Jadikanlah hatiku peka. Peka untuk berbuat baik kepada sesamaku, tanpa memandang status, tanpa memperdulikan rupa dan tingkah(apakah ia baik atau jahat), kenal atau tak kenal. Hanya memandang semua sesama sama di mata Allah, sebagai pribadi yang dikasihi Allah. (Kasih sejati tak berlaku slogan : tak kenal maka tak sayang).

Allah mengasihi kita semua, baiklah kita juga mengasihi Allah melalui sesama yang kita jumpai setiap hari sebagai ungkapan terima kasih kita pada Sang Kasih itu sendiri. Jadi fokusnya hanya pada Allah sendiri. Ada pribadi Allah dalam setiap sesamaku.Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita orang yang mengasihi Allah!(BHF 506).

Santa Faustina mengatakan bukanlah hal besar mengasihi Allah di saat sejahtera dan bersyukur kepada-Nya ketika segalanya berjalan dengan baik,(…) di saat penderitaan yang pedih dan mengasihi Dia demi Dia sendiri dan hanya mengandalkan diriNya (BHF 995).

Tetapi sebagai manusia yang papa, kita sering jatuh pada cinta diri, pasti akan menghambat rahmat Allah yang bekerja dalam diri kita.
Saya harus selalu memohon kepada Allah agar memiliki hati yang peka untuk dimampukan mengasihi, meskipun perbuatan kita kecil dan biasa-biasa saja. Tetapi jika dengan kasih, semua itu menjadi besar di hadapan Allah, misalnya memberi senyum pada orang yang dijumpai, mengucapkan terima kasih pada petugas kebersihan yg sedang mengangkut sampah, mendoakan orang yg berselisih dan saling memusuhi, berbagi makanan, mendoakan jiwa dalam mobil jenazah yang lewat, mengunjungi lansia yang hidup sendiri, mengalah jika terjadi perselisihan, berusaha meminta maaf pada orang yang lama tak tegur sapa dan berdamai, tidak mudah menghakimi, dan banyak lagi kesempatan berbuat kasih karena kasih Allah luas tak terselami.  Semoga kita dimampukan karena mengandalkan kerahiman-Nya.*Nat