Saat Pengakuan Dosa Bapak pengakuanku (=P. Sopoćko) bertanya kepadaku apakah pada saat ini Yesus ada di sini dan apakah aku dapat melihat-Nya. “Ya, Ia ada di sini dan aku dapat melihat-Nya.” Kemudian, ia menyuruh aku bertanya kepada Yesus mengenai orang-orang tertentu. Yesus tidak menjawab aku, tetapi memandang dia. Tetapi, sesudah pengakuan dosa, ketika aku mendaras doa penitensi, Yesus berbicara sebagai berikut, Pergilah dan hiburlah dia atas nama-Ku. Tanpa memahami makna kata-kata ini, serta merta aku mengulangi kepadanya kata-kata yang telah diucapkan Yesus untuk kulakukan. BHF 466 

Merenungkan SKR hari ini, hatiku tertarik merenung jawaban Faustina atas pertanyaan Pastor Soposco: “Ya, Ia ada di sini dan aku dapat melihat-Nya.” Faustina melihat Yesus, bukan hanya percaya, tetapi sungguh melihat dan menyadari kehadiran-Nya.

Aku pun percaya bahwa Yesus hadir di kamar pengakuan, dalam Ekaristi, dan dalam setiap sakramen. Ia mendengarkan, Ia memandang, dan Ia berbicara. Tetapi, apakah aku melihat-Nya? Ataukah aku hanya hadir secara lahiriah tanpa kesadaran batin?
Acap kali aku datang, mengaku dosa, mendengar nasihat, dan menerima absolusi, tetapi hatiku tidak sungguh masuk ke dalam misteri kehadiran-Nya. Aku lebih melihat manusia, lebih mendengar kata-kata, lebih sibuk dengan ritual doa tanpa sungguh merasakan kehadiran Tuhan yang hidup. Hari ini aku diingatkan untuk selalu menjaga hati, agar tetap mengimani kehadiran Kristus.

SKR hari ini tidak berhenti pada misteri kehadiran Yesus yang dilihat Faustina. Yang lebih dalam lagi adalah cara Yesus menjawab Faustina. Ketika ditanya, Yesus tidak menjawab. Ia diam, Ia hanya memandang. Aku membayangkan tatapan itu, tatapan yang mengerti, yang membaca hati, yang tidak memerlukan banyak kata. Seolah-olah tidak ada jawaban, tetapi justru di situlah jawabannya mulai bekerja. Sebab sesudah itu Yesus berkata, “Pergilah dan hiburlah dia atas nama-Ku.” Aku tertegun. Yesus tidak menjawab pertanyaan, tetapi Ia menjawab kebutuhan hati. Ia melihat yang tidak diucapkan, memahami yang tersembunyi, dan masuk ke dalam kedalaman jiwa. Ia memilih untuk menghibur.

Aku merasakan betapa lembutnya cara Tuhan bekerja. Ia tidak terburu-buru menjelaskan, tidak memaksa untuk dimengerti, tetapi Ia menyentuh, memulihkan, dan menguatkan. Yesus tidak menghibur secara langsung. Ia justru mengutus Faustina untuk pergi menghibur atas nama-Nya. Luar biasa kasih dsn kebaikan Tuhan sangat nyata di sini. Tuhan yang Maha kasih dan penuh kebaikan memilih melibatkan, mengutus dan mempercayakan Faustina. Aku melihat sesuatu yang indah yakni Tuhan yang hadir adalah Tuhan yang peduli, yang tidak tinggal diam dan membiarkan Pastor Soposco dalam pergumulannya. Tuhan yang sama.juga telah selalu dan akan terus peduli padaku dan lada semua jiwa. Aku percaya!

Aku merenung. Betapa sering aku datang kepada Tuhan dengan banyak pertanyaan. Aku ingin jawaban, kejelasan, dan kepastian. Hari ini aku belajar bahwa Tuhan tidak selalu menjawab pertanyaanku, tetapi Ia selalu menjawab hatiku. Kadang bisa jadi jawaban itu bukan untukku sendiri, tetapi melalui diriku untuk orang lain. Aku bertanya diri. Apakah aku peka ketika Tuhan ingin memakai aku untuk menghibur, ataukah aku terlalu sibuk dengan pergumulanku sendiri? Apakah aku cukup hening untuk menangkap bisikan-Nya, ataukah aku terlalu penuh dengan suara-suara dalam diriku?

Memasuki Trihari suci aku terinspirasi dengan banyak permenungan di SKR dan ingin membawa masuk dalam permenungan bersama dalam misteri kasih yang agung dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Biar olehnya aku boleh bertumbuh dalam kepekaan, keterbukaan hati, dan kesediaan untuk diutus. Satu kata, satu perhatian, satu kehadiran, bisa menjadi hiburan atas nama Tuhan bagi jiwa yang sedang lelah. Aku merasa kita semua dipanggil untuk itu. Aku ingin belajar melihat kehadiran Tuhan, merasakan hati-Nya, dan tidak menutup diri ketika Ia mengutus. Siapakah aku sehingga aku berani memghindar jika diutus Yesus? Sedangkan semuanya telah dikurbankan untuk keselamatan dan kebahagiaanku. Yesus, Engkau andalanku.