Suatu Asas Umum.
Adalah sesuatu yang amat buruk bagi seorang biarawati untuk mencari kelegaan dalam penderitaan.(BHF 387)

Membaca renungan Faustina dalam BHF 387 yang sangat singkat itu, aku terpana. Tertulis: “Suatu asas umum: adalah sesuatu yang amat buruk bagi seorang biarawati untuk mencari kelegaan dalam penderitaan.” Ya… aku merasa kalimat itu sangat mengena pada diriku, sebab kali ini Faustina menyebut langsung: seorang biarawati. Kedengarannya agak “kasar”, dengan ungkapan: “sesuatu yang amat buruk.” Apa itu? Aku merenung dan merasa bahwa yang disebut “amat buruk” itu barangkali adalah suatu sikap hati yang dengan kesadaran penuh menghindar, menolak, bahkan melawan penderitaan secara terang-terangan—tanpa usaha untuk setidaknya belajar menerima dan menjalaninya.

Sikap yang terlalu berani menolak penderitaan barangkali sama dengan menolak rahmat Allah yang sering kali justru bekerja kuat di balik derita itu. Juga bisa berarti: menolak apa yang dikehendaki Allah, sekaligus memilih kehendak sendiri—kehendak yang dipenuhi nafsu kesenangan insani, inderawi, dan duniawi. Tentu saja tak seorang pun luput dari penderitaan. Namun, jika sampai seorang biarawati memilih mencari kelegaan dalam penderitaan, Faustina berani berkata: “amat buruk.” Artinya: tak semestinya… tak sepantasnya… tak seharusnya… tak layak untuk menolak derita. Mengapa? Karena sebagai biarawati, ia telah mengikat dirinya dengan ikrar dan janji suci kepada Mempelai-Nya. Bukankah semestinya ia sadar bahwa seluruh hidupnya bukan lagi miliknya sendiri—bukan untuk bertindak atau bersikap sesuka hati? Bukankah dengan sadar ia telah memilih menaklukkan kehendaknya kepada Tuhan?
Dan Tuhan yang ia layani dan cintai adalah Tuhan yang menderita karena cinta yang tak terbatas kepada semua jiwa dan segenap ciptaan. Maka penolakan dengan sadar, atau mencari kelegaan di dalam penderitaan, sungguh tidak pantas. Karena itulah Faustina menamainya: “amat buruk.”

Ada banyak cara mengatasi penderitaan, yang dijelaskan dengan indah oleh Bapak Stefan dalam uraian BHF yang dipaparkan.
Jiwa lemah seorang biarawati—yang barangkali “menjijikkan” karena mencari kelegaan dalam derita—betapa buta mata hatinya untuk mengenal kasih kerahiman Allah yang begitu besar, yang selalu siap memberi kelegaan, meringankan, bahkan membebaskan derita jiwa-jiwa. Aku menangkap barangkali ada sedikit nada “kecewa” pada Faustina ketika melihat jiwa-jiwa biarawati yang demikian. Tentu saja bukan karena benci atau marah, tetapi suatu sikap hati yang “greget”, karena bagi Faustina, para biarawati-lah yang seharusnya berada di garis depan: mengandalkan kasih kerahiman Allah saat derita untuk menghibur Hati-Nya—bukan malah melarikan diri, mengungsi dari derita Tuhan mereka.

Menulis ini sebenarnya cukup berat bagiku. Sempat aku tergoda untuk tidak menulis sejak siang, sebab ada terselip rasa “tertusuk hati” karena dikatakan “amat buruk.” Segitu burukkah sampai demikian? Namun saat pikiran itu muncul, aku merasa diingatkan dengan sangat cepat untuk tetap menulis. Ya—untuk mengingatkan, atau bahkan mempermalukan diriku sendiri, sekiranya ada saat-saat tertentu barangkali memang “amat buruk” ketika aku mencari kelegaan dalam derita. Sejujurnya… iya, benar: ada saat-saat tertentu. Dan terpujilah Tuhan karena kerahiman-Nya.

Hari ini Faustina mengingatkan dengan kata-kata yang tajam dan keras. Seperti pandangan mata Yesus yang tajam padaku: “Masihkah engkau mau mencari kelegaan dalam derita? Untuk apa? Atas dasar apa?” Bukankah selalu ada Tuhan dengan penyertaan-Nya yang abadi dalam setiap situasi, termasuk di tengah derita?

Kalau aku masih demikian, sungguh itu menjadi gambaran jelas tentang kesombongan yang tidak mau mengandalkan Allah di tengah penderitaan.
Keras kata-kata Faustina hari ini, tetapi Yesus mengizinkan itu tetap tertulis dalam BHF untuk mengingatkan jiwaku—jiwa para biarawati yang terlalu nekat dan berani berjalan sendiri di tengah derita, dengan mencari kelegaan, daripada memilih berjalan bersama Tuhan dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Tuhan, jadilah kehendak-Mu.

Aku merinding dan malu menulis renungan ini karena perasaanku campur aduk. Namun tetap aku menulisnya sebagai ungkapan kasihku kepada Tuhan. Aku tahu jalan kelemahanku dan alur hidupku… tetapi aku juga tahu siapa Tuhanku. Aku ingat di akhir tulisan ini: Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mencintai-Mu. Sembuhkanlah aku, sebab aku telah berdosa terhadap-Mu. Kasihanilah aku.
Yesus, Engkaulah andalanku.*hm