RABU, PEKAN BIASA XVI, PESTA ST. MARIA MAGDALENA
Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Yoh. 20:1.11-18.
Hari ini Gereja merayakan St. Maria Magdalena, murid yang setia, yang dengan kasih dan air mata mencari Yesus di makam. Ia menjadi saksi pertama kebangkitan Kristus. Bacaan liturgi menyingkapkan kerinduan jiwa akan Allah, kasih Kristus yang mengubah hidup, dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang bangkit.
Kisah tentang Maria Magdalena diceritakan dalam keempat Injil. Namun kisah tentang dirinya bercampur baur dengan beberapa nama Maria. Oleh tradisi Kristen ia diidentifikasikan dengan beberapa sosok seperti Maria dari Betania, saudari Marta dan Lazarus, atau dengan seorang wanita pendosa yang bertobat dan kemudian mengikuti Yesus. Meski demikian, hal yang pasti bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang dikatakan sebagai orang pertama yang melihat Yesus setelah bangkit dari kubur.
Kisah Maria mematri sebuah perwujudan relasi istimewa dengan Yesus yang diimaninya. Relasi itu tercipta karena iman kepercayaan yang dibina dalam seluruh perjuangan hidup. Baginya, Yesus adalah “jantung hatinya”. Karena itu, ia memegang-Nya dan tidak pernah dilepaskannya lagi. Ia adalah ciptaan baru yang mampu mengorientasikan seluruh dirinya pada Yesus, sang Jantung Hatinya sebagai satu-satunya ukuran, patokan, dan daya serta gairah seluruh hidup berimannya.
Pengantin perempuan mencari kekasihnya di malam hari, melambangkan jiwa yang merindukan Allah. Maria Magdalena pun mencari Yesus dengan air mata. Setiap orang diajak untuk memiliki kerinduan sejati akan Allah, tidak berhenti mencari Dia dalam doa dan iman.
Paulus menegaskan bahwa kasih Kristus menguasai kita. Barangsiapa ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Setiap orang Kristen diajak untuk membiarkan kasih Kristus mengubah hidup. Pertobatan sejati melahirkan manusia baru.
Maria Magdalena menangis di makam, lalu Yesus memanggilnya dengan namanya: “Maria!” Ia pun mengenali-Nya. Setiap orang Kristen diajak untuk menyadari bahwa Kristus mengenal kita secara pribadi. Ia memanggil kita dengan nama, dan perjumpaan dengan-Nya membawa sukacita dan misi. Sejauh mana aku telah membangun relasi yang semakin intim dengan Yesus yang aku imani? Apakah Yesus telah menjadi “jantung hatiku”? Apakah Yesus telah menjadi satu-satunya ukuran, patokan, daya dan gairah hidup berimanku?
Hari ini kita diteguhkan oleh teladan St. Maria Magdalena: kasih yang mencari Yesus, iman yang teguh, dan keberanian menjadi saksi kebangkitan. Mari kita membuka hati untuk perjumpaan pribadi dengan Kristus, agar hidup kita menjadi ciptaan baru yang penuh kasih. Mari belajar dan meneladani St. Maria Magdalena, membangun relasi iman yang semakin intim dengan Yesus yang kita imani.
Tuhan memberkati. RD AMT
Recent Comments