Tetapi, aku tidak lagi dapat tidur. Pikiranku menjadi sangat letih memikirkan hal-hal yang sudah aku saksikan. Hai jiwa-jiwa manusia, betapa lambat kamu memahami kebenaran! Oh lubuk kerahiman Allah, tercurahlah secepat mungkin atas seluruh dunia sesuai dengan apa yang telah Kaukatakan sendiri. BHF 428
Kalimat terakhir Faustina hari ini bagiku, terasa seperti seruan doa yang mendesak: “Hai jiwa-jiwa manusia, betapa lambat kamu memahami kebenaran! Oh lubuk kerahiman Allah, tercurahlah secepat mungkin atas seluruh dunia.” Aku berhenti lama pada kalimat ini. Benar, Tuhan, kami sungguh lambat memahami kebenaran kasih-Mu. Mengapa lambat? Banyak alasannya. Mungkin karena kami tidak sungguh tahu apa itu kebenaran. Mungkin tahu, tetapi mengabaikannya. Mungkin juga karena kami kurang memohon rahmat, seakan-akan memahami kebenaran ilahi cukup dengan usaha manusiawi semata. Mungkin juga kami kurang iman. Bisa jadi, hati kami belum siap menerimanya.
Faustina dianugerahi rahmat untuk mengenal, memahami, dan mengimani kasih serta kerahiman Allah. Ia bertumbuh cepat karena rahmat itu. Istimewa. Sementara bagiku dan mungkin bagi banyak jiwa, jalan itu panjang, perlahan, penuh jatuh bangun, dan membutuhkan sangat banyak rahmat. Faustina tahu satu hal yang mendasar yakni bahwa tanpa Allah yang mencurahkan rahmat-Nya, tidak akan terjadi apa-apa. Bukan hanya untuk hidup dalam kebenaran , bahkan untuk memahami kebenaran pun kami membutuhkan anugerah. Karena itu doanya tidak berhenti pada keluhan, harapan dan penantian, melainkan berpuncak pada penyerahan:
“Oh lubuk kerahiman Ilahi, tercurahlah secepat mungkin atas seluruh dunia.”
Doa ini bagiku seperti pengakuan iman: Allah sendirilah yang harus bertindak. Tanpa ALLAH, usaha manusia akan mandek. Tanpa Dia, kebenaran tetap jauh. Faustina mengerti: waktu, proses, dan buah semuanya berada dalam tangan Allah.
Merenungkan doa ini, aku semakin sadar akan kerapuhan diriku. Aku tidak mampu apa-apa tanpa rahmat-Nya. Yang bisa kulakukan hanyalah merendahkan diri, belajar mengasihi, belajar bersabar, berdoa tidak jemu-jemu, belajar tekun dan setia melakukan apa yang menjadi bagianku—sambil berharap penuh dan mengandalkan Allah.
Hari ini aku belajar menanti waktu Tuhan: dengan berdoa, berjuang, berserah, dan tetap percaya. Semoga pada waktu yang ditetapkan-Nya, rahmat-Nya tercurah sesuai rencana kehendak-Nya yang sempurna. Dan saat itu tiba, kiranya Tuhan.menemukan iman dan kasih dalam hati kami. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments