Pada awal Masa Prapaskah ini, saya juga meminta agar pemeriksaan batin khusus diubah.  Maka, aku disuruh melakukan segala sesuatu dengan ujud yang murni yakni untuk memberi penyuluhan bagi para pendosa yang malang.

Ujud ini membuatku tetap dalam kesatuan yang tak terputus dengan Allah, dan ujud itu menyempurnakan kegiatan-kegiatanku karena segala yang kulakukan itu aku lakukan bagi jiwa-jiwa yang tak dapat mati. Segala kerja keras dan keletihan serasa bukan apa-apa ketika aku berpikir bahwa semua itu mendamaikan jiwa-jiwa yang berdosa dengan Allah  •BHF 619

“Segala kerja keras dan keletihan serasa bukan apa-apa ketika aku berpikir bahwa semua itu mendamaikan jiwa-jiwa yang berdosa dengan Allah.” Kalimat Faustina ini sungguh menyentuhku. Saya membayangkan bagaimana ia menjalani pekerjaan, kelelahan, dan berbagai pengorbanan dalam hidupnya. Tetapi yang membuat kelelahan itu terasa berbeda adalah apa yang ada di balik pekerjaan. Ia tidak hanya melihat apa yang sedang dikerjakannya, tetapi melihat lebih jauh yakni bahwa semua itu dapat menjadi penyuluhan bagi para pendosa dan mendamaikan jiwa-jiwa dengan Allah.

Saya coba melihat pengalaman hidup sehari-hari. Ketika bekerja keras, tentu selalu ada motivasi yang membuat mampu bertahan. Ada keinginan untuk berhasil, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, membahagiakan keluarga, membantu anak-anak, memberikan yang terbaik bagi orang lain. Motivasi seperti itu sangat manusiawi dan membuat seseorang memiliki semangat untuk bekerja. Ketika ada tujuan yang ingin dicapai, rasa lelah pun sering tidak terlalu diperhitungkan. Saya kira inilah pengalaman kebanyakan orang.

Tetapi Faustina membawa pengalaman yang sangat biasa itu ke tingkat yang lebih dalam, yakni adanya kesadaran: “Apa yang sedang kulakukan ini dapat kupersembahkan bagi keselamatan jiwa-jiwa.” Ada sesuatu yang baru yang lebih mendalam, bermakna ilahi. Pekerjaan yang sama, kelelahan yang sama, pengorbanan yang sama, dapat mempunyai makna yang berbeda ketika ujudnya berubah.

Saya bisa saja bekerja dengan sungguh-sungguh karena tanggung jawab.Tetapi Faustina menunjukkan bahwa pekerjaan itu masih dapat diperdalam lagi: menjadikannya persembahan bagi Allah dan bagi jiwa-jiwa. Mungkin inilah yang terkandungnya ketika ia mengatakan bahwa segala kerja keras dan keletihan serasa bukanlah apa-apa. Ia tahu untuk siapa ia menanggungnya dan demi apa ia melakukannya.

Faustina seakan memperkenalkan sebuah cara memandang baru: kelelahan tidak hanya ditanggung, tetapi dipersembahkan. Pekerjaan dan pengorban tidak hanya diselesaikan dengan baik, tetapi dapat menjadi bentuk kasih. Kesibukan sehari-hari tidak harus menjadi sesuatu yang memisahkan saya dari Allah. Justru di tengah kesibukan itulah hati dapat tetap bersatu dengan-Nya, ketika ujudnya diarahkan pada keselamatan jiwa-jiwa.

Kelihatan mudah untuk dipersembahkan melalui doa persembahan diri, realitanya tidak mudah, sebab menuntut hati yang lepas bebas, hati yg mencintai Allah dan jiwa-jiwa. Yesus Engkau andalanku