Sekali waktu aku ragu-ragu apakah yang telah terjadi padaku sungguh-sungguh melukai Hati Tuhan Yesus atau tidak. Karena tidak dapat memecahkan keragu-raguan ini, aku memutuskan untuk tidak menyambut komuni sebelum pergi mengaku dosa walaupun aku langsung menyesalinya, sebab sudah menjadi kebiasaanku untuk minta ampun sesudah melakukan pelanggaran yang paling ringan sekalipun.
Selama hari-hari itu, ketika aku tidak menerima komuni kudus, aku tidak merasakan kehadiran Allah. Ini mengakibatkan rasa sakit yang tak terperikan dalam diriku, tetapi aku menanggungnya sebagai hukuman untuk dosaku.
Tetapi, pada saat pengakuan dosa, aku dipersalahkan karena tidak menyambut komuni kudus sebab apa yang terjadi padaku bukanlah suatu halangan untuk menyambut komuni kudus.
Sesudah pengakuan dosa, aku menyambut komuni kudus, dan tiba-tiba aku melihat Tuhan Yesus yang berkata kepadaku, Putri-Ku, ketahuilah bahwa karena tidak menyatukan diri dengan-Ku dalam komuni kudus engkau telah menyebabkan Aku berduka, dan dukacita-Ku karena hal ini lebih besar daripada dukacita-Ku karena pelanggaranmu yang kecil itu. • BHF 612
“Putri-Ku, ketahuilah bahwa karena tidak menyatukan diri dengan-Ku dalam Komuni Kudus engkau telah menyebabkan Aku berduka.” Aku tertegun membaca kata-kata Yesus ini. Faustina takut telah melukai Hati Tuhan karena suatu pelanggaran kecil. Karena tidak yakin, ia memilih tidak menyambut Komuni Kudus sebelum mengaku dosa. Ia sungguh menyesal, bahkan merasa tidak pantas datang kepada Yesus.Tetapi ternyata, justru karena menjauh dari Komuni Kudus, ia membuat Hati Yesus lebih berduka.
Melalui kisah Faustina, aku sedang diajar sesuatu yang sangat dalam tentang kasih ilahi yang nelampaui keadaan berdosaku.
Mwmang dalam suatu masa, kadang aku juga berpikir bahwa kalau aku merasa tidak layak, aku menjauh dari Tuhan. Kalau aku gagal, aku menunggu sampai menjadi lebih baik baru berani datang kepada-Nya.
Padahal Yesus berkata sebaliknya: Datanglah kepada-Ku, kalian yang letih lesu dan berbeban bera (karena dosa) .Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Jangan menjauh. Tentu saja dosa tidak boleh dianggap ringan. Atau menyepelekan dosa-dosa baik dosa ringan, dosa ‘wajib’ yang hampir selalu dilakukaan bahkan tanpa sadar karena karakter buruk yang terpelihara, apalagi dosa berat. Kesalahan harus diakui, disesali, dibangun niat baik dan bila perlu selayaknya dibawa dalam Sakramen Rekonsiliasi.
Tetapi aku belajar bahwa penyesalan yang benar tidak seharusnya membuatku melarikan diri dari Yesus. Justru sebaliknya.
Semakin aku menyadari kepapaanku, semakin aku membutuhkan-Nya.
Faustina begitu takut melukai Hati Yesus karena pelanggarannya. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih menyedihkan bagi-Nya: ketika jiwa yang dikasihi-Nya justru menjauh dan tidak mau menyatukan diri dengan-Nya. Betapa dalam kasih-Mu, ya Yesus, bagi Faustina, bagiku dan bagi semua jiwa.
Mungkin ada saat aku terlalu sibuk memandang ketidaklayakanku sehingga lupa memandang kerinduan Tuhan. Aku melihat dosaku, tetapi Tuhan melihat aku sebagai anak-Nya. Aku melihat kelemahanku, Tuhan melihat jiwa yang membutuhkan rahmat.
Aku melihat betapa tidak pantasnya aku menerima Tuhan dalam komuni kudus, sementara Tuhan justru datang karena tahu aku membutuhkanNya.
Tampaknya perlu aku membedakan antara penyesalan yang membawaku semakin dekat kepada Tuhan dan rasa tidak layak yang justru membuatku menjauh dari Tuhan dengan tidak mau menyambut komuni.
Aku tidak boleh biarkan rasa bersalah membuatku bersembunyi dari Tuhan. Bisa jadi ini godaan setan.
Aku tak boleh biarkan kelemahanku, kesadaranku akan dosa, membuatku putus asa, bisa jadi ini godaan setan, yang membuatku ragu akan kerahiman Allah.
Aku pernah alami seperti Faustina alami dalam BHF ini. Aku juga pernah sekali saja dengan sadar tak mau terima komuni karena merasa tidak layak. Setelahnya hati malah lebih tidak tenang. Mau mengaku dosa malah makin malu, sampai menunggu hati rasa nyaman. Aku sadar betul, sungguh, sekali ikuti godaan setan ini, akan macam-macam hal lain muncul sesudahnya.
Pernah juga aku mengaku dosa yang sama berkali-kali, bukan karena berbuat dosa berkali-kali tetapi aku merasa itulah sumber dari dosa yang lain. Aku mengaku dengan penuh semangat, tapi aku ditegur oleh imam di kamar pengakuan. Seingatku kira-kira begini kata imam padaku : ” Suster sepertinya tidak percaya bahwa Tuhan sudah ampuni dosa suster. Sudah berkali-kali Tuhan ampuni, suster sendiri bawa terus dalam ingatan suster. Suster harus bertobat dari hal ini. Percayalah setiap dosa yang suster akui, sesali dan ada niat baik , Tuhan.sudah ampuni. Aku.terkejut sekali, dan langsung air mataku mengalir. Lanjut pastor itu. Suster harus dalami makna Ekaristi, perbanyak doa dan komuni, Ekaristi adalah sakramen penyembuhan, supaya suster sembuh, hayati sungguh ritus tobat dalam Ekaristi.
Banyak nasihat sesudahnya. Sejak saat itu, saya mengerti dan tahu apa yang barus saya lakukan. Dan saya sungguh berubah sejak saat itu. Ubah cara pandang saya terhadap dosa dsn kerahiman Allah. Terhadap Ekaristi dan sakramen tobat. Puji Tuhan.
Memang saya buat dosa tiap hari, saya periksa batin dan dalam doa tobat atau saya mengaku dalam setiap Ekaristi, saya arahkan sungguh-sungguh dan dengan suara lantang dan hati terarah pada Tuhan, spya saya dilayakan untuk sambut Yesus dalam komuni. Tentu mengaku dosa tetap dilakukan. Sekarang dalam SKR belajar dari Faustina, sesudah komuni berdoa mohon Tuhan tahirkan tanganku, sehatkan bibirku, sehatkan hatiku, sehatkan jiwa ragaku dengan kehadiran-Nya. Sungguh luar biasa.
Tuhan, betapa besar dan agungnya kasih karunia dan kerahiman-Mu untuk.aku yang lemah dan papa ini. Terima kasih, Tuhan.
Yesus, Engkau andalanku
Recent Comments