Oh, betapa heran aku sebab segala sesuatu yang dikatakan imam mengenai Kesatuan dengan Allah dan rintangan-rintangan terhadap kesatuan itu telah kualami secara harfiah di dalam jiwaku dan kudengar dari Yesus, yang berbicara kepadaku dalam lubuk jiwaku.
Kesempurnaan ialah kesatuan mesra dengan Allah. (BHF 457)
Kesempurnaan ialah kesatuan mesra dengan Allah.
Merenungkan kalimat singkat uangkapan Faustina dalam SKR hari ini, sederhana, tetapi dalam sekali. Selama ini, ketika mendengar kata kesempurnaan, yang terbayang dalam pikiranku adalah hidup tanpa cacat, tanpa dosa, tanpa kelemahan. Sesuatu yang terasa jauh… bahkan mungkin tidak mungkin kucapai.
Namun hari ini, melalui Faustina, aku diteguhkan dan diluruskan. Kesempurnaan ternyata bukan pertama-tama soal keberhasilanku menjadi baik, kuat, atau tanpa cela… tetapi tentang kesatuanku dengan Allah. Aku merenung… betapa sering aku menunda datang kepada Tuhan karena merasa belum pantas, belum cukup baik, belum mampu. Aku ingin “memperbaiki diri” dulu, baru datang kepada-Nya. Tetapi justru di sinilah aku keliru. Ternyata, bukan aku yang harus menjadi sempurna terlebih dahulu supaya layak bersatu dengan Allah. Justru dalam kesatuan itulah, aku perlahan disempurnakan oleh-Nya. Kesempurnaan bukan hasil usahaku, tetapi buah dari relasiku dengan Allah dan terus-menerus dan intens.
Aku melihat diriku dengan segala keterbatasan, kelemahan, ketidakmurnian hati, dan perjuangan yang sering jatuh bangun. Namun di tengah semua itu, ada kerinduan yang tetap hidup yakni rindu dekat dengan Tuhan, rindu tinggal dalam Dia, seperti yang dialami Faustina da para orang Kudus yang sudah berbahagia di surga.
Hari ini aku diteguhkan Tuhan melalui Fasutina bahwa mungkin justru di situlah jalanku menuju kesempurnaan. Bukan dengan menjadi hebat, tetapi dengan tetap tinggal dekat, bahkan ketika aku merasa tidak mampu. Kesempurnaan bagiku hari ini adalah tetap datang kepada Tuhan, tetap tinggal bersama-Nya, tetap bersandar pada-Nya, mengandalkan-Nya dalam segala hal apa pun keadaanku. Dalam doa, dalam keheningan, dalam pelayanan, dalam jatuh dan bangun, aku belajar untuk tidak menjauh, tetapi justru semakin mendekat, merapat dan melekat kepada Tuhan. Aku percaya, jika aku tinggal di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam aku, di situlah segalanya dipulihkan, disembuhkan, dan diarahkan.
Aku tidak lagi terlalu takut dengan ketidaksempurnaanku, sebab aku tahu, yang Tuhan inginkan dariku bukan pertama-tama kesempurnaan hidup, tetapi hati yang mau bersatu dengan-Nya. Dan di situlah perlahan, tanpa kusadari, Ia sendiri yang menyempurnakan aku.
Yesus, aku tidak mampu menjadi sempurna dengan kekuatanku sendiri. Tetapi aku selalu rindu tinggal dekat dengan-Mu. Biarlah hatiku menjadi tempat kediaman-Mu… sebab di situlah kesempurnaanku. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments