MINGGU ADVEN IV
Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Rm. 1:1-7; Mat. 1:18-24
Saudara-saudari terkasih, bacaan hari ini menegaskan bahwa Allah setia pada janji-Nya. Janji tentang Imanuel—Allah beserta kita—digenapi dalam Yesus Kristus. Kehadiran Allah bukan sekadar ide, melainkan nyata dalam sejarah, melalui orang-orang yang taat dan berhati murni.
Raja Ahas sedang mengalami tantangan berat dalam perang yang disebut dengan perang Siro-Efraim. Dalam perang itu Kerajaan Siria (Aram) dan kerajaan utara, Israel (Efraim) bersekutu melawan kerajaan Selatan (Yehuda) yang dipimpin oleh raja Ahas. Peperangan itu terjadi karena raja Ahas tidak mau bekerja sama dengan kerjaan Siria dan Israel untuk memberontak melawan kerajaan Asyur, yaitu dengan cara tidak mau membayar pajak kepada kerajaan Asyur. Oleh karena itu kerjaan Siria dan Israel ingin menggeser raja Ahas dan menggantikannya dengan raja yang lebih dapat memenuhi harapan mereka. Berhadapan dengan Siria dan Israel, raja Ahas ingin meminta pertolongan kepada Asyur. Terhadap keinginan raja Ahas itu, nabi Yesaya menasehatkannya untuk tidak meminta pertolongan Asyur, sebaliknya tetap tenang dan tidak perlu takut, karena penyerbuan Siria dan Israel tidak akan pernah terjadi. Israel bahkan akan segera mengalami kehancuran. Raja Ahas tidak mempercayai nasehat sang nabi. Terhadap raja Ahas yang tidak percaya itu, nabi Yesaya memberikan tanda kepada raja Ahas. Secara amat tegas dan jelas Nabi Yesaya menunjukkan motif jahat Raja Ahas atas penolakan itu. Ia seolah-olah merendahkan hati dan dirinya di hadapan Allah. Namun sebenarnya pernyataanya menandaskan ketidakpercayaan yang amat dalam terhadap Allah sendiri. Oleh karena itu, kepadanya Yesaya menandaskan janji dan jaminan kepastian dari Allah: “Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamai dia Immanuel”.
Di dalam dan melalui Santo Yusuf nubuat Yesaya itu terwujud. Berbeda dengan raja Ahas yang berwibawa dan penuh kuasa serta memperoleh jaminan kepastian dari pihak Allah, Yusuf seorang rakyat biasa dan sederhana tampil sebagai tokoh yang tunduk dan taat sepenuhnya pada rencana dan kehendak Allah. Yusuf dipilih dan diutus untuk menjadi bapak bagi Yesus dan suami bagi Maria, untuk memastikan garis keturunan Yesus dari keluarga Daud menurut janji Allah sejak semula. Ia percaya sepenuhnya pada janji, pilihan, dan jaminan dari pihak Allah itu. Yusuf bahkan tanpa kata, tanpa kemasyuran dari luar namun sangat sempurna menerima dan menyelesaikan karya Agung Allah. Ia adalah sosok yang sangat terbuka dan taat pada Allah dalam bimbingan dan tuntunan Roh Kudus.
Kepada jemaat yang tidak didirikannya, Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai seorang rasul, utusan Allah untuk mewartakan kabar gembira. Ketaatan yang harus dimiliki oleh jemaat di Roma terhadap pewartaannya merupakan ketaatan kepada Allah sebagai hasil penerimaan dan kepercayaan kepada Yesus. Paulus menegaskan wawasan dasar iman dan karya pewartaannya pada pribadi Yesus. Yesus Kristus yang ditinjau dari kemanusiaannya, Dia adalah keturunan Daud. Tetapi ditinjau dari rencana keselamatan Allah, Dia adalah Anak Allah yang berkuasa. Allah yang membangkitkan Dia dari kematian berkat Roh Kudus yang menguduskan.
* Sejauh mana aku telah menyadari jaminan dan janji keselamatan Allah bagi diri dan hidupku? Apakah aku juga secara tahu, mau, dan mampu bersandar pada kekuatan, janji dan jaminan Allah dalam bimbingan Roh Kudus untuk melaksanakan kehendak Allah? Sejauh mana aku telah membuka diri bagi tuntunan Roh Kudus? Apakah imanku telah menjadi daya dan jaminan keselamatanku?
Bacaan-bacaan berpadu dalam satu pesan: Allah setia pada janji-Nya: Imanuel, Allah beserta kita. Kehadiran Allah menuntut kesucian hati dan hidup yang benar. Ketaatan Maria dan Yusuf menjadi teladan bagi kita untuk membuka diri pada karya Allah. Gereja dipanggil untuk menghadirkan rahmat dan damai Kristus di dunia.
Saudara-saudari, Yesaya menubuatkan Imanuel, Mazmur menuntut kesucian hati, Paulus menegaskan Yesus sebagai penggenapan janji, dan Injil Matius menunjukkan ketaatan Yusuf. Mari kita membuka hati, menjaga hidup tetap murni, dan taat pada kehendak Allah, agar janji Imanuel sungguh nyata: Allah beserta kita, dalam keluarga, masyarakat, dan Gereja.
Mari menyadari jaminan dan janji keselamatan Allah bagi diri dan hidup kita. Mari membuka diri sepenuhnya bagi tuntunan Roh Kudus untuk melaksanakan rencana dan kehendak Allah.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments