MINGGU BIASA VI “Hukum Tuhan: Jalan Kebebasan dan Kedewasaan dalam Cinta Kasih Allah”
Sir 15:15-20; Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37
Bacaan pada hari Minggu biasa VI ini mengajak kita merenungkan relasi antara hukum Allah, kebebasan manusia, dan kedewasaan iman. Banyak orang menganggap hukum sebagai beban, tetapi Kitab Suci justru menyingkapkan bahwa hukum Tuhan adalah jalan menuju kehidupan yang penuh, bebas, dan dewasa.

Penulis Kitap Putra Sirak menanggapi dua penyesatan zaman. Pertama, adanya anggapan bahwa tidak ada kebebasan manusia. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa manusia selalu diikat oleh ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan (determinisme). Kedua, adanya penyangkalan terhadap kekuasaan dan penyelenggaraan Allah. Dengan tegas penulis menyatakan bahwa sejak awal mula Allah telah menganugerahkan kepada manusia kehendak bebas yang menjadi kodrat manusia. Dengan kebebasannya manusia dapat memilih. Bahkan hidup dan mati ada pada pilihan manusia. Sebab itu, kefasikkan manusia tidak berasal dari Allah. Allah tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa. Itulah kebijaksanaan Allah yang sungguh besar. Ia mengenal segala pekerjaan manusia. Lebih dari itu, Allah dengan kekuatan dan kekuasaan kasihnya yang Mahaagung tetap menjaga dan melindungi setiap orang yang takwa kepada-Nya.

Peranan Yesus mendapat sorotan dan fokus utama dalam kotbah di bukit. Perjanjian Lama akan mendapat arti yang sesungguhnya jika memiliki referensinya kepada Yesus. Sebab, kedatangan Yesus adalah untuk mewahyukan makna sesungguhnya apa yang telah diwartakan dalam PL. Oleh karena itu, para murid-Nya dituntut untuk mengatasi para ahli Kitab dan orang Farisi dalam mencari kebenaran dalam hukum Allah. Jika tidak, mereka tidak dapat masuk Kerajaan Allah. Dalam kotbah-Nya di bukit, Yesus menandaskan ajaran yang sangat radikal. Yesus memperlawankan idealisme para ahli kitab tentang kekudusan yang berdasarkan pada tafsiran harafiah Alkitab. Perlawanan tersebut diungkapkan dengan cara anti thesis, di mana Sabda PL dipertentangkan dengan Sabda Yesus itu sendiri. Perlawanan dengan cara anti thesis tersebut menunjukkan bagaimana Yesus datang untuk menggenapi hukum dan nubuat para nabi.

Yesus menyadarkan para pendengar-Nya bahwa perilaku dan perbuatan setiap orang sangat ditentutakan oleh motivasi atau intensi yang ada dalam hati setiap orang. Oleh karena itu, sebagai orang beriman seseorang tidak cukup hanya menata sikap lahiriah supaya sesuai dengan hukum yang berlaku. Setiap orang beriman dituntut untuk secara jujur dan tulus menata hatinya demi sikap dan tindakan hidup yang baik dan benar serta menyelamatkan. Sebab, maksud atau tujuan yang baik dan benar akan mempengaruhi seluruh perbuatan dan hidup seseorang. Yesus mengingatkan hal yang mendasar tentang sumpah. Sumpah merupakan ungkapan kehendak manusia untuk meneguhkan tekadnya dalam kehendak Allah. Oleh karena itu, sumpah palsu merupakan pengingkaran dan pengkhianatan terhadap kehendak Allah. Maka, Yesus dengan tegas mengingatkan: “Ya, katakanlah ya; tidak, katakanlah tidak, lebih dari itu berasal dari si jahat”.Melalu Kotbah di Bukit, Yesus mencanangkan sebuah cara hidup baru, yaitu hidup berdasarkan kasih.

Kepada jemaat di Korintus Paulus menegaskan bahwa sebelum dunia dijadikan Allah telah menyediakan hikmat bagi kemuliaan manusia, khususnya bagi mereka yang takwa kepada-Nya. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, setiap orang beriman harus menaruh cinta kasih kepada Tuhan dan hidup di dalam cinta kasih Tuhan. Jika itu yang terjadi maka kebahagiaan dan ketenteraman yang selalu dicari dan diupayakan akan diberikan dalam kebijaksanaan Allah itu berkat Roh-Nya. Sebab ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”

Apakah aku telah memiliki hidup baru dalam Tuhan? Apa wujudnyatanya? Apakah aku sungguh meyadari dan meyakini bahwa kekuatan dan kekuasaan kasih Allah yang Mahaagung tetap menjaga dan melindungi setiap orang yang takwa kepada hukum-hukumNya? Apakah saya melihat hukum Tuhan sebagai beban atau sebagai jalan menuju kebebasan sejati? Sejauh mana aku telah menaruh cinta kasih kepada Tuhan dan sesamaku sebagai hukum Tuhan yang utama?

Mari kita melihat hukum Tuhan bukan sebagai beban, melainkan sebagai undangan untuk hidup bebas dalam mewujudkan kasih Allah. Sebab, kebebasan sejati adalah memilih jalan Tuhan. Kedewasaan iman adalah menghidupi hukum bukan sekadar di luar, tetapi di dalam hati. Dengan demikian, kita sungguh menjadi anak-anak Allah yang dewasa, bebas, dan bahagia.
Mari membuka diri terhadap tuntutan Roh Kebijaksanaan Allah untuk mewujudkan hidup baru dalam hukum utama, yaitu cinta kasih Allah.
Tuhan memberkati.*RD AMT