Keheningan itu ibarat pedang dalam pertempuran rohani. Jiwa yang banyak bicara tidak pernah akan mencapai kesucian. Pedang keheningan akan membabat segala sesuatu yang akan melekat pada jiwa. Kita terlalu peka terhadap kata-kata dan ingin cepat-cepat menanggapinya, tanpa mempertimbangkan sedikit pun apakah yang akan kita katakan itu adalah kehendak Allah. Jiwa yang hening itu kuat; tidak ada hambatan yang akan merugikannya asalkan ia tetap bertahan dalam keheningan. Jiwa yang hening mampu menyatukan diri secara paling mesra dengan Allah. Hampir selalu ia hidup di bawah ilham Roh Kudus. Dalam jiwa yang hening, Allah bekerja tanpa rintangan. BHF 477

Faustina menulis tentang keheningan secara amat luas dan dalam. Tentu saja ini bukan sekadar sebuah teori, tetapi lahir dari pengalamannya sendiri, hidup di biara kontemplatif pada masa itu yang telah difasilitasi sedemikian rupa dalam kesunyian, serta keheningan lahiriah dan batiniah.
Saya tertarik untuk merenung lebih dalam bahwa jiwa yang hening itu kuat. Tidak ada hambatan yang merugikannya asalkan ia tetap bertahan dalam keheningan. Kuat dalam hal apa yang kiranya dimaksudkan Faustina? Kuat menghadapi segala problema dan pergumulan hidup. Hidup ini penuh kesukaran dan perjuangan, baik jasmani maupun rohani. Bagi Faustina, secara jasmani mungkin semua tersedia, maka perjuangan jiwa dalam pergumulan iman memerlukan kekuatan batin yang ekstra.

Bagaimana mungkin kita dapat melewati hari-hari atau saat-saat penuh pergumulan jika pikiran, perasaan, dan hati dipenuhi suara-suara kebisingan? Nyaris tidak mungkin untuk tenang barang sejenak. Barangkali badan tetap tegar bertahan, tetapi tidak demikian dengan hati yang sedang gundah gulana. Ketenangan dan keheningan tidak hanya membantu, tetapi bagiku menjadi sebuah jalan, bahkan sebuah jawaban atas banyak hal. Sebab di dalam batin yang hening, pikiran menjadi jernih dan bening, dapat melihat sesuatu secara lebih jelas, dapat mendengar suara Tuhan, dan menangkap maknanya dengan lebih leluasa. Sekali, dua kali, lalu berkali-kali akan menjadi terbiasa dengan pola keheningan yang akan membuatku kuat menghadapi segalanya.

Tidak mudah bagi pemula yang sedang belajar untuk tenang, sebab banyak suara gaduh dalam pikiran yang berlomba-lomba ingin menampakkan diri dengan sikap reaktif, bahkan dengan berbagai rancangan yang berlebihan. Jika tidak hening, memang kita mudah terjebak dalam pilihan yang semula dirasakan tepat, namun akhirnya kita sadar bahwa itu keliru.
Hening itu perlu dilatih. Tidak sekadar mau diam dan tenang, atau pergi ke tempat yang sunyi, atau tidak beraktivitas sama sekali.

Saya sangat tertarik dengan hidup Faustina karena berkali-kali menemukan bahwa Faustina tetap hening meskipun ia sibuk beraktivitas. Faustina tetap bisa berdialog dengan Tuhan, bahkan melihat, mendengar, dan merasakan kehadiran Tuhan di tengah aktivitasnya. Saya yakin hal ini terjadi karena ia telah melabuhkan pikiran, perasaan, dan hatinya hanya pada satu hal, yakni Tuhan Yesus—berpikir tentang Tuhan, berbicara dengan Tuhan, dan melakukan semuanya bersama Tuhan. Hatinya tenang, dan pikirannya fokus kepada Tuhan. Pastilah jiwanya kuat karena terikat dengan Tuhan sendiri.
Apakah tidak ada godaan? Ada, bahkan sangat banyak. Namun hebatnya Faustina, semakin banyak godaan, ia semakin mendekat dan merapatkan dirinya pada Tuhan. Ia tetap bertahan dalam relasinya dengan Tuhan.

Dalam pergumulan sekian waktu di biara dan dalam mendalami BHF, saya menemukan dan mengalami pencerahan untuk belajar hening ala Faustina yang saya tangkap dan maknai. Bukan sekadar soal tempat yang harus sunyi, bukan pula sedikitnya pekerjaan yang harus dilakukan, bukan hanya waktu doa yang banyak atau harus lebih banyak diam atau mengunci mulut, tetapi lebih dari itu diperlukan sebuah latihan untuk mendengarkan suara Tuhan lewat Sabda-Nya dengan sungguh-sungguh. Suatu disiplin rohani yang mengutamakan mendengarkan suara Tuhan, merenungkan Sabda-Nya, mengunyah-ngunyah, mengulang, dan memikirkannya dengan sukacita.
Banyak mendengarkan Sabda Tuhan menginspirasi jiwa, sehingga hati mengetahui kebenaran iman.

Saya berani menulis di sini karena telah pernah mencobanya. Benar, ternyata lebih mudah membuat hatiku tenang dan hening daripada sekadar menutup mulut, sebab Firman Tuhan yang didengar dan direnungkan pada saatnya memenuhi pikiran, hati, dan jiwa. Benar, Firman Tuhan itu ibarat pedang yang menembus jiwa. Dari situ aku tahu bahwa hening bukan sekadar mengosongkan pikiran yang justru dapat memunculkan berbagai hal aneh yang melayang-layang, tetapi mengisinya dengan Firman Tuhan.

Jika hidup diisi dengan Firman Tuhan, dan terlebih lagi dengan tuntunan pengalaman hidup rohani Faustina yang menginspirasi, hidup ini menjadi berbeda. Masalah mungkin tetap ada, sakit penyakit tetap kita alami, pergumulan tetap kita hadapi, tetapi cara menghadapinya sudah sangat berbeda. Seperti Faustina, akhirnya mungkin bukan lagi keluh kesah atau usaha-usaha hebat untuk menghilangkan berbagai masalah, tetapi rasa syukur dan mempersembahkan semuanya kepada Allah. Hati menjadi tenang, jiwa tenteram, dan makna hidup menjadi lebih jelas.

Ya, semua karena jiwa yang hening itu kuat. Mengapa kuat? Karena mendapat asupan santapan rohani dari Firman Tuhan dan kedekatan dengan-Nya. Jadi, bagiku yang membuat jiwa itu kuat bukan sekedar heningnya tetapi jiwa yang telah dirasuki, dihidupi oleh Firman Tuhan. Saya percaya bahwa BHF itu semacam intisari hidup rohani yg indah yg dikehendaki Tuhan, maka Firman Tuhan harus nomor satu dan belajar mwnghidupi ala Faustina adalah nomor dua. Puji Tuhan, pelan namun pasti selalu ada sesuatu yang baik.. Faustina telah lulus ujian, kini saatnya saya belajar demikian agar jiwaku makin kuat dan mengakar dalam Tuhan dan Firman-Nya.
Yesus, Engkau andalanku.