Kesulitan-kesulitan lahiriah adalah penilaian insani dan waktu; orang harus mematuhi waktu yang ditetapkan untuk berdoa. Ini merupakan pengalaman sendiri sebab ketika aku tidak berdoa pada waktu yang ditentukan untuk berdoa, kemudian aku tidak juga melakukannya karena tugas-tugas menghalangi aku atau kalau aku berusaha untuk berbuat demikian, aku hanya dapat melakukannya dengan kesulitan yang besar sebab aku terus memikirkan tugas-tugasku. Aku juga mengalami kesulitan ini: ketika jiwa sudah berdoa dengan baik dan hasilnya ialah suasana renungan batin yang khusyuk, orang-orang lain mengganggu dia dalam keheningan itu. Maka, harus bersabar untuk tetap bertahan dalam doa. (BHF 147)

Kesulitan lahiriah dalam doa begitu nyata. Saya bisa memahami pengalaman kesulitan lahiriah Faustina dalam konteks hidup doa dalam biara yang sudah diatur sedemikian teratur dan ketat dengan keheningan total pada masa itu. Menunda waktu berdoa karena alasan tertentu sebaik apa pun alasannya memang menjadi awal dari kesulitan lahiriah. Mencoba sekali dua kali, lalu akhirnya bisa jadi kebiasaan tidak berdoa sesuai waktu yang ditetapkan. Betapa tidak mudah untuk kembali tertib berdoa. Butuh kebesaran hati, keberanian dan penyangkalan diri. Itulah yang aku alami.

Pada masa kini, tuntutan tugas pekerjaan, karya pelayanan tampak begitu memakan waktu dan energi. Tampak seperti tak terhindarkan, sehingga waktu doa pun dirampok untuk melanjutkan tugas pelayanan. Ada slogan “kerjaku adalah doaku” yang kadang menjadi pintu masuk yang lebar untuk menunda waktu doa bahkan tidak lagi berdoa. Saya kurang setuju slogan tersebut.Saya  masih tetap memilih, doa adalah waktu khusus dan intens untuk Tuhan dan diriku, bukan sementara bekerja atau melakukan aktivitas tertentu dan mengklaim demikian. Meskipun, memang kita dapat mengarahkan hati kepada Tuhan dengan doa-doa singkat ketika sedang beraktivitas. Yesus saja tetap menyediakan waktu khusus untuk berdoa, pagi-pagi benar atau semalam-malaman berdoa, seperti yang akan kita renungkan dalam Injil besok, setelah beraktivitas seharian Yesus pergi berdoa seorang diri.

Kesulitan lahiriah dalam doa selalu ada, tiap-tiap hari yang hadir berbagai bentuk dan sungguh menantang. Jika tidak merefleksi lebih dalam, menganggap kesulitan itu biasa. Jika direflesikan dalam keheningan, memang butuh banyak rahmat keberanian dan kesabaran untuk tetap bertahan dalam doa.

Kesulitan tentang penilaian insani misalnya ketika mengikuti perayaan Ekaristi. Sering kali orang memilih mencari pastor yang disukai yang ramah yang kotbahnya bagus, misa cepat selesai. Penilaian tentang koor, dekorasi altar dll, yang baik adanya karena semuanya itu mendukung. Namun kadang bisa jadi berhenti pada penilaian lahiriah, bukan mencari Tuhan dan berjuang untuk berjumpa Tuhan. Tetapi menjadi komentator terhadap hal-hal sederhana yang bisa mengurangi cita rasa kasih dan kerinduan untuk menjalin relasi intens dengan Tuhan. Roh jahat yang licik dapat menggoda jiwa-jiwa lemah yang lebih memerhatikan hal lahiriah sehingga mengabaikan yang esensial.

Dulu, ketika masih agak muda, seperti itulah saya. Pilih-pilih imam, komentar suka tidak suka dengan lagu anggota koor dan macam-macam. Orang bermazmur tidak boleh keliru atau fals. Saya merasa terganggu. Sampai suatu saat, entah bagaimana saya bertobat dan tidak lagi memerhatikan hal-hal lahiriah. Saya lebih belajar  mau mengerti perjuangan para imam dan petugas liturgi yang telah memersiapkan segalanya. Saya menjadi sadar bahwa semua itu hanya membantu. Kesulitan bukan terletak pada orang lain atau petugas liturgi, tapi pada diriku sendiri yang dangkal pemahaman, kurang iman, gagal fokus pada esensi doa yang sebenarnya. Sakit dalam waktu yang cukup lama di masa lalu, telah menyadarkan saya akan semua itu.

Penilaian insani ini terhadap orang lain, situasi, suasana doa menunjukkan sebenarnya saya tidak berdoa sungguh-sungguh. Secara fisik, raga hadir, tetapi pikiran berkelana sibuk dgn penilaian dan tidak sepenuh hati. Bagiku, kesulitan lahiriah ini akhirnya melahirkan kesulitan batiniah ( kegersangan, kejenuhan, malas,dll), yang kalau dibiarkan semakin serius.

Puji Tuhan, tahap demi tahap dalam perziarahan hidup doa, selalu saja ada rahmat berlimpah.Tuhan dengan cara-Nya yang istimewa akan memberikan rahmat kesadaran, pertobatan, pembaharuan diri. Bagiku, sekolah kita ini merupakan salah satu cara istimewa dan jitu untuk terus belajar berdoa dan membangun relasi yang baik dengan Tuhan.

Tetap berdoa meski banyak kesulitan, tapi tidak pernah boleh menumpuk kesulitan lahiriah terutama penilaian insani. Saya  selalu ingatkan diriku. Saya harus selalu belajar menerima tanpa menghakimi, sehingga hatiku lebih bebas. Saya selalu belajar mohon ampun atas sikap, tindakan, pikiran, perkataan yang tidak berkenan kepada Tuhan dan sesama. Meski masih selalu terjebak dengan waktu, yang membuat doaku seperti terburu-buru dan asal berdoa saja, saya terus belajar untuk bersabar dengan diriku sendiri yang ternyata tidak mudah dibandingkan dgn sabar terhadap orang lain.Sebuah lelucon di biara untuk sekedar saling meningatkan menunda waktu doa, tetap bekerja pada jam doa, itu jam setan. Setan menggoda untuk meninggalkan Tuhan dengan cara halus yakni membuat saya merasa seperti begitu sibuk, sampai tidak punya waktu untuk Tuhan.

Syukur kepada Allah atas kasih karunia dan kerahiman-Nya yang telah selalu mengampuni aku berlaksa kali tanpa batas dan telah menuntunku melalui doa koronka Kerahiman Ilahi, untuk berjuang mengatasi kesulitan lahiriah ini. Mungkin tidak akan lulus sampai napas terakhir, tapi setidaknya, Tuhan tahu perjuanganku untuk belajar mencintai-Nya dengan lebih sungguh. Terima kasih Faustina, kurangkai refleksi sambil membayangkan kesulitanmu dulu, doakan aku selalu. Yesus Kau andalanku.*hm