KAMIS, OKTAF PASKAH
Kis 3:11-26; Mzm 8:2a,5,6-7,8-9; Luk 24:35-48.

Bacaan hari ini mengajak kita melihat bagaimana kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa besar, tetapi kuasa yang nyata: kuasa yang memulihkan, membuka pikiran, dan mengutus kita menjadi saksi. Seperti Petrus yang berani bersaksi, seperti murid-murid yang akhirnya mengerti Kitab Suci, kita pun diajak untuk mengalami kebangkitan secara personal.

Kebangkitan Yesus bukan hanya sekadar kehadiran rohani belaka. Kehadiran kebangkitan-Nya adalah keutuhan diri-Nya. Berhadapan dengan para murid-Nya yang masih ragu-ragu, walau sudah mengalami beberapa kali penampakkan. Yesus menyatakan diri hadir secara utuh. Kenyataan fisik dari tubuh-Nya yang bangkit dinyatakan-Nya. Ia hadir menyapa mereka, menunjukkan diri seutuhnya kepada mereka. Walau demikian sekali lagi kita disadarkan bahwa untuk percaya dan beriman kepada-Nya, Tuhan sendiri harus membuka pikiran kita. Kekuatan manusia saja tidak mampu!
Penyembuhan orang lumpuh yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes menandaskan kebenaran dasar tersebut. Kepada orang banyak yang masih keheranan atas peristiwa penyembuhan itu mereka menandaskan bahwa kepercayaan dalam nama Yesuslah yang telah memberikan kesembuhan kepada orang lumpuh itu.Namun, untuk memahami semua misteri penyembuhan itu, setiap orang ditantang untuk membangun kesadaran dan pertobatan diri yang utuh.

Sejauh mana aku telah mengandalkan kekuatan Tuhan untuk membuka mata imanku? Apakah aku telah mengandalkan kekuatan Tuhan seutuhnya? Bagaimana aku telah membangun kesadaran dan pertobatan diri yang utuh? Apa saja wujud konkretnya?
Kebangkitan Kristus adalah kuasa yang membuka pikiran, memulihkan hidup, dan mengutus kita menjadi saksi. Mari kita biarkan Kristus menyentuh hati kita, agar kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi sungguh menjadi saksi kebangkitan di keluarga, masyarakat, dan Gereja.
Mari mengandalkan kekuatan Tuhan untuk membuka mata iman kita. Mari membangun kesadaran dan pertobatan diri yang utuh.
Tuhan memberkati.*RD AMT