O kehidupan kelabu dan monoton, betapa banyaknya harta yang kaumiliki! Apabila aku memperhatikan segala sesuatu dengan mata iman, tidak ada dua jam pun yang persis sama dan yang monoton serta membosankan itu pun menghilang. Rahmat yang diberikan kepadaku pada jam ini tidak akan terulang pada jam berikutnya. Bisa saja rahmat itu bukan rahmat yang sama. Waktu terus berjalan, tidak pernah kembali lagi. Apa pun yang terkandung di dalamnya, tidak pernah akan berubah; itu dimeteraikan dengan suatu meterai kekal. (BHF 62)

Waktu terus berjalan, tidak pernah kembali lagi.Apa pun yang terkandung di dalamnya, tidak pernah akan berubah; itu dimeteraikan dengan suatu meterai kekal. (BHF 62). Bagiku, indah sekali pernyataan Faustina ini, tentang waktu, tentang hikmat, tentang perubahan dan kekekalan hidup.
Pertanyaan hidup monoton? Sangat mungkin dan aku serta banyak orang lain pasti pernah alami saat-saat hidup yang monoton, datar-datar saja.
Bagiku, hidup monoton itu dialami ketika aku sedang dalam situasi pikiran dan perasaan yang seolah tanpa kesadaran, tanpa makna, saking biasa-biasa dengan segala rutinitas biasa. Bangun, berdoa, bekerja, melayani, tidur. Hari-hari yang dilalui dengan kegiatan yang nyaris sama saja setiap hari, di tempat yang sama dengan orang-orang yang nyaris sama saja. Jika tidak dimaknai dengan sesuatu yang lebih, memang hidup ini monoton.

Bagaimana supaya tidak terjebak dalam suasana demikian atau setidaknya jika dialami tidak terlalu lama, Faustina dengan bijak telah menuliskannya. Rahmat yang diberikan kepadaku pada jam ini tidak akan terulang pada jam berikutnya. Waktu terus berjalan, tidak pernah kembali lagi.
Tentang waktu yang diisi dengan kesadaran penuh akan rahmat kasih Allah yang senantiasa terus mengalir dengan melimpah tak pernah berhenti. Rahmat yang selalu baru, di setiap saat, setiap detik waktu yang berlalu. Waktu yang kelihatan seperti sama tapi berbeda dan selalu baru. Allah selalu berkarya dan membaharui hidup, selalu ada kebaruan di dalam Allah sang penguasa waktu dan pengendali hidup.
Bagiku, hidup bisa kurasakan monoton manakala melemahnya kesadaranku akan makna hidup setiap waktu dan saat aku kurang bijak mengelola waktu, menata hidup dan sedang dalam suatu kekaburan nilai hidup.

Suatu saat di masa lalu, sebelum aku mengalami suatu sakit yang pernah kukisahkan di sekolah ini beberapa waktu lalu, aku memang sedang mengalami hidup yang monoton. Saat itu ada banyak tuntutan dan tanggung jawab yang mesti kuemban. Bukan cuma satu dua jenis tetapi beberapa. Persis pula pada saat usia sedang produktif untuk berkarya. Di satu sisi, merasa mampu dan bisa melakukan apa saja, di sisi lain kesibukan yang menyita perhatian akan hal-hal spiritual. Aku terlena sejenak dan terjebak dengan berbagai kegiatan. Tampaknya baik dan berguna bagi banyak orang, tapi menguras seluruh energiku. Aku merasa memeroleh segala sesuatu (saya namai sebagai sedang mempunyai harta diri yang banyak! Kemampuan,ketrampilan, kepercayaan, perhatian, penghargaan,dll) Tetapi hati kosong, hidup hampa, banyak kegiatan tapi monoton. Mengapa? Karena aku kehilangan waktu special untuk diriku sendiri. Hidup yang berkesadaran dan bermakna melemah, dan hilang sukacita sejati. Beruntung juga ada saat sakit, sehingga ada kesempatan untuk rehat sejenak, mencari yang hilang, menggali lebih dalam makna hidupku.

Bersamaan dengan upaya meningkatkan kesadaran dan kebermaknaan hidup sesuai dengan panggilanku, semua pulih dan sembuh dan dengan sendirinya menjadi tahu dan sadar apa yang seharusnya aku lakukan. Hidup yang dijalani tidak lagi sekedar tumpukan kegiatan-kegiatan. Tetapi sudah memiliki cara pandang yang berbeda dan baru dalam setiap waktu dan kegiatan. Waktu-waktu doa, bekerja, berkarya, merasul, kegiatan bersama, bukan lagi sebagai kewajiban atau sebagaimana seharusnya. Namun, jauh lebih mendalam, lebih tenang, lebih damai dan lebih berkesadaran, lebih bersukacita dan otomatis tidak lagi merasa monoton. Maka benar, yang dikisahkan Faustina, ketika memerhatikan dengan mata iman tidak ada yang sama setiap waktu, semua jadi bermakna dan tidak ada yang membosankan. Secara manusiawi menjadi lebih kreatif. Ada kerinduan untuk mengisi setiap detik dengan hal bermanfaat karena memandang semua adalah anugerah. Lebih bijak bersikap dan bertindak.

Pilihan-pilihan tindakan lebih diwarnai sebagai suatu pemberian diri dan tindakan cinta. Juga lebih mudah dan sadar akan kelemahan dan dosa-dosa. Lebih banyak terdorong untuk membaharui diri, bertobat dan beramal kasih. Ini bukan sekedar semacam aktualisasi diri, tetapi sebuah anugerah kesadaran dan  kebijaksanaan. Tentu saja, selalu juga ada godaan tetapi selalu bisa sadar dan ada upaya antisipasi.
Bagi saya, ikut serta dalam berbagai group rohani seperti sekolah kita ini, merupakan salah satu dari kegiatan bermakna dan terhindar dari yang monoton.
Membaca dan merenug BHF, sangat kaya akan inspirasi dan rahmat yang mendorong pembaharuan hidup. Jika tekun dan setia, dan memakai mata iman dalam segalanya, semua akan indah ada waktunya.*hm