Pengajarku adalah Maria. Ia selalu mengajar aku bagaimana hidup bagi Allah. Rohku semakin cemerlang berkat kelembutan dan kerendahan hatimu, o Maria. • BHF 620
Pengajarku adalah Maria. Ia selalu mengajar aku bagaimana hidup bagi Allah. Faustina mengakui bahwa pengajarnya adalah Maria. Faustina berguru kepada Bunda Maria. Seluruh teladan hidupnya—kelemahlembutannya, kerendahan hatinya, dan penyerahan dirinya kepada Allah—begitu layak untuk ditiru dan diteladani.Kalau Faustina saja berguru kepada Bunda Maria, aku pun yang sedang belajar tentang kehidupan rohani melalui BHF ini layak datang kepada Maria dan berguru kepadanya.
Yang sangat menyentuh bagiku adalah pengakuan Faustina bahwa Maria selalu mengajarnya bagaimana hidup bagi Allah. Bagaimana hidup bagi Allah bukan sesuatu yang sekali dipelajari lalu selesai. Tetapi sesuatu yang perlu terus-menerus dibentuk dalam diri, diperbarui, dan dihidupi dalam setiap keadaan.
Dalam pengalamanku, rasanya tidak sulit mendekati Bunda Maria: berdoa kepadanya, memohon, berdialog dengannya, dan menaruh harapan kepadanya. Sebagai seorang Ibu yang lemah lembut dan rendah hati, ada ketenangan, kedamaian, dan daya tarik yang istimewa ketika datang kepadanya.
Aku selalu datang kepada Bunda ketika membutuhkan pertolongan—ketika menghadapi kesukaran, memiliki keperluan, atau mengharapkan sesuatu.Tetapi hari ini aku diingatkan Faustina, datang kepada Bunda bukan hanya untuk meminta pertolongan, melainkan untuk berguru. Aku ingin belajar bagaimana Bunda begitu mengasihi Allah, begitu penuh penyerahan diri, dan begitu sungguh melaksanakan kehendak-Nya. Kiranya bukan hanya tangannya yang kuharapkan menolongku, tetapi juga hatinya yang membentukku.
Faustina memiliki relasi yang begitu istimewa dengan Bunda Maria. Dan Bunda pun tentu sangat mengasihi Faustina yang dengan sungguh ingin mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Ada kesesuaian hati di antara keduanya. Karena itu, tidak mengherankan bila Maria begitu dekat dengan Faustina dan terus mengajarinya bagaimana hidup bagi Allah.
Dua hal yang secara khusus disebut Faustina adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati. Tetapi sebenarnya, dari Maria aku ingin belajar lebih dari itu—belajar tentang iman, harapan, kasih, penyerahan diri, kesetiaan, dan bagaimana mengatakan fiat ketika kehendak Allah tidak selalu mudah dipahami.
Sejak kecil, aku selalu terpesona kepada Bunda Maria. Bunda yang terberkati, yang dipilih Allah, tetapi tetap begitu sederhana dan bersahaja. Bunda yang menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan. Keindahan Maria bersinar cemerlang dan semakin besar peran yang dipercayakan Allah kepadanya, semakin dalam kerendahan hatinya.
Aku selalu memiliki keyakinan dan menaruh harapan besar kepada Bunda Maria. Aku mengalami dan merasakan pertolongannya dalam perjalanan hidupku. Ada satu keyakinan yang terus tinggal dalam diriku: jika Allah Bapa, untuk menyelamatkan dunia, memilih Maria menjadi Ibu bagi Putra-Nya, bagaimana mungkin aku mengabaikan peran Bunda yang dipilih sendiri oleh Allah?
Aku selalu membayangkan Yesus kecil sebagai manusia belajar banyak hal dari Maria dan Yosef dalam keseharian hidup di Nazaret—belajar berbicara, bekerja, berdoa, hidup bersama, mengasihi, dan menjalani kehidupan sederhana, berkorban.Kalau Yesus sendiri berkenan hidup dalam keluarga, belajar dan menerima begitu banyak hal melalui Maria dan Yosef, siapakah aku ini jika terlalu percaya diri untuk merasa dapat belajar sendiri?
Hari ini, pada pesta kelahiran Bunda Maria, rasa syukurku terasa semakin dalam. Bersyukur atas kasih Allah kepada dunia yang memberikan Bunda Maria sebagai Ibu dan teladan, guru da sahabat. Aku ingin terus belajar kepada Bunda: belajar semangat hidupnya, imannya, harapannya, kasihnya yang besar kepada Allah, kelembutan hatinya sebagai seorang Ibu, dan kerendahan hatinya yang tiada tara. Bunda Maria, sangat patut diandalkan dalam segala hal. Yesus Engkau andalanku.
Recent Comments