1 Maret 1936
Hari ini, di misa kudus, saya mengalami suatu kekuatan dan dorongan yang aneh untuk mulai mewujudkan keinginan-keinginan Allah. Aku memiliki suatu pemahaman yang begitu jelas mengenai hal-hal yang telah diminta Tuhan dariku sehingga kalau aku berkata bahwa aku tidak memahami apa yang diminta Allah dariku, aku tentu berbohong karena Tuhan membuat aku mengetahui kehendak-Nya dng begitu jelas dan gamblang sehingga aku tidak mempunyai bayangan cermin sedikit pun mengenai semua itu.

Aku sungguh menyadari bahwa aku tidak boleh menunda lebih lama lagi pelaksanaan keinginan Tuhan demi kemuliaan-Nya dan demi manfaat bagi sejumlah besar jiwa-jiwa; nantinya akan merupakan sikap tak tahu terima kasih yang paling berat, karena Tuhan sedang menggunakan aku, alat yang papa ini, untuk mewujudkan rencana-rencana kerahiman-Nya yang kekal. Sungguh, betapa tidak tahu terima kasihnya kalau jiwaku bersedia menerima Allah lebih lama lagi.

Tidak ada suatu pun yang akan menahan aku lebih lama lagi, entah itu menderita, menderita, cemooh, ancaman, permohonan, kelaparan, kedinginan, bujuk rayu, persahabatan, penderitaan, sahabat atau musuh; entah itu hal-hal yang sekarang aku alami atau hal-hal yang akan datang di masa depan bahkan kebencian neraka – tidak ada suatu pun yang akan menghalangi aku melaksanakan kehendak Allah. • BHF 615a

Aku tidak boleh menunda lebih lama lagi pelaksanaan keinginan Tuhan.”  Tidak boleh ditunda lagi. Ada sesuatu yang sangat kuat dalam kata-kata itu. Bukan sekedar dorongan untuk segera melakukan sesuatu, tapi seperti sebuah keputusan batin ketika kehendak Tuhan sudah semakin jelas, tidak ada alasan lagi untuk terus menunggu.

Aku bertanya kepada diriku sendiri: Berapa banyak hal yang mungkin sudah Tuhan minta dariku, tetapi masih kutunda?
Bukan karena aku tidak tahu.Kadang aku tahu dan mengerti. Aku bahkan sudah merasakan dorongan dalam hati untuk melakukannya.
Tapi aku masih berkata, “Nanti.” Nanti kalau waktunya tepat atau tunggu aku sudah siap. Kalau direnung lebih dalam ternyata, “nanti” bisa menjadi tempat yang sangat nyaman untuk mengenang ketakutan.

Aku juga sadar dan terus belajar bahwa tidak setiap dorongan dalam hati boleh langsung kusebut sebagai kehendak Tuhan. Kehendak-Nya perlu kucari dalam doa, penegasan dengan hati yang jernih dan rendah hati, terbuka terhadap bimbingan dan koreksi. Sebab bisa saja yang kukira kehendak Tuhan ternyata hanya keinginanku sendiri. Dan inilah juga salah satu penyebab “aku menunda melakukan kehendak-Nya, takut salah.”

Tetapi ketika aku sungguh-sungguh telah mengenali dan meyakini keinginannya, aku tidak boleh terus bersembunyi di balik ketakutan. Mencari kehendak Tuhan membutuhkan kerendahan hati; pelaksanaannya membutuhkan keberanian.

Aku sangat tersentuh ketika Faustina menyadari bahwa Tuhan sedang menggunakan dirinya, “alat yang papa ini,” untuk mewujudkan rencana-rencana kerahiman-Nya bagi jiwa-jiwa. Kepapaan bukan alasan untuk menolak dipakai oleh Tuhan. Aku mungkin tidak mampu, tapi Tuhan mampu. Aku mungkin tidak sempurna, tetapi Tuhan dapat berkarya melalui ketidaksempurnaanku. Aku mungkin hanya sebuah alat kecil, tetapi di tangan Tuhan, alat kecil pun dapat menjadi sarana bagi karya kasih-Nya.

Faustina berkata begitu tegas bahwa tidak ada sesuatu pun yang akan menghalanginya melaksanakan kehendak Allah : penderitaan, cemooh, ancaman, bujuk rayu, persahabatan, sahabat, musuh, bahkan hal-hal yang belum terjadi.

Aku berpikir: Apa yang paling sering membuatku bertanya-tanya akankah Tuhan? Kadang-kadang bukan penderitaan yang besar.
Kadang hanya rasa takut.Takut salah. Takut gagal.Takut mengecewakan. Takut tidak dipahami. Takut kehilangan kenyamanan. Kadang takut terkenal, takut disanjung berlebihan. Dan mungkin justru di situlah ketaatan dan kesiapsediaanku diuji.

Aku mau belajar dari Faustina: Tidak menunda kebaikan yang sudah Tuhan percayakan padaku. Jangan menunggu menjadi sempurna atau jadi lebih mudah. Tetapi mulai dari hal kecil yang Tuhan minta hari ini.Sebab mungkin yang Tuhan perlukan bukan kemampuanku yang besar, melainkan kesediaanku yang sederhana.

Kalau aku merasa terlalu lemah, aku akan mengingat seperti Faustina, Memang aku hanyalah alat yang papa.Tetapi Tuhan adalah Allah yang Mahakuasa.Tuhan, pakailah aku. Bimbinglah aku. Murnikanlah niatku untuk berani melaksanakan kehendak-Mu.
Yesus, Engkau andalanku.