Aku mengikuti nasihat bapak pengakuanku, dan dalam perjumpaan pertamaku dengan Tuhan, aku tersungkur di kaki Yesus, dan dengan hati yang remuk redam aku minta maaf atas segala sesuatu. Kemudian Yesus membangkitkan aku dari lantai dan mendudukkan aku di samping-Nya. Ia membiarkan aku menyandarkan kepalaku pada dada-Nya sehingga dengan lebih baik aku dapat memahami dan merasakan keinginan-keinginan Hati-Nya yang teramat manis.
Kemudian Ia mengucapkan kata-kata ini kepadaku, Putri-Ku, jangan takut akan sesuatu pun. Aku selalu menyertaimu. Semua musuhmu akan menyakiti engkau hanya sebatas yang Aku izinkan untuk mereka lakukan. Engkau adalah tempat kediaman-Ku dan tempat istirahat lestari-Ku. Demi engkau, Aku akan menghentikan tangan yang siap menghukum; demi engkau Aku memberkati bumi.( BHF 431)
Nomor 431 hari ini sangat menyentuh hatiku. Faustina berkisah dengan begitu sederhana dan detail, tetapi justru di situlah kekuatannya. Saat membaca dan merenung, aku merasa terbawa masuk ke dalam pengalaman itu, seolah bukan hanya Faustina yang merasakannya, tetapi aku pun ikut hadir dan ikut disentuh.Gambaran ini sungguh membuatku terharu: Yesus membangkitkan Faustina dari lantai, mendudukkannya di samping-Nya, dan membiarkan ia menyandarkan kepalanya pada dada-Nya. Tidak ada kata-kata panjang. Tidak ada teguran keras. Hanya tindakan yang sangat lembut, penuh pengertian, penuh kasih sayang. Dari situ Faustina dapat memahami dan merasakan keinginan-keinginan Hati-Nya yang teramat manis.
Aku tercengang. Begitu nyata kehadiran Tuhan digambarkan : dekat, penuh afeksi, keibuan, dan sangat manusiawi dalam cara-Nya mengasihi. Tuhan tidak hanya berbicara untuk menenangkan, tetapi bertindak dengan kasih yang meneguhkan. Kasih yang tidak mengungkit dosa dan kelemahan, melainkan merangkul siapa pun yang datang dengan hati remuk redam.
Membaca kisah ini, aku spontan bertanya dalam hati: Beginikah seharusnya pengalamanku di hadapan Tuhan, terutama dalam Sakramen Tobat? Datang apa adanya, mengaku dengan jujur, lalu mengalami bahwa Tuhan tidak menolak, tidak menjauh, tetapi justru mendekat dan memulihkan. Yesus berkata kepada Faustina dengan begitu jelas dan penuh janji:“Putri-Ku, jangan takut akan sesuatu pun. Aku selalu menyertaimu.” Bahkan lebih lagi: “Demi engkau, Aku akan menghentikan tangan yang siap menghukum; demi engkau Aku memberkati bumi.” Alangkah bahagianya Faustina. Dan aku pun merasa bahagia karena mengenal Faustina. Melalui dirinya aku semakin mengenal kelembutan Hati Yesus.
Satu hal yang tinggal kuat dalam permenunganku hari ini: jangan takut datang kepada Tuhan. Jangan takut mengaku dosa.
Dia panjang sabar, berlimpah kasih setia, dan selalu menunggu dengan Hati yang terbuka. Dan masa prapaskah ini adalah waktu yang tepat itu.Faustina doakan kami. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments