Yesus memberitahukan kepadaku bahwa kalau aku ragu-ragu mengenai Pesta Kerahiman dan pendirian kongregasi itu – Atau mengenai semua hal lain yang sudah Aku katakan dalam lubuk jiwamu, maka akan segera Kujawab melalui mulut imam ini. (BHF 463)

Merenungkan tentang Faustina yang ragu-rahu aku tersentuh karena langsung melihat diriku yang juga sering ragu-ragu.
Ternyata Faustina pun mengalami keraguan. Ada keyakinan, tetapi ada juga keraguan. Ada saat-saat percaya penuh tetapi ada juga saat hati goyah. Dan yang membuat terharu…Yesus tidak menegur keras keraguan itu. Yesus tidak marah. Ia justru mengerti dan dengan sabar mengikuti proses Faustina.

Aku melihat diriku sendiri.Sering kali aku merasa yakin akan kehendak Tuhan,tetapi di saat yang sama, muncul keraguan. Bukankah ini dari Tuhan? Apakah saya tidak salah langkah? Aku aku tidak salah mengambil keputusan? Apakah aku mampu menjalaninya? Bagaimana nanti jadinya? Banyaknya pertanyaan berseliweran yang membuat orang menjadi lama dsn tertunda. Keraguan itu datang diam-diam masuk ke dalam pikiran, mengusik hati, membuat perasaan juga tidak nyaman, dan terkadang juga menyalakan langkahku. Jika aku berpikir tanpa berdoa, keberanian hilang lalu tidak mengambil keputusan apa-apa, padahal bisa melakukannya. Akhirnya merasa bersalah karena mengabaikan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Saya merasa keraguan memiliki dampak besar jika tidak diolah dengan baik, dibawakan dalam doa dan melibatkan Tuhan. Bisa salah pilih, salah bertindak. Namun melalui SkR ini aku belajar sesuatu dari Faustina bahwa keraguan bukanlah akhir dari iman.

Keraguan justru bisa menjadi jalan menuju iman yang lebih murni. Sebab dalam keraguan, aku bertekad untuk mencari Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh.
Aku tidak lagi berjalan dengan rasa “sudah tahu”, menganggap itu mudah atau sudsh beres. Tetapi dengan kerendahan hati mau bertanya dan mendengarkan. Mau lebih serius mempertimbangkan. Bukankah ini merupakan bagian nyata dari mengandalkan Tuhan?

Aku mulai lebih mengerti bahwa iman bukan berarti tidak pernah ragu. Iman tetap melangkah, meski ada keraguan. Iman tetap percaya, meski belum melihat dengan jelas. Dan yang paling menguatkanku Yesus sendiri berjanji akan menjawab. Meski memang tidak segera atau cepat-cepat tetapi berproses. Tuhan tidak membiarkan Faustina berjalan dalam kesulitan. Ia berbicar bahkan melalui perantaraan yang sederhana: seorang imam. Aku pun percaya Tuhan juga berbicara padaku.Melalui orang-orang di sekitarku, melalui peristiwa hidup, melalui Sabda-Nya, bahkan melalui hal-hal kecil yang sering tidak kusadari. Antara buku lain yang saya baca, sekarang melalyi SKR, dan banyak hal lain, asallan aku membuka pintu pikiran dan hati dan punya niat yang sungguh-sungguh untuk mendegarkan.

Merenungkan ini, saya merasa diteguhkan bahwa saya tidak perlu takut akan keraguanku. Aku hanya perlu membawa keraguan itu kepada Tuhan. Bukan menjauh tapi justru mendekat. Bukan menutup diri, tapi membuka hati. Aku belajar berkata: Tuhan, aku percaya, tambahkanlah imanku. Ketika aku ragu, aku tidak akan berhenti melangkah, namun tetap berjalan bersama-Mu, percaya bahwa Engkau akan menjawab pada waktu yang tepat. Yesus Engkau andalanku