Injil hari ini Markus 1 : 29 – 39, menghadirkan situasi yang sangat manusiawi. Setelah Yesus menyembuhkan banyak orang, orang-orang mencari Dia. Mereka ingin Yesus tinggal. Mereka merasa aman, tertolong, dan membutuhkan kehadiran-Nya di tempat itu. Namun Yesus justru berkata, “Marilah kita pergi ke tempat lain… sebab untuk itu Aku telah datang.” Keputusan ini bukan lahir dari ketidakpedulian, melainkan dari kesadaran yang jernih akan panggilan. Yesus mendengarkan suara Bapa, dan dari sanalah Ia melangkah.
Saya merenung bahwa pergi dalam terang panggilan Tuhan bukanlah tindakan tergesa-gesa, melainkan buah dari keheningan dan kepekaan mendengar. Yesus tidak pergi karena bosan, tidak juga karena orang-orang kurang penting. Ia pergi karena setia pada kehendak Bapa, dan kesetiaan itu selalu lahir dari kasih. Injil ini mengajarkan bahwa ketaatan sejati menuntut keikhlasan. Ikhlas untuk tidak selalu tinggal di tempat yang nyaman. Ikhlas untuk melepaskan rasa aman dan penghargaan. Ikhlas untuk melangkah, meski tidak semua orang memahami keputusan itu. Pergi karena mendengar suara Tuhan bukanlah pelarian dari tanggung jawab. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk tanggung jawab yang paling dalam—tanggung jawab untuk setia pada perutusan, bukan pada kepuasan diri.
Yesus menunjukkan bahwa kasih tidak selalu diwujudkan dengan tinggal. Kadang kasih justru menuntut keberanian untuk pergi, agar kebaikan Allah menjangkau lebih luas. Pergi bukan berarti meninggalkan orang-orang, tetapi mempercayakan mereka kepada Bapa yang sama. Renungan ini mengajak saya untuk jujur pada diri sendiri:apakah saya masih memberi ruang untuk mendengarkan suara Tuhan dalam keheningan?
Apakah saya siap melangkah ketika Tuhan memanggil, meski itu berarti meninggalkan yang sudah terasa baik?
Ketika Tuhan memanggil untuk pergi, Ia tidak mengutus kita sendirian. Ia berjalan lebih dulu. Dan kepergian yang lahir dari ketaatan dan kasih selalu menjadi bagian dari rencana-Nya yang lebih besar.
Recent Comments