Ya Yesusku, aku tahu hanya Engkau yang mengenal dengan baik bahwa hatiku tidak memiliki kasih lain kecuali kasih akan Dikau. Seluruh kasih perawanku untuk selamanya terbenam dalam diri-Mu, ya Yesus. Dengan jelas aku merasakan bagaimana Darah ilahi-Mu mengalir di dalam hatiku. Aku tidak mempunyai keragu-raguan sedikit pun bahwa kasih-Mu yang paling murni telah memasuki hatiku dengan darah-Mu yang paling kudus.
Aku sadar bahwa Engkau tinggal di dalam diriku, bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, atau lebih tepat aku sadar bahwa akulah yang hidup dalam Engkau, ya Allah yang tak terselami! Aku sadar bahwa aku lebur di dalam Engkau laksana setetes air di dalam samudra. Aku sadar bahwa Engkau ada di luar dan di dalam diriku dan sungguh bahwa Engkau ada dalam segala sesuatu yang mengelilingi aku. dalam segala sesuatu yang terjadi atasku. Ya Allahku, aku sudah mengenal Engkau di dalam hatiku, dan aku telah mengasihi Engkau di atas segala sesuatu yang ada di bumi dan di surga. Hati kita saling memahami dan tidak seorang pun dari antara manusia akan memahaminya. BHF 478
“Aku sadar bahwa Engkau ada di luar dan di dalam diriku dan sungguh bahwa Engkau ada dalam segala sesuatu yang mengelilingi aku, dalam segala sesuatu yang terjadi atasku.” Indah dan sangat mendalam pernyataan sekaligus doa Faustina dalam BHF 478. Merenungkan pengalaman rohani Faustina, aku tersentuh oleh kesadaran iman dan doanya m yang begitu mendalam dan menyeluruh tentang kehadiran Allah. Faustina tidak hanya mengakui bahwa Allah itu ada, tetapi mengalami-Nya secara nyata dalam seluruh dimensi hidupnya. Kesadaran ini dimulai dari pengakuannya bahwa Allah ada di luar dirinya, di dalam dirinya, dalam segala sesuatu yang mengelilinginya dan dalam segala yang terjadi atasnya. Saya mencoba merenung satu persatu.
Faustina sadar bahwa Allah ada di luar dirinya. Ya, Allah kita adalah Pribadi Ilahi yang Mahabesar, maha kuasa, maha kasih, murah hati, Allah yang adil tetapi sekaligus maha baik dan maha rahim. Allah melampaui segala sesuatu, hadir dalam keagungan dan kemuliaan-Nya yang tak terbatas dan tiada tara. Allah yang adalah Pencipta yang berdiri di atas seluruh ciptaan, yang mengatur, memelihara, menopang kehidupan dengan kasih dan kuasa-Nya. Barangkali seperti ini yang diakui Faustina bahwa Allah ada di luar dirinya, tetapi berkarya dengan kekuatan keperkasaan-Nya.
Faustina merasakan bahwa Allah tidak hanya berada di luar dirinya, tetapi juga ada di dalam dirinya. Ia mengalami kehadiran Allah Tritunggal yang berdiam dalam relung jiwanya. Yang selalu menginspirasi dan membimbingnya, yang menyertai dan memberkati. Pengalaman ini menyingkapkan bagaimana kedekatan relasi yang sangat intim antara Faustina dan Tuhan. Allah bukan hanya Pribadi yang jauh dan tak terjangkau, melainkan Allah yang berkenan tinggal dalam hatinya, hati manusia, memenuhi jiwanya dengan kasih, damai, dan kehidupan ilahi. Dan ini sungguh dialami Faustina.
Namun Faustina yang rendah hati, mengoreksi sendiri kesadarannya akan kehadiran Allah dalam dirinya. Demikian tulisnya :’Aku sadar bahwa engkau tinggal di dalam diriku, bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, atau lebih tepat aku sadar bahwa akulah yang hidup dalam Engkau, ya Allah yang tak terselami. Bagiku, kesadaran ini indah sekali. Nyata bahwa Faustina begitu rendah hati, Allah yang sesungguhnya berkenan menariknya untuk masuk dan tinggal dalam Allah. Ya..siapakah kita manusia lemah, papa dan berdosa ini yang layak tinggal dalam Allah, jika bukan Allah sendiri yang berkenan menarik dan menempatkan kita untuk hidup dalam Dia? Tentu yang memiliki iman, dan kasih yang sedemikian besar, utuh dan total kepada Allah seperti Faustina.
Lebih Faustina juga menyadari bahwa Allah juga hadir di sekelilingnya. Segala sesuatu yang mengitari hidupnya menjadi tanda kehadiran Ilahi. Dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup sehari-hari. Di dalam setiap orang yang dijumpainya, yang dilayaninya bahkan yang sekedar berpapasan sejenak. Allah juga hadir dalam makluk ciptaan-Nya dalam tanaman, alam yang indah, dalam air dan udara yang sejuk, dalam hewan dan binatang, dalam margasatwa, burung di udara, ikan di laut, semua – semuanya yang ada di sekelilingnya. Bahkan dalam benda-benda yang tak bernyawa dan buatan tangan manusia, Allah ada di sana. Juga dalam situasi yang tampak biasa sekalipun, Faustina melihat jejak tangan Tuhan. Tuhan ada, Tuhan hadir. Kesadaran ini menuntunnya untuk memandang dunia dengan mata iman, bahwa tidak ada satu pun momen kehidupan yang terlepas dari penyelenggaraan kasih Allah.
Pengakuannya yang terakhir bahwa Allah hadir dalam segala sesuatu yang terjadi atas dirinya. Tentu ini tentang setiap peristiwa hidup, suka maupun duka, keberhasilan maupun gagal, sehat ataupun sakit, tertawa atau pun menangis, gembira maupun sedih, Semua dipahami, diterima, diyakini, diimani sebagai bagian dari rencana kasih Allah. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan atas dirinya. Tetapi atas izin Allah atau lebih tegas lagi semuanya berada dalam pelukan penyelenggaraan Ilahi yang penuh makna. Kesadaran ini melahirkan sikap penyerahan diri yang total dan kepercayaan yang tak tergoyahkan kepada kehendak Tuhan. Maka tak heran, betapa Faustina dengan lapang hati menerima segala duka nestapa, derita yang bahkan sengaja disebabkan oleh sesamanya dalam biara. Faustina menerima dengan iman, bahwa jika Allah hadir dalam situasi atau peristiwa seperti itu, apa sebabnya menolak? Segala yang baik diiterima, yang malang pun diterima. Faustina telah melihat, merasakan kehadiran Allah yang sungguh nyata dalam segala yang terjadi atas dirinya. Maka yang terbaik baginya adalah memersembahkan semua itu kepada Allah dalam penyerahan diri total demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa. Aku kira, inilah salah satu aspek yang membuatnya layak di hadapan Tuhan, suci, murni cintanya akan Allah.Kudus! Dia menghormati, memuliakan dan memuji Allah yang hadir dalam segala-galanya. Tentu sangat menyenangkan hati Allah.
Kesadaran Faustina mencapai kedalaman yang paling indah yakni bukan sekadar Allah yang ada dan tinggal di dalam dirinya, tetapi ia sendiri yang hidup di dalam Allah. Ia menggambarkan pengalaman ini laksana setetes air yang lebur dalam samudra. Gambaran ini menunjukkan persatuan yang begitu mesra dan mendalam antara jiwa dan Tuhan. Dalam persatuan ini, segala sesuatu menemukan maknanya, dan hidup manusia sepenuhnya dilingkupi oleh kasih Allah yang tak terselami. Indah untuk kurenungkan, tapi hatiku sedih, kapan aku seperti itu?
Kesadaran iman seperti ini mengajak aku untuk merenung sejauh mana aku menyadari kehadiran Allah dalam hidupku? Apakah aku masih memandang-Nya sebagai Pribadi yang jauh, ataukah aku telah membuka hati untuk mengalami bahwa Dia tinggal di dalam diriku dan mengelilingi seluruh hidupku? Semoga, seperti Faustina, aku pun semakin peka terhadap kehadiran-Nya, hingga akhirnya dapat berkata dengan penuh keyakinan bahwa hidupku sepenuhnya berada dalam pelukan kasih Allah yang abadi. Faustina doakan aku tiada henti, doakan kami semua, agar dimampukan oelh rahmat Allah untuk menyadari kehadiran Allah seperti dirimu. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments