SELASA, PEKAN BIASA XXIV, PERINGATAN WAJIB SP. MARIA BERDUKACITA “Maria, Ibu yang Berdukacita, Teladan Ketaatan dalam Penderitaan”
Ibr. 5:7-9; Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35.

Satu hari setalah pesta Salib Suci. Hari ini Gereja mengajak kita untuk mengenangkan “Kedukaan Santa Perawan Maria”. Maria adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari karya agung Allah bagi penyelamatan umat manusia dalam diri Yesus Kristus. Ia selalu setia dan hadir dalam karya Puteranya. Maria menyertai Yesus, Putera-nya dari kelahiran-Nya sampai wafat-Nya di kayu salib. Di bawah salib Yesus itulah keibuannya menjadi paripurna. Ia ibu yang selalu setia…ibu yang penuh duka cita

Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa Yesus, dalam doa dan tangisan, belajar taat melalui penderitaan. Ketaatan-Nya menghasilkan keselamatan bagi semua orang. Maria pun ikut ambil bagian dalam misteri ini: ia taat dalam penderitaan, mendampingi Putranya sampai akhir.
Pemazmur berseru: “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang berdukacita dan berharap pada-Nya. Maria menjadi teladan iman yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meski hatinya ditembus pedang penderitaan.

Injil menampilkan Maria berdiri di bawah salib, menerima amanat Yesus: “Inilah ibumu.” Simeon sebelumnya telah menubuatkan bahwa hatinya akan ditembus pedang. Maria menunjukkan kasih yang setia, tidak lari dari penderitaan, melainkan berdiri teguh bersama Putranya.
Maria mengalami banyak penderitaan dan duka cita sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus. Ia menanggung semua penderitaan itu dengan tabah dan penuh iman. Ia sendiri telah menyatakannya secara bebas ketika ia menerima kabar malaekat tentang kelahiran Yesus: “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Oleh karena itu Gereja mengenang dan memberikan gelar kepada Maria sebagai MATER DOLOROSA, BUNDA DUKA CITA, dan RATU PARA MARTIR. Ia menjadi ibu Tuhan Yesus dan ibu setiap orang beriman. ia ibu yang rela menderita demi kebahagiaan dan keselamatan putera-puterinya.
Sejauh mana aku memiliki keterbukaan hati untuk menerima dan mewujudkan karya belas kasih Allah dalam diriku? Apakah aku telah mewujudkan karunia Roh yang telah aku terima demi kebahagiaan orang lain? Apakah aku memiliki sikap tabah dan penuh iman serta terbuka hati kepada Allah ketika harus mengalami penderitaan?

Mari bersama Maria Bunda Duka Cita…Mater Dolorosa membangun sikap keterbukaan hati dan tabah menghadapi berbagai penderitaan untuk menerima dan mewujudkan belas kasih Allah, menghidupkan karunia Roh Allah yang telah kita terima demi keselamatan semua orang.
Tuhan memberkati. *RD AMT