SENIN, OKTAF PASKAH
Kis 2:14.22-32; Mzm 16:1-2a,5,7-8,9-10.11; Mat 28:8-15.

Kebangkitan yang ditandai dengan makan kosong menjadi kenyataan yang tidak mudah untuk diuraikan. Setiap orang dituntut untuk menjatuhkan pilihan, percaya atau menolak kenyataan kebangkitan. Para murid dan orang-orang yang dekat dengan Yesus juga tidak serta merta memahami kenyataan itu. Tetapi perjumpaan dengan Yesus yang bangkit membuat mereka menjadi percaya. Maria Magdalena dan Maria ibunda Yakobus akhirnya memiliki keyakian yang amat teguh setelah mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus itu sendiri. Lalu mereka mewartakan perjumpaan itu kepada para rasul. Sedangkan para penjaga makan, imam-imam kepala, dan kaum tua-tua memolak kebangkitan Yesus sebagai penjelasan dari makam yang kosong. Mereka lalu menyebarkan berita bohong bahwa jenazah Yesus dicuri oleh para murid Yesus.

Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit membuat Petrus tidak bisa menahan diri lagi untuk bersaksi. Ia tidak dapat tinggal diam lagi. Ia berbicara dengan bangga tentang imannya akan kebangkitan Yesus. Ia bukan lagi Petrus yang ingkar dan mengkhianati Yesus lagi. Berkat peristiwa Paskah hidupnya diperbarui!

Apa dan bagaimana pengalaman imanku tentang peristiwa kebangkitan Yesus? Apa sikap dan pilihan imanku saat ini? Pemabaruan seperti apa yang sedang terjadi dalam diriku saat ini sebagai sebuah peristiwa perjumpaan dengan Yesus yang bangkit? Apa usaha pembaruan yang ingin aku wujudkan dalam hidup imanku?
“Kristus yang bangkit adalah jaminan bahwa kebenaran tidak bisa dikubur, harapan tidak bisa dimatikan, dan hidup baru selalu mungkin. Mari kita pilih menjadi saksi kebangkitan, bukan penjaga kebohongan.”
Mari membuka diri kita seutuhnya bagi pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Mari membarui diri kita dalam daya kebangkitan Kristus sebagai wujud kebangkitan iman kita!
“Kebangkitan Kristus meneguhkan: kebenaran tak bisa dikubur, harapan tak bisa dimatikan, dan hidup baru selalu mungkin.”
Tuhan memberkati.*RD AMT