Merenungkan sengsara Tuhan adalah waktu yang paling favorit dari 24 jam sehari pemberianNya, sesuatu yang sakral dan intim bersama Yesus, seperti yang sering dilakukan Santa Faustina. Membayangkan Yesus di taman Getsemani, peluh darah ketika (manusia)Yesus ketakutan akan apa yang harus dijalaninya, sengsara yang mengerikan sudah di depan mata. Bapa biarlah cawan ini berlalu daripadaKu tetapi menurut kehendakMu. Yesus sebagai manusia tetap alami ‘takut, tapi tetap taat.
Lalu waktu Yesus dibawa ke pengadilan untuk diadili, terngiang, salibkan Dia, salibkan Dia, dan pilatus tidak cukup berani membelaNya lalu putusan salib dijatuhkan (kengerian dimulai). Yesus diseret diperlakukan sehina-hinanya, dipermalukan, diolok, martabatnya dibuat serendah-rendahnya, diludahi, dicambuk, dimahkotai duri (derita yang tak sanggup kubayangkan), Yesus seandainya aku disana, sanggupkah kupeluk dirimu untuk menahan satu cambukan saja ketika Engkau dicambuki? “Hai umat-Ku apa salah-Ku kepadamu, jawablah kapankah Aku menyusahkanmu’. Dalam perjalanan ke Golgota, kendati fisikmu sudah hancur, remuk redam, tetapi Engkau tetap taat pada kehendak Bapa-Mu, dengan sisa tenaga Engkau menapaki jalan salibMu. Ini memberi kekuatan padaku saat derita melanda hidup. Saat bertemu Veronika, Yesus, ijinkan aku ikut serta mengusap wajah-Mu yang berlumuran darah (beranikah aku ikut ambil bagian dalam penderitaan orang lain, walau resiko disakiti dan dibenci.
Engkau jatuh berkali-kali Yesus, salib yang berat, tetap Kau panggul hingga puncak golgota semua karena dosa-dosa kami (penyesalan demi penyesalan, o Guru, ampunilah kami yang sering memperberat salibMu)🙏
Tibalah saatnya tangan kakiMu dipaku (kengerian yang tak sanggup aku bayangkan), Yesus…
Memandang Guruku yang tersalib, dengan tangan terentang tak berdaya
Aku hanya dapat bersujud, memohon pengampunanMu…
Dari salib-Mu Kau lihat, tak terbilang yang menghujat, berapakah yang setia. Tetapi hati-Mu Tuhan, tak sedikit pun ternoda dengan kemarahan dan kebencian, kendati Engkau kecewa dan sedih, doaMu pada Bapa: “Ampunilah mereka Ya Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”
Mereka sudah menyalibkanMu tapi KASIHMU TAK TERKALAHKAN. Lalu terngiang juga kata-kata Yesus “Aku haus…”. Yesus seratus persen manusia pasti mengalami rasa haus yang sangat secara fisik, tetapi aku menangkap ini sebagai ungkapan teologi yang dalam, Yesus seratus persen Tuhan (Allah Tritunggal) juga haus akan cinta murni kita manusia yang sudah Dia tebus. Akankah kita membalas kasihNya? Apakah pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi sia-sia, jika aku belum mati bagi dosa?
Aku sering berjumpa dalam permenungan “Aku haus”. Tuhan semoga semakin hari, dengan merenungkan kerahiman-Mu, aku dapat membawa air segar untuk kupersembahkan pada-Mu, biar menghilangkan sedikit saja dahaga-Mu. Aku bersyukur akan cinta-Mu, akan kerahiman-Mu yang tak terperikan. Ijinkan aku menjadi murid-Mu yang selalu mengarahkan mata memandang Guru yang tersalib, di mana aku dapat menimba daya ilahi yang menjadi terang dan kekuatanku dalam kehidupan ini, semoga!
Di akhir hari, aku ajak anakku berdoa dan merenungkan jalan salib-Mu dalam doa menutup hari ini. Selesai doa, dari mulut mungilnya dia ucapkan : “Mami kalau kita berdosa terus, kasihan Tuhan salib-Nya jadi tambah berat”. Aku memeluk dia erat-erat. Tak terasa air mata mengalir, terima kasih sayang, terima kasih Yesus.*Nat
Recent Comments