Yang juga membuat aku sangat letih adalah bahwa aku harus mencium anak-anak. Ibu-ibu yang aku kenal datang dengan membawa anak-anak mereka dan memintaku memeluk mereka, sekurang-kurangnya sebentar, dan mencium mereka. Mereka memandang ini sebagai suatu berkat yang besar, dan bagiku ini adalah kesempatan untuk mengamalkan keutamaan karena banyak dari anak-anak itu agak kotor. Tetapi, untuk mengatasi perasaanku dan agar aku tidak memperlihatkan kejijikan, aku mencium anak yang kotor dua kali. Salah seorang dari teman-teman ini datang dengan seorang anak yang matanya sakit dan penuh dengan nanah, dan ia berkata kepadaku, “Suster, gendonglah dia sebentar.” Naluriku berongkat, tetapi tanpa memperhatikan apa pun, aku meraih anak itu, menciumnya dua kali tepat pada lukanya sambil memohon kepada Allah untuk meringankan penderitaannya.
Aku memiliki banyak kesempatan untuk mengamalkan keutamaan. Aku mendengarkan orang mencurahkan keluh kesah mereka, dan aku menyaksikan tidak ada hati yang tampak bersukacita karena di antara mereka tidak ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah, dan hal ini sama sekali tidak mengherankan bagiku.
Aku sangat menyesal tidak berjumpa dengan dua saudariku. Dalam hati aku merasakan bahwa jiwa mereka berada dalam bahaya besar. Rasa sakit merayapi hatiku ketika memikirkan mereka. Pernah ketika aku merasa sangat dekat dengan Allah, aku memohon dengan khusyuk kepada Tuhan untuk memberikan rahmat kepada mereka, dan Tuhan menjawab kepadaku, Aku sedang memberi mereka bukan hanya rahmat yang mereka butuhkan, terapi juga rahmat-rahmat istimewa. Aku sadar bahwa Tuhan akan memanggil merrka kepada kesatuan yang lebih erat dengan Dia. Aku bersukacita luar biasa bahwa kasih yang sedemikian besar meraja di tengah keluarga kami. [BHF 401b)
Kisah Faustina hari ini sangat hidup dan menyentuh hatiku. Ia bercerita tentang keletihan yang sangat manusiawi: harus memeluk dan mencium anak-anak yang dibawa para ibu, anak-anak yang secara lahiriah kotor, bahkan ada yang matanya sakit dan penuh nanah. Nalurinya memberontak. Ia tidak menutupinya. Tetapi justru di sanalah Faustina memilih untuk mengamalkan keutamaan. Ia mencium anak yang kotor itu dua kali, bahkan mencium luka anak yang sakit sambil memohon kepada Allah untuk meringankan penderitaannya.
Merenungkan kisah ini, aku semakin mengerti mengapa Yesus menyebut Faustina putri pilihan. Kata-kata Yesus dalam BHF 400—“Aku akan memberikan kepadamu rahmat yang bahkan lebih besar agar sepanjang kekekalan engkau menjadi saksi kerahiman-Ku yang tak terbatas”—menjadi nyata dalam peristiwa ini. Faustina sungguh hidup sebagai saksi kerahiman Allah. Namun yang paling menyentuhku bukan hanya tindakan lahiriahnya, melainkan makna rohaninya. Aku melihat diriku sendiri dalam kisah ini. Seperti anak-anak itu yang mungkin tidak sadar bahwa mereka kotor, demikian pula aku dan banyak jiwa sering datang kepada Allah dengan kekotoran jiwa karena dosa, tanpa sungguh menyadarinya. Namun Allah tidak jijik. Ia tidak menolak. Ia menerima, memeluk, dan menyembuhkan.
Faustina, dalam kisah hari ini, seolah mengambil cara Allah bertindak yakni menerima tanpa syarat, tanpa terlebih dahulu menilai keadaan lahiriah. Ia mengatasi rasa manusiawinya dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ia tidak bertindak menurut selera atau kenyamanan dirinya, tetapi menurut kasih yang berasal dari Allah sendiri. Kisah ini membuat hatiku berdebar. Aku bertanya pada diriku: apa yang kulakukan selama ini terhadap jiwa-jiwa yang “kurang elok” di mataku? Mungkin aku tidak sering berjumpa dengan orang-orang yang kotor secara fisik, tetapi aku hampir setiap hari berjumpa dengan jiwa-jiwa yang memiliki noda kelemahan, sikap, atau luka yang tidak sesuai dengan seleraku. Bagaimana sikapku? Di sanalah aku sering tersandung. Egoku masih kuat berbicara, dan aku lupa mengamalkan keutamaan.
Faustina tidak mengajar dengan kata-kata. Ia hanya menghadirkan pengalamannya. Namun bagiku, ini sudah menjadi rahmat yang besar. Dalam merenungkan kisah ini, seluruh pengalaman hidupku dalam perjumpaan dengan sesama terlintas kembali—bahkan perjumpaanku dengan diriku sendiri. Siapakah aku di hadapan kuasa kasih kerahiman Ilahi? Ya Tuhanku dan Allahku, di hadapan-Mu aku hanya dapat bersujud dan memohon ampun.
Sungguh, hanya kerahiman-Mu yang dapat menyelamatkan aku. Yesus, Engkau andalanku.*hm
Recent Comments