa pun dalam diriku, juga tidak melenyapkan penghiburan-penghiburan dariku. Hatiku penuh dengan damai dan ketenangan yang mengalir dari pengenalan akan kebenaran.
Bagaimana hidup yang dikerumuni oleh hati yang tidak bersahabat dapat mendatangkan gangguan kepadaku kalau jiwaku penuh dengan kebahagiaan? Atau sebaliknya, dengan dikerumuni oleh hati yang bersahabat, bagaimana aku dapat tertolong kalau aku tidak memiliki Allah di dalam diriku? Kalau Allah tinggal di dalam diriku, siapa dapat merugikan aku? ( BHF 455)
Hatiku penuh dengan damai dan ketenangan yang mengalir dari pengenalan akan kebenaran.
Faustina sungguh menyadari, meyakini, dan mengakui bahwa pengenalan akan kebenaran menjadi sumber ketenangan dan kedamaian hati.
Pengenalan akan kebenaran jauh melampaui dan melebihi hebatnya dan cerdasnya ilmu pengetahuan dan keterampilan apa pun. Beragam ilmu dapat dipelajari untuk menjadi cerdas, namun pengenalan akan kebenaran, yakni Firman Allah dan kehendak-Nya, adalah rahmat dan anugerah. Kadang, semakin banyak tahu, makin cerdas, makin mahir akan sesuatu hal, bisa jadi pikiran makin dikuasai kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, gelisah, galau, karena perhitungan-perhitungan ilmiah dan pertimbangan akal budi.Tidaklah demikian dengan keyakinan iman yang tumbuh dan mengalir dari pengenalan akan Kebenaran. Saya menamai Kebenaran adalah Firman Allah dan kehendak-Nya. Yesus menamai diri-Nya Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Dalam banyak pengalaman, saya merasakan dan mengakui bahwa hatiku tenang dan damai bukan karena tidak ada masalah atau sedikitnya tantangan atau tersedianya segala yang kubutuhkan, baik untuk diriku maupun untuk pekerjaan pelayananku. Bukan!
Sumber ketenangan hati dan kedamaian jiwa sungguh adalah kesadaran dan merasakan kasih dan kehadiran Tuhan. Bahkan meski hidup dalam keterbatasan, kekurangan, dan mungkin banyak penderitaan, semua itu dianggap biasa saja. Sebab selama seseorang tidak mematok atau menetapkan batas ketenangan dan kedamaian hatinya pada benda-benda, barang, hal-hal yang remeh-temeh, bahkan pada kenyamanan tertentu, semuanya baik-baik saja.
Sedikit sharing, sejak Rabu sampai tadi sore, saya bersama beberapa suster mengadakan live in di daerah terpencil di perkebunan sawit yang jauh dari kota. Tiga malam tinggal bersama umat yang sederhana, buruh di perkebunan sawit milik PT besar. Rumah sangat sederhana, pakai papan, beratap seng yang sangat rendah dan panas, dengan kamar mandi dan toilet yang jauh dari rumah atau tepatnya gubuk, kamar seadanya tanpa pintu dan jendela. Mereka sangat menikmati dan tidak mencemaskan apa pun, sangat bersukacita dan bergembira menyambut kedatangan kami. Teman-teman suster lain mendapatkan rumah yang cukup bagus untuk ukuran di barak-barak.
Saya mendapatkan yang paling sederhana. Saya sangat bersyukur, hatiku sedikit pun tak cemas tinggal dan tidur di tempat yang sederhana tanpa pintu dan jendela dan sangat panas. Puji Tuhan, aku tidur sangat nyenyak tanpa takut dan cemas apa pun. Saya percaya penuh pada penyertaan Tuhan dan juga mereka yang selama ini baik-baik saja. Keluarga yang saya tempati sangat bahagia sebab aku bisa menikmati tinggal bersama mereka dengan sukacita.
Saya sangat yakin akan perkembangan rasa batinku yg begitu damai, itu karena merupakan buah belajar di SKR ini. Dulu-dulu saya kalau bepergian kadang cemas, apakah rumah cukup aman untuk ditempati, apakah ada gangguan dan beragam hal lainnya. Kali ini aku sangat menikmati, meski sinyal kedap-kedip dan kehilangan berita selama hampir tiga hari. Tanpa HP, tanpa berita, berjalan dalam kegelapan malam, tidur di tengah hutan dengan rumah yang saling berjauhan, makan sederhana, doa tidak teratur, jauh dari kebiasaan dna kedisipinan, namun semuanya baik-baik saja. Semua mengalir sesuai alur waktu, apa.adanya, dalam alam dan orang -orang yang tenang.
Aku pastikan, aku begitu bersukacita karena hatiku menerima dengan tenang dan damai serta merasakan penyertaan Tuhan, dan bagaimana karya Tuhan yang luar biasa bagi orang kecil dan sederhana yang jauh dari kemewahan, tetapi imannya bertumbuh subur dan sangat teguh.Bagiku, pernyataan Faustina dalam SKR hari ini sekaligus menjadi semacam refleksi penutup dari seluruh rangkaian program live in bersama umat sederhana. Pengakuan Faustina menegaskan permenunganku, bahwa hati yang damai dan ketenangan mengalir dari pengenalan akan Kebenaran.
Kalau Tuhan diimani sebagai Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup dan kasih-Nya dirasakan, dialami dalam realita hidup, tak ada satu alasan pun untuk merasa menderita..Sebab Tuhan ada , hadir dan berkarya dengan nyata dalam semua hal. Yesus, Engkau andalanku, Terima kasih untuk pengalaman indah bersama-Mu yang hadir dalam kesederhanaan hidup anak-anak-Mu.
Recent Comments