Dalam pengakuan dosaku yang kedua kepada Uskup Agung [aku beroleh nasihat], “Ketahuilah, Putriku, bahwa kalau ini memang kehendak Allah, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan karena kehendak Allah harus dilaksanakan. Kasihilah Allah yang ada di dalam hatimu, …” [kalimat tidak selesai]. BHF 479

Hatiku tertuju pada pesan dari Uskup Agung di ruang pengakuan dosa, yang aku percayai sebagai kehadiran Allah sendiri secara nyata, yang memberikan peneguhan kepada Faustina: “Kasihilah Allah yang ada dalam hatimu.”

Merenungkan pesan ini, aku teringat pada kutipan dari Injil Yohanes 5:42: “Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu, bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah.” Ayat ini sudah lama sekali selalu aku ingat dan batinkan dalam diriku sebagai sebuah ayat kunci yang mengingatkanku bahwa Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakannya. “Kasihilah Allah yang ada dalam hatimu” merupakan sebuah amanat yang mengandung panggilan untuk selalu bertobat dan bersyukur. Bersyukur karena Allah selalu ada dalam hati, tinggal di dalamnya, dan melakukan segala karya-Nya dalam diri Faustina, juga dalam diriku. Kasih kepada Allah bukan sekadar sebuah perasaan, tetapi merupakan sebuah keputusan hati dan sikap hidup, suatu tindakan kasih yang mengalir dari rasa syukur.

Dalam konteks inilah, ayat favoritku dari Yohanes 5:42 kuperhadapkan dengan pesan Uskup Agung kepada Faustina, dan tentu saja kepadaku hari ini. Bukan suatu kebetulan pula, dalam Injil hari ini hadir ayat kunci utama bagiku dalam seluruh Injil Yohanes, yaitu Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” Semua tentang kasih. Kasih yang selalu bermula dari Allah, untuk manusia dan segenap ciptaan-Nya.

Namun, tawaran kasih itu tidak selalu direspons secara tepat. Ada pilihan untuk hidup dalam kegelapan dosa dan menghindari kasih. Faustina diperhadapkan dengan pilihan yang berat untuk melaksanakan kehendak Allah. Nasihat Uskup Agung begitu bermakna: jika apa yang dialaminya adalah kehendak Allah, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan, karena kehendak Allah harus dilaksanakan. Untuk melaksanakan kehendak Allah, kasih adalah landasannya. Kasih akan Allah dalam hati kemudian memancar keluar kepada mereka yang dikehendaki Allah. Kasih ini mengandaikan sikap mendengarkan dan ketaatan kepada Allah serta Firman-Nya. Bagaimana mungkin melaksanakan kehendak Allah tanpa kasih, tanpa mendengarkan, dan tanpa ketaatan kepada-Nya? Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan melaksanakan perintah-Ku.” Dan perintah itu adalah untuk saling mengasihi.

Bagiku, indah sekali merenungkan SKR dan Injil hari ini. Semuanya berbicara tentang kasih, kasih, dan sekali lagi kasih. Kasih selalu dimulai dari Allah yang berbicara dalam keheningan batin. Jika aku berani mengasihi Allah dalam hatiku, maka cepat atau lambat kasih itu akan terwujud nyata dalam sikap hidup serta tindakan kasih. Di situlah kehendak Allah terlaksana dalam hidupku. Sering aku tidak tahu secara pasti apa kehendak Allah bagiku. Namun, aku tahu satu hal yang tidak pernah boleh aku abaikan yakni setiap hari, sejak bangun pagi hingga tidur malam, aku dipanggil untuk mengasihi yakni mengasihi Allah, mengasihi sesama, mengasihi jiwa-jiwa, dan mengasihi segenap ciptaan. Untuk itu, aku harus berani bergumul dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mewujudkannya, ditopang oleh doa-doa.

Aku sadar bahwa merencanakan untuk mengasihi tampak mudah, tetapi ketika berhadapan dengan realitas hidup, sering kali terjadi pertempuran sengit dalam pikiran, batin, dan jiwa. Untuk memenangkan pertarungan ini, aku membutuhkan banyak rahmat dan kasih dari Allah. Hanya dengan rahmat-Nya aku dimampukan untuk bisa dan tetap  setia. Jika aku kalah, maka Yohanes 5:42 seakan menegurku: benar bahwa di dalam hatiku tidak ada kasih akan Allah, sehingga begitu mudah bagiku untuk mengabaikan dan  menutup mata terhadap realitas hidup yang membutuhkan uluran tangan kasihku. Allah ada di mana-mana, tetapi jika aku tidak mampu mengasihi Allah yang hadir dalam hatiku, aku juga akan menjadi buta terhadap kehadiran-Nya di luar diriku, di sekelilingku, dan dalam segala sesuatu yang terjadi atasku.

Terima kasih atas pengalamanmu Faustina yang meneguhkan imanku. Aku rindu setiap hari  selalu memulai dengan mengasihi Allah dalam hatiku, supaya mata hatiku mampu melihat dengan jelas kehadiran-Nya di sekitarku dan di mana-mana. Dengan penuh keyakinan, aku percaya bahwa di situlah tempat dan sarana bagiku untuk melaksanakan kehendak Allah. Faustina, tetaplah mendoakan aku dan kami semua, supaya kami dapat mengasihi Allah dalam hati kami dan agar kehendak Allah atas hidup kami masing-masing boleh terjadi. Yesus, Engkau andalanku.