SABTU PASKAH II
Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21.

Bacaan pertama hari ini menampilkan dinamika jemaat perdana. Ketika jumlah murid bertambah, muncul persoalan pelayanan: ada janda-janda yang terabaikan dalam pembagian makanan. Para rasul menyadari bahwa pelayanan harus diatur dengan baik. Maka mereka memilih tujuh orang penuh Roh Kudus dan kebijaksanaan untuk melayani. Dengan demikian, pewartaan firman tetap berjalan, dan pelayanan kasih pun tidak terabaikan. Inilah gambaran Gereja yang hidup: setiap orang mengambil bagian sesuai panggilan, sehingga tubuh Kristus bertumbuh dengan seimbang.

Mazmur hari ini menegaskan bahwa Tuhan setia pada firman-Nya, penuh kasih, dan melindungi mereka yang berharap kepada-Nya. Dialah sumber kekuatan bagi mereka yang melayani, sehingga pelayanan bukan sekadar kerja manusia, melainkan karya Allah yang menyelamatkan.
Para murid berada dalam situasi sulit. Perahu mereka ditempa gelora laut yang mengombang-ambingkan. Pada saat seperti itu, Yesus datang mendekati perahu mereka dan berkata: “Inilah aku, jangan takut! Mereka mempersilahkan Yesus naik ke perahu mereka. Seketika itu juga perahu mereka sampai ke pantai yang mereka tuju. Inilah tanda bahwa Kristus selalu hadir di tengah badai kehidupan, memberi kekuatan dan arah.

Ketika hidupku terombang ambing oleh gelora dan gelombang tantangan yang menghadang apa yang aku lakukan? Apakah aku berani mempersilahkan Yesus untuk naik ke perahu hidupku? Sejauh mana Roh Kudus dan hikmat Allah telah menjadi pedoman hidupku?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi “badai”: persoalan keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan konflik dalam komunitas. Kadang kita merasa kewalahan, seperti para murid di tengah laut. Namun bacaan hari ini mengingatkan bahwa Kristus hadir, menenangkan, dan menuntun kita. Pelayanan pun sering menghadapi tantangan, tetapi bila dilakukan dengan kebijaksanaan dan kesetiaan, pelayanan itu menjadi sarana kasih Allah yang nyata.

Sabtu Paskah II mengingatkan kita bahwa pelayanan sejati lahir dari kesetiaan kepada Kristus, dan keberanian kita ditopang oleh kehadiran-Nya yang menenangkan. Mari kita membuka hati, setia dalam pelayanan, dan percaya bahwa Kristus selalu hadir di tengah badai hidup kita. Mari membuka diri dan hati kita seutuhnya bagi Tuhan dalam Roh-Nya yang menjadi daya yang meneguhkan dan membimbing hidup kita.
Tuhan memberkati.*RD AMT