S ekali peristiwa, saya bersujud di kapel untuk adorasi lima menit dan berdoa untuk jiwa tertentu.

Pada saat itu, aku mulai mengerti bahwa Allah tidak selalu mengabulkan permohonan-permohonan kita bagi jiwa-jiwa yang kita pikirkan, tetapi menyampaikannya kepada jiwa-jiwa lain.

Jadi, bisa saja doa kita tidak meringankan jiwa-jiwa yang kita lakukan agar dilegakan dalam penderitaan mereka di Purgatorium, tetapi doa kita itu juga tidak sia-sia.  • BHF 621

Pengalaman Faustina dalam BHF 621 ini membuatku merenungkan arti sebuah doa. Ia hanya bersujud di kapel untuk adorasi selama lima menit dan membawa satu ujud yang sangat khusus: berdoa bagi jiwa tertentu. Barangkali di dalam hati ada harapan sederhana bahwa doa itu dapat meringankan penderitaan jiwa yang didoakan.

Namun dalam keheningan adorasi itu, Faustina memperoleh suatu pemahaman yang lebih dalam: Allah tidak selalu mengabulkan permohonan kita tetap bertahan seperti yang kita pikirkan. Doa yang kita tujukan bagi seseorang dapat saja oleh Allah disalurkan kepada jiwa-jiwa lain yang lebih membutuhkan pertolongan-Nya.

Saya merasa ini adalah pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan doa. Ketika mendoakan seseorang, tentu ada harapan bahwa orang itu akan mengalami pertolongan. Ketika berdoa untuk suatu kebutuhan, ada harapan agar Allah segera bertindak sesuai dengan apa yang dimohonkan. Pengalaman Faustina mengajarkanku bahwa doa bukanlah kesempatan untuk mengatur bagaimana Tuhan bertindak berdasarkan keinginanku. Doa justru kesempatan mengenal kehendak Tuhan. Aku datang membawa permohonan, tetapi Allah mengetahui apa yang tidak kuketahui. Ia melihat kebutuhan yang tidak kulihat serta mengetahui jiwa-jiwa yang mungkin sedang sangat membutuhkan rahmat-Nya. Jika Tuhan menghendaki demikian terpujilah nama Tuhan.

Berbahagialah yang selalu setia dan tekun berdoa tanpa perlu melihat hasilnya. Mungkin doa tidak mencerahkan jiwa yang secara khusus kusebutkan dalam doaku. Bisa jadi aku tidak pernah tahu kepada siapa rahmat itu diberikan. Tetapi aku percaya, di tangan Allah tidak ada doa yang hilang. Doa yang keluar dari hati dan dipersembahkan dengan kasih tetap menjadi yang terpampang di hadapan-Nya.

Saya tidak perlu mengetahui hasil setiap doaku. Juga tidak perlu melihat bahwa orang yang kudoakan langsung mengalami pertolongan. Apalagi doa untuk jiwa-jiwa di purgatorium, saya tidak pernah tahu apakah jiwa yang kudoakan sudah bersatu dengan Tuhan di surga. Dalam iman, aku hanya perlu setia, penuh kasih, dan sungguh-sungguh membawa mereka kepada Tuhan dan menyerahkan hasilnya kepada kebijaksanaan serta kerahiman-Nya. Aku percaya akan kasih dan kerahiman Allah bagi mereka.

Faustina belajar bahwa Allah dapat menyampaikan rahmat doa jiwa kepada-jiwa lain. Aku pun ingin belajar melepaskan keinginanku yang terkadang ingin mengatur hasil pekerjaanku. Aku datang kepada Tuhan dengan ujudku, namun sesudahnya biarlah Tuhan yang menentukan kepada siapa rahmat itu diberikan.

Saya merasa yang terpenting bukan apakah doaku menghasilkan sesuatu yang dapat kulihat, tetapi doa itu sendiri apa pun motivasi dan ujudnya, kiranya semakin membaharui hubunganku dengan Tuhan. Aku harus selalu belajar percaya bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan doa yang dipersembahkan kepada-Nya. Tuhan maha baik, tentu dengan sangat baik melimpahkan kebaikan kepada siapa saja yang mengharapkan kasih dan kebaikan-Nya. Aku bisa berharap, boleh meminta, memohon, tapi rahmat tetap berada di tangan-Nya yang penuh kuasa.

Aku tidak boleh berhenti berdoa hanya karena belum melihat jawaban. Aku ingin tetap bersujud, tetap menyebut nama-nama yang dipercayakan kepadaku, tetap membawa kebutuhan dan penderitaan jiwa-jiwa kepada Tuhan dan membiarkan doa itu berjalan menurut jalan yang dikehendaki-Nya.

Aku juga tidak pernah tahu siapa yang akhirnya disentuh oleh doaku. Tetapi aku percaya dalam Kerahiman Allah tidak ada doa yang sia-sia. Bahkan sebelum berguna untuk orang atau jiwa lain, sudah sangat berguna bagi jiwaku sendiri. Iman, harap dan cintaku kepada Tuhan bersemi, bertumbuh melalui waktu yang kuberikan untuk melompat dengan Tuhan dalam doa-doa. Sungguh, doa kita toh tidak sia-sia. Terima kasih Faustina kisahmu meneguhkan aku untuk tidak jemu-jemu berdoa. Yesus Engkau andalanku.