Dengan doa, jiwa mempersenjatai diri untuk menghadapi segala macam pertempuran. Dalam keadaan apa pun jiwa berada, ia harus berdoa. Jiwa yang murni dan elok harus berdoa; kalau tidak, ia akan kehilangan keelokannya; jiwa yang gigih mengupayakan kemurnian harus berdoa; kalau tidak, ia tidak pernah akan mencapainya; jiwa yang baru bertobat harus berdoa; kalau tidak, ia akan jatuh lagi ke dalam dosa; jiwa yang berdosa, yang tenggelam dalam dosa, harus berdoa supaya dapat bangkit lagi. Tidak ada jiwa yang tidak harus berdoa karena melalui doa setiap rahmat turun kepada jiwa. (BHF 146)
Tidak ada jiwa yang tidak harus berdoa karena melalui doa setiap rahmat turun kepada jiwa. Saya sungguh meyakini ungkapan ini, karena sangat nyata dalam pengalaman hidup. Semua jiwa, setiap jiwa, setiap orang harus berdoa. Dari kecil dalam keluarga sudah diperkenalkan dangan doa dan terbiasa berdoa meskipun dengan meniru saja. Hidup di Indonesia yang dikelilingi dengan untaian doa-doa, sejak bangun pagi, sdh dengar
suara azan, sampai jelang tidur malam.Di mana-mana orang diingatkan untuk berdoa, sebab doa laksana napas, tidak berdoa bisa sesak napas, bisa mati (jiwa kering, layu,merana, mati).Doa bagaikan denyut jantung, berhenti berdoa, sama dengan berhenti hidup.
Dari kecil umumnya semua manusia, paham bahwa doa sangat dibutuhkan dan harus berdoa. Namun, dalam realita, kesadaran akan doa yang begitu penting, kadang tidak.seiring dan sejalan dengan praktek doa. Tahu harus berdoa, tetapi entah bagaimana kadang tidak tergerak untuk berdoa.
Apa yang digambarkab Faustina dalam BHF 146, begitu nyata, siapa saja yang kiranya harus berdoa. Yang tenggelam.dalam dosa, yang baru bertobat, yang mengupayakan kemurnian, yang rindu jiwanya murni dan elok harus berdoa. Tanpa doa, semua sia-sia.
Kadang-kadang saya malu sendiri. Merenung bagus sekali tentang doa dan bagaimana harus berdoa, tapi belum tentu saya berdoa sesemangat yang saya renung dan tuliskan. Sepertinya semua sudah beres cukup dengan kesadaran bahwa harus berdoa, tanpa doa itu sendiri.
Di suatu masa belasan tahun lalu, saya mengalami sakit yang tak terdeteksi oleh dokter. Penyakit yang tidak jelas atau cara dan proses pengobatan yang belum tepat. Karena rindu untuk sembuh, merasa masih cukup muda, berjuang untuk sehat dengan banyak berdoa. Bukan kuantitas doa, yang di biara tidak kurang waktu doa yang sudah teratur, tapi kualitas doa. Bukan banyaknya jenis dan bentuk doa, berapa lama berdoa, tetapi aku menjadi sadar sepenuh-penuhnya, bahwa intimitas, kedekatan jiwaku dengan Tuhan, cita rasa kasihku dengan Bapa dan terutama sedalam apa cintaku pada Tuhan.
Aku sembuh setelah hampir 2 tahun sakit, karena kemurahan Tuhan dan setelah memerbaiki cara dan kualitas doaku. Doa dengan mendengarkan Firman Tuhan. Jiwaku rindu mendengarkan Tuhan dan saya memilih memdengarkan Tuhan dari pada berbicara, memohon. Satu kutipan Injil yang membuat aku sangat terkejut, adalah Yohanes 5 :42 “Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah.” Sungguh Firman ini seperti sebilah pedang yang menusuk hatiku, dan bertahun-tahun baca Kitab suci baru saat itu merasa baru tahu dan baru dengar. Berminggu-minggu bergumul dengan satu ayat ini dan nyaris merasa semua usia hidup yang telah berlalu seperti sia-sia. Hatiku merasa, dalam praktek doaku, masih saja kurang cintaku pada Tuhan. Jika seadainya aku tak mengenal kerahiman ilahi dan doa koronka, barangkali bisa putus asa. Tapi puji Tuhan, pujian bagi kasih kerahiman-Nya yang besar bagi jiwaku. Semua berlalu dengan kesadaran baru untuk bertobat dan membaharui diri.
Jiwaku harus berdoa dengan cinta yang besar bukan sekedar atau biasa-biasa saja. Apa yang diungkapkan Faustina dalam teks yang direnungkan ini, sungguh benar aku alami. Bagiku, semua bisa terjadi jika motivasi doa bukan karena cinta akan Allah dan memuliakan ALLAH, tapi untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan terkabulnya doa. Aku jadi sadar betul, tanpa aku berdoa dengan sungguh-sungguh, Tuhan sudah selalu menyediakan, memberikan segalanya yang kuperlukan. Lalu untuk apa aku harus berdoa? Untuk mencintai dan bersyukur, untuk bertobat dan membaharui diri supaya semakin menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Benar, dalam segala hal, dan setiap situasi hidup, doa harus menjadi senjata jiwaku. Doa yang penuh cinta, dengan kegirangan dan sukacita karena akan berjumpa yang dicintai.
Sampai detik ini, saya berjuang untuk selalu berdoa dengan cinta. Namun, aku sadar lebih banyak gagal daripada berhasil. Untung, melalui Faustina aku paham, jiwa yang papa paling mempunyai hak untuk memeroleh kerahiman Ilahi. Sungguh papa jiwaku, lemah dan rapuh. Perjuangan belum usai, musuh jiwa semakin ganas dan menjadi-jadi, tapi aku percaya dan mau berlindung dalam hati-Nya yang penuh kasih, rahim dan murah hati. Sebab hanya dalam hati-Nya jiwaku nyaman dan berani melangkah dengan keyakinan besar Yesus Kau andalanku.
Sungguh, kuperlu Tuhan dalam hidupku, setiap saat, setiap waktu. Jembatannya adalah doa yang penuh cinta. Meski cintaku suam-suam kuku, kuat lemah seperti signal pegunungan, atau kembang kempis, aku.akan tetap berdoa, duduk di hadirat-Nya, memberikan waktu dan hati untuk Tuhan, bersyukur, memuji, menyembah, memuliakan dan memohon. Apa pun caranya, aku lakukan asalkan semua itu untuk Tuhan. Semoga berkenan kepada-Nya dan jika saatnya nanti kembali, kiranya Tuhan menemukan cinta di hatiku,dalam doa-doaku dan seluruh karya hidupku.
Yesusku, tambahkan iman dalam hatiku, supaya aku sungguh mencintai-Mu.*hm
Recent Comments