HARI MINGGU PASKAH III
Kis 5:27b-32,40b-41; Mzm 30:2+4,5+6,11+12a+13b; Why 5:11-14; Yoh 21:1-19 (1-14)
Yesus yang bangkit menampakkan diri beberapa kali kepada para rasul-Nya. Yohanes menceriterakan bahwa suatu ketika para rasul berkumpul kembali di pantai Danau Tiberias. Ketika Petrus hendak pergi menangkap ikan, para rasul yang lain ikut juga. Namun, walau telah berusaha semalam-malaman, mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus menampakkan diri kepada mereka. Karena tidak menangkap apa-apa, maka Yesus memerintahkan mereka untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Mereka lalu menangkap sejumlah besar ikan. Mengalami keajaiban yang terjadi, mereka lalu menyadari bahwa itu adalah Tuhan Yesus. Peristiwa ini menjadi peringatan bagi para rasul bahwa sebagai penjala manusia, mereka tidak akan dapat menangkap apa-apa jika tanpa bantuan Tuhan. Yesus lalu mengundang mereka untuk sarapan bersama-sama. Sesudah sarapan Yesus memberikan kesempatan kepada Petrus untuk mengungkapkan penyesalannya melalui kasih. Tiga kali penyangkalan Petrus diimbangin oleh tiga kali pernyataan kasihnya kepada Yesus. Karena penyelasan dalam kasih itulah Petrus dipercayakan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Konsekuensinya, ia harus mengalami banyak cobaan.
Konfrontasi antara pemuka Yahudi dengan para rasul mengakibatkan para rasul ditangkap dan di jebloskan dua kali ke dalam penjara. Tetapi mereka dibebaskan secara misterius. Namun itu bukanlah yang terakhir. Mereka harus menghadap Sanhedrin lagi. Kesempatan ini dipakai oleh para rasul untuk memberi kesaksian tentang Yesus. Bagi orang Yahudi, Yesus yang digantungkan pada kayu salib merupakan hukuman dan kutukan. Namun para rasul menegaskan bahwa Allah membangkitkan dan meninggikan Yesus yang dibunuh secara demikian menjadi Penguasa dan Penebus Israel. Nasehat Gamaliel berbicara mengenai kebijaksanaan historis. Namun hal itu merupakan sebuah komentar ironis atas sejarah. Sebab, bagi para rasul kisah dan peristiwa Yesus adalah karya Allah yang jelas, tegas dan pasti! Oleh karena itu, para rasul menegaskan bahwa terhadap hal-hal itu, “kami dan Roh Kudus adalah saksi!”.
Akhir dari penglihatannya yang pertama, Yohanes menyaksikan kejayaan Anak Domba. Tuhan yang menang bertakakhta di surga. Ia telah menciptakan suatu umat Allah yang baru dari semua yang ada di bumi. Himpunan umat Allah yang besar sekali jumlahnya itu memuji-muji Sang Anak Domba: “Anak Domba yang disembelih itu layak menerima kuasa dan kekayaan, hikmat dan kekuatan, hormat,kemuliaan, dan puji-pujian….selama-lamanya”. Pada pujian-pujian ini bergema universalitas pemerintahan Allah dalam penebusan universal yang dimenangkan oleh kematian penyilihan dari Anak Domba.
Sejauh mana aku telah memiliki kepekaan untuk menyadari kehadiran dan daya kasih Allah di dalam diri dan hidupku? Apakah aku sungguh menyadari bahwa tanpa bantuan Tuhan aku tidak bisa berdaya apa-apa? Apakah aku memiliki keyakinan yang teguh akan karya kasih Allah di dalam diri Yesus? Apakah daya kebangkitan Yesus telah menjadi keberanian bagiku untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya? Sejauh mana dan apa wujudnya?
Mari membuka kepekaan hati untuk menyadari dan mengalami daya kasih Allah dalam diri Yesus yang bangkit. Mari berani menjadi saksi kebangkitan Yesus dalam setiap peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments