Ini memberikan dorongan yang besar untuk menanggung pergulatan keras yang membentang di depan. Hari ini aku sudah berada di Vilnius. Biara itu terdiri atas beberapa pondok kecil yang tersebar. Sesudah menyaksikan gedung-gedung besar di Józefów (nama daerah biara di Kraków), suasana Vilnius terasa agak aneh bagiku. Di Vilnius ada 18 suster. Rumahnya kecil, tetapi kehidupan komunitas lebih akrab. Semua suster menyambut aku dengan hangat, dan bagiku ini memberikan dorongan yang besar untuk menanggung pergulatan keras yang membentang di depan. Suster Yustina (sahabat Faustina sejak masa novisiat) bahkan sudah menggosok lantai untuk menyambut kedatanganku. (BHF 261)
Semua suster menyambut aku dengan hangat, dan bagiku ini memberikan dorongan yang besar untuk menanggung pergulatan keras yang membentang di depan. Suster Yustina bahkan sudag menggosok lantai untuk menyambut kedatanganku. Kisah ini indah meski sederhana. Menjadi indah justru kesederhanaannya. Faustina mengalami kasih yang besar melalui penerimaan yang penuh kehangatan dari para susternya. Sungguh, kesan pertama yang sangat menguatkan dan meneguhkan Faustina.
Merenung kisah Faustina ini, saya ingat bahwa benar kita semua senang, bahagia jika diterima dengan baik, dengan senyum manis, sapaan ramah. Tampaknya biasa saja dan sederhana, namun bagi seseorang yang lain seperti Faustina yang baru datang ke tempat baru, sungguh suatu dukungan dan dorongan besar.
Sangat penting seseorang merasa diterima oleh orang lain. Ini bukan tentang sekedar perkataan verbal. Namun lebih tercermin dalam sikap sederhana. Faustina bahkan menulis di BHF bahwa sahabatnya Faustina sudah mengepel dan menggosok lantai untuk menyambutnya. Perbuatan sederhana yang belum tentu dapat dilakukan oleh orang lain. Menggosok lantai berarti menghargai, menerima tamu yang datang, sehingga merasa nyaman. Seperti inilah umumnya suatu kebiasaan di biara-biara. Jika ada tamu, memang kita memersiapkan sedemikian rupa agar tamu merasa nyaman, sama juga seperti dalam keluarga-keluarga saat menerima.tamu.
Tidak semua orang dapat menerima kehadiran kita dengan baik.Ada yang biasa saja, ada yang membuat kejutan kecil, ada yang memperlakukan tamu dengan kehangatan. Tidak heran, Faustina merasa semua itu sebagai dukungan besar, karena sebelumnya dia sudah alami pergumulan yang kita renungkan kemarin.
Kisah ini sungguh mengingatkan aku, bagaimana sikap batinku menyambut sesamaku. Terutama suster-suster yunior baru, aspiran atau yang mutasi atau juga orang bekerja bersama aku, para karyawan misalnya. Seingatku dulu-dulu, kami suka juga buat kejutan antara lain dengan merangkai bunga untuk menyambut, membuat kartu-kartu ucapan dari hasil kerja tangan/prakarya sederhana, bahkan ketika bel berbunyi, semua tunggu di depan pintu, ikut membawakan tas atau koper. Sangat bersukacita. Sama juga ketika aku datang ke biara lain, ketika disambut dengan penuh kehangatan. Sungguh sangat meneguhkan, merasa diterima, dihargai sesama. Sekarang ini, tampak sudah agak berkurang suasana hangat. Sebab semua disiapkan oleh asisten rumah tangga. Saat sesama tiba, semua ada di tempat kerja dengan kesibukan masing-masing. Tamu kadang disambut ART, lalu nanti tinggal WA atau telpon kalau sudah tiba. Terasa mulai luntur sikap hospitalitas, keramah tamahan. Sesama bisa merasa asing dengan sesamanya sendiri. Prihatin.
Kisah sederhana Faustina ini mengingatkan saya untuk merajut kembali pengalaman kasih sederhana yang mulai luntur, keramahtamahan dalam menerima tamu. Hadir bersama dengan canda tawa, menikmati suguhan sederhana, sekedar bertanya bagaimana pengalaman dalam perjalanan. Dari pengalaman Faustina saya belajar, menerima sesama dengan hangat ternyata menyembuhkan, meneguhkan hati, memulihkan segala rasa lelah, cemas dan pergumulan lainnya.
Saya jadi ingat, bagaimana Abraham menyambut tiga orang asing yang lewat di depan rumahnya. Bagaimana Abraham menyapa dengan ramah, memersilahkan mereka mampir sebentar di kemarnya bahkan menyajikan suguhan enak, Abraham mendapat berkat.
Saya juga ingat, Sabda Yesus: b”Brangsiapa menyambut seorang anak kecil, dia menyambut Aku.” Siapa pun tamu yang datang, merupakan tamu Ilahi.
Saya ingat, bagaimana Bunda Maria yang mengunjungi Elisabet sungguh membawa berkat dan sukacita besar bagi keluarga Zakharia, Kedua wanita ini , sama-sama saling meneguhkan. Tentu saja kualitas kasih yang tercermin dengan kehadiran dan sekedar ucapan, kiriman melalui WA atau karangan bunga sungguh berbeda. Kehadiran kita secara personal jauh mengungguli perhatian dengan cara apapun.
Sekarang, aku makin yakin dan mengerti, bahwa kita semua membutuhkan sedikit cinta dan perhatian yang konkret, yang dapat dirasakan, dialami secara langsung. Perasaan dicintai, diperhatikan, membantu kita untuk semakin teguh, kuat, berjalan maju terus. Sebab dengan perhatian sederhana dari sesama, semakin meyakinkan kita bahwa kita tidak sendirian. Sabda Tuhan, *Jangan takut, Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian,” mesti nyata dialami melalui kehadiran dan perhatian sesama. Yesus Kau andalanku.*hm
Recent Comments